JawaPos.com - Ketika Vinicius Jr. gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-43 dalam laga melawan Valencia, ekspresi Xabi Alonso langsung berubah muram.
Pemain Brasil itu diketahui menunjuk dirinya sendiri sebagai eksekutor penalti dengan restu dari Kylian Mbappé, yang sejatinya merupakan penendang utama pilihan pertama.
Kesepakatannya sederhana: Mbappé tetap menjadi algojo utama, namun ia bersedia menyerahkan penalti berikutnya jika ada lebih dari satu kesempatan dalam satu pertandingan.
Baca Juga: Xabi Alonso: Duel Klasik di Anfield, Real Madrid Siap Hadapi Liverpool!
Sejauh ini, aturan tak tertulis itu berjalan baik, setidaknya sampai kegagalan Vinicius di Mestalla kemarin.
Masalahnya, kesepakatan tersebut tidak datang dengan persetujuan Xabi Alonso, melainkan dari kesepakatan pribadi di ruang ganti. Hal itu menimbulkan tanda tanya besar di internal Real Madrid.
Banyak Penalti, Tapi Tidak Ada Kepemimpinan
Melansir Mundo Deportivo, Los Blancos tercatat sudah mendapatkan sembilan penalti musim ini—enam di La Liga dan tiga di Liga Champions.
Namun setiap kali wasit menunjuk titik putih, bukan hanya lawan yang merasa gugup. Pemain-pemain Madrid sendiri tampak tidak sepenuhnya yakin siapa yang akan mengambil bola dan menendangnya.
Setelah kegagalan Vinicius di laga kontra Valencia, Real Madrid kini menorehkan dua kegagalan penalti beruntun dalam dua pekan terakhir.
Sebelumnya, Mbappé juga gagal mencetak gol di El Clásico setelah tendangannya ditepis dengan brilian oleh Wojciech Szczęsny.
Kegagalan ini membuat publik dan media mulai mempertanyakan peran serta kepemimpinan Xabi Alonso dalam menentukan eksekutor resmi penalti di skuadnya.
Baca Juga: Update Liga Champions: Real Madrid vs Liverpool, Prediksi dan Statistik Terbaru!
Dulu Jarang Ada Keraguan
Era Cristiano Ronaldo, Sergio Ramos, hingga Karim Benzema meninggalkan tradisi yang tegas soal siapa algojo utama penalti Madrid. Tak pernah ada perdebatan di lapangan, siapa pun tahu siapa yang akan maju.
Namun sejak kepergian Benzema, tanggung jawab itu seolah berpindah-pindah. Vinicius, Modric, Bellingham, hingga Mbappé pernah mendapat giliran, tanpa ada kejelasan siapa yang benar-benar ditunjuk sebagai penendang tetap.
Kini, dengan Mbappé sebagai bintang utama dan pemimpin baru di ruang ganti, logikanya posisi itu seharusnya milik sang pemain Prancis.
Ia memang dikenal lebih ramah dan kurang dominan dibanding sosok seperti Cristiano Ronaldo, tapi demi stabilitas tim, sepertinya sudah saatnya ia mengambil peran penuh sebagai algojo utama.
Dalam konteks yang lebih luas, satu gol mungkin tak berarti banyak di pekan ke-11. Namun saat semifinal Liga Champions atau laga final nanti, satu penalti bisa jadi pembeda antara juara dan yang kalah.
Selain itu, faktor personal juga tak bisa diabaikan. Mbappé kini sedang dalam performa terbaiknya, mencetak 13 gol dalam 11 laga. Itu catatan terbaik dalam kariernya, bahkan melebihi masa-masanya di PSG.
Secara matematis, beberapa analis bahkan memperkirakan ia bisa menembus 50 gol per musim, setara dengan rekor yang pernah ditorehkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Dan untuk mencapai itu, setiap penalti tentu sangat berarti.
Maka, pada akhirnya, meski ruang ganti Real Madrid masih menyimpan perdebatan kecil soal siapa yang pantas mengambil penalti, semua tanda tampaknya mengarah ke satu nama: Kylian Mbappé, sang terpilih.