← Beranda
Konflik FIFA dan UEFA Memuncak, Aleksander Čeferin Boikot Final Piala Dunia 2026
Leni Setya WatiKamis, 23 Juli 2026 | 03.42 WIB
alexander ceferin (x @polymarketsport)

JawaPos.com – Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina tidak hanya menghadirkan persaingan di atas lapangan, tetapi juga memperlihatkan hubungan antara FIFA dan UEFA.

Sorotan tertuju pada absennya Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, dari tribun VIP, sebuah keputusan yang disebut sebagai buntut dari serangkaian perselisihan dengan FIFA.

Menurut laporan The Chosun, Čeferin memilih tidak menghadiri partai final karena ketidaksepakatan yang terus berlanjut mengenai prosedur disipliner, pengelolaan wasit, hingga operasional turnamen.

Baca Juga: An Se Young Mundur dari China Open 2026 karena Cedera, Fokus Pulihkan Kondisi Jelang Kejuaraan Dunia

Meski tidak memberikan penjelasan secara terbuka, sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebut hubungan kedua organisasi semakin memburuk dalam beberapa pekan terakhir.

Salah satu pemicu utama adalah keputusan FIFA membatalkan hukuman skors otomatis terhadap penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Setelah menerima kartu merah, Balogun seharusnya menjalani larangan bermain satu pertandingan. Namun, FIFA menghentikan pemberlakuan sanksi tersebut sehingga ia tetap dapat tampil menghadapi Belgia di babak 16 besar.

UEFA menilai langkah itu telah melanggar prinsip disipliner dan berpotensi menciptakan preseden yang merusak integritas kompetisi.

Selain itu, ketegangan juga dipicu oleh wasit asal Somalia, Omar Abdulqadir Artan, yang gagal bertugas di Piala Dunia karena tidak memperoleh visa masuk ke Amerika Serikat.

UEFA kemudian menunjuk Artan sebagai wasit Piala Super UEFA antara Paris Saint-Germain dan Aston Villa pada Agustus mendatang.

Selain itu, sejumlah pihak di Eropa juga mengkritik FIFA terkait penanganan pertandingan yang melibatkan Iran dan berbagai persoalan geopolitik yang dinilai belum ditangani secara konsisten.

Tak hanya soal disiplin dan perwasitan, kedua organisasi juga berbeda pandangan mengenai penyelenggaraan turnamen.

FIFA menerapkan jeda minum wajib akibat cuaca panas di Amerika Utara serta memperpanjang durasi jeda babak pertama pada laga final.

Meski FIFA menyebut kebijakan tersebut demi keselamatan pemain, UEFA dikabarkan tidak nyaman dengan perubahan yang dilakukan secara sepihak tanpa koordinasi yang memadai.

Di tengah konflik tersebut, Spanyol berhasil mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu untuk meraih gelar Piala Dunia keduanya.

Namun di balik keberhasilan itu, kursi kosong Presiden UEFA di tribun kehormatan menjadi simbol retaknya hubungan dua organisasi terbesar sepak bola dunia.

Dengan agenda besar seperti Piala Super UEFA, reformasi kompetisi antarklub, dan kalender internasional yang semakin padat, perselisihan antara FIFA dan UEFA diperkirakan masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan.

EDITOR: Hanny Suwindari