← Beranda
Final Piala Dunia 2026 Tak Bikin Deg-degan, Luis de la Fuente Malah Cemas Naik Helikopter
Aprillia JPSabtu, 18 Juli 2026 | 23.22 WIB
Luis de la Fuente tidak gentar hadapi Argentina, lebih takut naik helikopter. (Instagram/@sefutbol)

 

JawaPos.com - Berhasil menembus final Piala Dunia 2026, kapten Timnas Spanyol Rodri mengungkapkan bahwa pencapaian itu merupakan hasil dari proses panjang yang telah dibangun tim selama beberapa tahun terakhir. Keberhasilan menjuarai UEFA Nations League 2023 dan Piala Eropa 2024 disebut menjadi fondasi penting bagi performa impresif Spanyol di turnamen kali ini. 

Saat ini, Spanyol akan menghadapi sang juara bertahan, Argentina, dalam laga puncak yang digelar di MetLife Stadium, Amerika Serikat pada Senin (20/7). “Kami berkembang secara bertahap. Kami harus terus melakukan hal yang sama karena ini merupakan proses selama lima tahun,” ujar Rodri dikutip dari ESPN.

Sepanjang perjalanan menuju final, Spanyol tampil solid, terutama di lini pertahanan. Dari tujuh pertandingan yang telah dijalani, La Roja hanya kebobolan satu gol. Salah satu performa terbaik ditunjukkan saat mengalahkan Timnas Prancis dengan skor 2-0 di semifinal. Hal itu menjadikan kemenangan itu sebagai kemenangan ketiga beruntun Spanyol atas Prancis.

Baca Juga: Prediksi Final Piala Dunia 2026: Spanyol Lebih Diunggulkan, Argentina Siap Pertahankan Gelar Juara

Setelah sempat ditahan imbang oleh Tanjung Verde di laga pembuka, Spanyol bangkit dengan mencatat agregat gol 13-1 dari semua lawannya. Rodri yang meraih Ballon d’Or 2024 pun menegaskan bahwa kekuatan utama Spanyol terletak pada fleksibilitas taktik. 

Pemain berusia 30 tahun itu menolak anggapan bahwa timnya hanya memiliki satu gaya bermain. “Kami bisa beradaptasi, bertahan, menyerang balik, atau menguasai permainan. Kami adalah tim yang sangat komplet dan itu alasan kami berada di sini,” jelas Rodri.

Meski terinspirasi oleh keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010, Rodri menekankan fokus tim saat ini ialah peningkatan performa. Rodri bahkan menilai laga semifinal melawan Prancis sebagai salah satu penampilan terbaik tim. “Menurut saya, saat melawan Prancis, kami menampilkan salah satu permainan terbaik kami sebagai sebuah tim. Namun, saat menghadapi Argentina, saya rasa kami harus meningkatkan level permainan karena mereka adalah sang juara.,” katanya.

Baca Juga: Daftar Final Piala Dunia FIFA 1930-2022: Timnas Spanyol atau Argentina Juara pada 2026?

Sementara itu, kondisi Lamine Yamal sempat menjadi perhatian setelah terlihat membalut paha kirinya saat latihan. Namun, pelatih Luis de la Fuente memastikan pemain berusia 19 tahun itu dalam kondisi prima. “Ia berlatih bersama rekan-rekannya hari ini dan dalam kondisi optimal,” ujar De la Fuente.

Yamal yang kerap disebut sebagai calon penerus Lionel Messi, berpotensi mencuri perhatian. Namun, sang pelatih menegaskan bahwa pemain mudanya tidak perlu memikirkan perbandingan itu. “Lamine harus menjadi dirinya sendiri. Messi adalah pemain yang muncul sekali dalam sejarah dan ia merupakan contoh serta panutan bagi kaum muda dan para pemain yang lebih muda,” kata De la Fuente.

“Saya bersikeras bahwa Lamine harus tetap menjadi dirinya sendiri, Lamine Yamal, dan cara terbaik kita mendukungnya ialah dengan membantunya menjadi sosok seperti yang kita kenal saat ini, karena ia memiliki potensi dan masa depan yang luar biasa,” tambah De la Fuente.

Pelatih Spanyol itu pun mengaku tidak merasa terbebani oleh tekanan pertandingan yang besar. De la Fuente justru berseloroh bahwa satu-satunya hal yang membuatnya gugup ialah perjalanan kembali menggunakan helikopter dari New York ke New Jersey. “Kami tiba di sini dengan helikopter dan harus kembali menggunakan helikopter juga dan hal itu membuat saya sangat cemas. Untuk hal-hal lainnya, saya merasa tenang,” ujarnya.

Partai final ini diprediksi akan berlangsung sangat menarik karena ada kisah unik di balik hubungan antarbintang dan antarpelatih dari dua negara itu. Yamal akan menghadapi idolanya, Messi, yang sempat memandikannya waktu bayi. Sementara itu, duel strategi antara pelatih Spanyol Luis de la Fuente dan pelatih Argentina Lionel Scaloni juga menambah lapisan cerita tersendiri, mengingat keduanya memiliki keterkaitan sebagai guru dan murid.

EDITOR: Edi Yulianto