JawaPos.com — Pertemuan Prancis melawan Spanyol pada semifinal Piala Dunia 2026 tak hanya menghadirkan duel dua raksasa Eropa, tetapi juga menghidupkan kembali kisah unik Luis Fernandez.
Lahir di Tarifa, Spanyol, tetapi tumbuh besar di Prancis, Fernandez menjadi simbol ikatan kuat kedua negara setelah sukses mengantarkan Les Bleus menjuarai Euro 1984.
Nama Luis Fernandez begitu lekat dalam sejarah sepak bola Prancis.
Mantan gelandang berusia 66 tahun itu menjadi bagian dari generasi emas Les Bleus yang dipimpin Michel Platini saat menjuarai Piala Eropa 1984, sebelum melanjutkan karier sebagai pelatih di sejumlah klub besar seperti Paris Saint-Germain, Athletic Club, Espanyol, Real Betis, hingga tim nasional Israel.
Lahir di Spanyol, Tumbuh dan Bersinar Bersama Prancis
Luis Fernandez memiliki kisah hidup yang berbeda dari kebanyakan legenda sepak bola Prancis.
Ia lahir di Tarifa, wilayah selatan Spanyol, tetapi pindah ke Prancis bersama ibu serta saudara-saudaranya ketika baru berusia lima tahun setelah sang ayah meninggal dunia.
Prancis kemudian menjadi tempat yang mengubah hidupnya.
Fernandez mengaku keluarganya diterima dengan baik, memperoleh kesempatan untuk tumbuh, bekerja, dan membangun kehidupan baru hingga akhirnya ia memilih membela tim nasional Prancis sepanjang karier profesionalnya.
"Saya selalu mengatakan kalau saya menganggap diri saya orang Prancis, karena saya bermain untuk Les Bleus dan memiliki kewarganegaraan Prancis," ujar Fernandez dikutip dari laman resmi FIFA, Selasa (14/7/2027).
Meski demikian, Spanyol tetap memiliki tempat istimewa di hatinya. Ia mengaku masih sering mengunjungi Tarifa karena sebagian keluarganya masih tinggal di sana.
"Setelah Prancis, Spanyol adalah negara favorit saya untuk dikunjungi," tambahnya.
Tetap Mendukung Prancis, tetapi Tak Menutup Rasa Cinta kepada Spanyol
Latar belakang tersebut membuat Fernandez memiliki sudut pandang yang unik menjelang semifinal Piala Dunia 2026.
Hatinya memang berpihak kepada Prancis, tetapi ia juga mengaku akan ikut bahagia jika Spanyol berhasil menjadi juara dunia.
"Saya mendukung Prancis menjuarai Piala Dunia. Tetapi jika Spanyol menyingkirkan mereka dan akhirnya menjadi juara, saya juga akan ikut senang," katanya.
Fernandez menilai kedua negara saat ini sama-sama memiliki kualitas untuk mengangkat trofi.
Menurutnya, Prancis memiliki skuad yang sangat kuat, sedangkan Spanyol tampil konsisten sejak menjadi juara Eropa dua tahun lalu di bawah arahan Luis de la Fuente.
Pujian Tinggi untuk Didier Deschamps
Dalam wawancara tersebut, Fernandez juga memberikan dukungan penuh kepada pelatih Prancis Didier Deschamps.
Baca Juga: Daftar Pemain Cedera Prancis vs Spanyol di Piala Dunia 2026: Les Bleus Terancam Krisis Lini Tengah!
Keduanya pernah sama-sama memperkuat Les Bleus sehingga ia mengenal karakter mantan gelandang Juventus tersebut dengan sangat baik.
Fernandez mengaku tidak pernah memahami kritik yang kerap diarahkan kepada Deschamps.
Baginya, rekam jejak sang pelatih sudah membuktikan kualitasnya, mulai dari menangani AS Monaco, Juventus, Olympique Marseille hingga membawa Prancis menjadi juara Piala Dunia serta kembali mencapai final pada edisi berikutnya.
"Saya sangat mengagumi Didier Deschamps. Saya menyukai karakternya dan saya berharap bisa memberi selamat kepadanya jika berhasil memenangkan Piala Dunia ini," ungkap Fernandez.
Tradisi Gelandang Spanyol Selalu Membuatnya Kagum
Meski mendukung Prancis, Fernandez mengaku selalu menikmati gaya bermain Spanyol, terutama kualitas para gelandang mereka.
Menurutnya, identitas sepak bola Spanyol dibangun melalui dominasi lini tengah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Prediksi Semifinal Prancis vs Spanyol: Final yang Terlalu Cepat!
Ia menyebut nama Sergio Busquets, Xavi Hernandez, Andres Iniesta hingga Rodri sebagai contoh gelandang yang mampu mengendalikan jalannya pertandingan melalui kemampuan teknik dan kecerdasan membaca permainan.
Fernandez bahkan mengaitkan tradisi tersebut dengan pengaruh besar Johan Cruyff yang mengubah Pep Guardiola menjadi gelandang bertahan bertipe pengatur permainan.
Dari sana, menurutnya, lahirlah generasi penerus seperti Busquets hingga Rodri yang tetap mempertahankan filosofi sepak bola Spanyol.
"Saya selalu mengagumi tipe pemain seperti itu karena kemampuan teknik mereka, cara mengontrol bola, dan kemampuan mengatur tempo pertandingan," jelasnya.
Ia juga memuji pekerjaan Luis de la Fuente yang dinilai berhasil membangun kembali kekuatan Spanyol.
Setelah menjadi juara Euro 2024, La Roja kini kembali menjadi kandidat kuat juara Piala Dunia 2026 berkat kombinasi pemain muda dan senior.
Berharap Semifinal Menjadi Pertunjukan Terbaik
Bagi Fernandez, duel Prancis melawan Spanyol seharusnya menjadi pesta sepak bola, bukan sekadar pertarungan memperebutkan tiket final.
Ia berharap kedua tim mampu mempertontonkan permainan terbuka dengan kualitas teknik tinggi serta tetap menjunjung sportivitas.
"Saya ingin meninggalkan stadion dengan perasaan telah menyaksikan pertandingan yang luar biasa,” tuturnya.
“Saya berharap kedua tim bermain menyerang, penuh peluang, saling menghormati, dan menghadirkan momen-momen hebat yang akan dikenang para suporter.”
Harapan itu terasa realistis mengingat kedua tim memang tampil impresif sepanjang Piala Dunia 2026.
Prancis melaju dengan pertahanan yang kokoh, sedangkan Spanyol kembali menunjukkan identitas permainan berbasis penguasaan bola dan kreativitas lini tengah.
Di balik persaingan menuju final, kisah Luis Fernandez menjadi pengingat bahwa sepak bola kerap melampaui batas negara.
Lahir sebagai orang Spanyol, dibesarkan di Prancis, lalu menjadi juara Eropa bersama Les Bleus, Fernandez menjadi jembatan emosional yang membuat semifinal Prancis kontra Spanyol memiliki cerita yang jauh lebih dalam daripada sekadar hasil di atas lapangan.