← Beranda
Ketua Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina Buka Suara, Bantah Tuduhan Bias di Laga Argentina vs Mesir
Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 11 Juli 2026 | 00.56 WIB
Ketua Komisi Wasit FIFA Pierluigi Collina tanggapi aksi protes Federasi Sepak Bola Mesir. (FIFA/Situs InsideFIFA).

 

 

JawaPos.com - Ketua wasit FIFA Pierluigi Collina, akhirnya buka suara terkait kontroversi pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir.

Collina menegaskan seluruh perangkat pertandingan bekerja secara independen dan membantah keras tuduhan adanya keberpihakan kepada Argentina.

Pernyataan itu disampaikan Collina dalam wawancara yang dipublikasikan di situs resmi FIFA, Kamis (9/7/2026).

Ia menyebut kritik terhadap keputusan wasit merupakan bagian dari sepak bola, tetapi tuduhan yang mempertanyakan integritas wasit tidak memiliki tempat dalam olahraga tersebut.

"Dengan jumlah pertandingan yang sangat banyak dalam waktu yang relatif singkat, wajar jika ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai harapan," ujar Collina.

"Ketika itu terjadi, para wasit siap bekerja lebih keras agar benar-benar siap menghadapi pertandingan berikutnya."

Collina menegaskan diskusi yang bersifat konstruktif mengenai keputusan wasit tetap diperbolehkan. Namun, ia menilai tuduhan tanpa dasar justru berbahaya.

"Tentu saja, diskusi konstruktif mengenai keputusan akan selalu menjadi bagian dari sepak bola, tetapi tuduhan yang tidak berdasar tidak memiliki tempat dalam olahraga kita," tegasnya.

Menurut Collina, tuduhan seperti itu berpotensi memicu ancaman terhadap keselamatan wasit beserta keluarganya.

"Tidak seorang pun dapat mempertanyakan integritas wasit Piala Dunia FIFA. Begitu pula, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa kepemimpinan wasit FIFA dapat dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino," kata Collina.

"Para wasit mengambil keputusan secara jujur dan, sama seperti pemain maupun pelatih, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik."

Kontroversi ini bermula setelah Argentina bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk mengalahkan Mesir dengan skor 3-2 pada babak 16 besar. Gol kemenangan Argentina dicetak Enzo Fernandez pada masa injury time.

Usai pertandingan, pelatih Mesir Hossam Hassan menuding ada tekanan kepada wasit agar Argentina tetap bertahan di turnamen. Ia bahkan menyebut Mesir telah "dicurangi" sehingga gagal melaju ke perempat final.

Federasi Sepak Bola Mesir juga melayangkan kritik terhadap penggunaan Video Assistant Referee (VAR). Mereka menilai sistem tersebut digunakan secara tidak tepat dalam pertandingan tersebut.

Mesir mempersoalkan keputusan VAR yang membatalkan gol babak kedua milik Mostafa Zico. Menurut mereka, pelanggaran yang menjadi dasar pembatalan gol sebenarnya tidak pernah terjadi.

Selain itu, kubu Mesir juga kecewa karena insiden yang melibatkan Mohamed Salah tidak dianggap sebagai pelanggaran sesaat sebelum Argentina mencetak gol kemenangan.

Menanggapi protes tersebut, Collina memastikan VAR telah menjalankan prosedur sesuai aturan.

Ia menjelaskan tayangan ulang memperlihatkan adanya pelanggaran yang dilakukan Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dalam fase serangan sebelum gol tercipta.

"Kami meyakini bahwa pelanggaran tetaplah pelanggaran. Terlepas dari apakah pelanggaran itu terlihat 'jelas' atau tidak, jika wasit tidak melihatnya di lapangan, VAR berhak melakukan intervensi," jelas Collina.

Ia juga membela keputusan wasit yang tidak memberikan penalti kepada Mesir menjelang gol kemenangan Argentina.

Menurutnya, baik wasit maupun VAR menilai kontak antara Salah dan Julian Alvarez masih termasuk kontak normal dalam permainan.

"Menginjak kaki lawan adalah pelanggaran. Namun jika pemain bertahan lebih dulu menyentuh bola lalu terjadi kontak normal, maka itu bukan pelanggaran," ujar Collina.

Baca Juga: 7 Keputusan Paling Kontroversial dalam Sejarah Piala Dunia FIFA yang Masih Diperdebatkan hingga Saat Ini

Meski mengakui beberapa keputusan dalam sepak bola tetap memiliki unsur subjektivitas, Collina menegaskan FIFA puas terhadap penerapan prinsip-prinsip VAR sepanjang Piala Dunia 2026. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan