← Beranda
Jurgen Klopp Kritik Donald Trump dan Gianni Infantino Soal Pembatalan Kartu Merah Folarin Balogun
M Shofyan Dwi KurniawanJumat, 10 Juli 2026 | 13.35 WIB
Jurgen Klopp. (Liverpool)

 

JawaPos.com - Jurgen Klopp menjadi salah satu tokoh sepak bola terbaru yang melontarkan kritik keras terhadap keputusan FIFA yang membatalkan hukuman kartu merah Folarin Balogun jelang laga Amerika Serikat menghadapi Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Kontroversi bermula ketika Balogun dipastikan tetap bisa tampil setelah hukuman larangan satu pertandingan akibat kartu merah yang diterimanya saat melawan Bosnia dan Herzegovina ditangguhkan.

Keputusan tersebut memicu polemik karena disebut terjadi setelah adanya intervensi politik dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Trump bahkan secara terbuka mengklaim dirinya berperan besar dalam keputusan tersebut.

Baca Juga: Micah Richards Sebut Para Pengkritik Cristiano Ronaldo Bersikap Munafik

"Sayalah yang membuat mereka melakukannya," kata Trump dalam pidatonya di Gedung Putih.

“Saya melihat pertandingan itu, dan saya adalah orang yang menyukai olahraga. Itu bukan pelanggaran. Itu bahkan bukan pelanggaran ringan. Wasit ini - yang agak mencurigakan jika Anda memeriksa rekam jejaknya - membuat keputusan yang tidak dapat dipercaya siapa pun. Dia adalah pemain terbaik kami, atau salah satu pemain terbaik kami, dan dia diberi kartu merah."

"Saya sama sekali tidak tahu apa itu kartu merah. Saat saya tahu, saya berkata: 'Ini pasti bercanda!'"

Baca Juga: Alasan Lionel Messi Lebih Suka Jalan Kaki daripada Berlari Saat Bertanding 

“Bagaimana perasaan Anda jika kami mengeluarkan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Harry Kane? Kami memiliki pemain terbaik kami, dan mereka juga harus memberikan yang terbaik, dan baik kami menang atau kalah, itu adil.”

Keputusan tersebut langsung memancing kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai pembatalan hukuman Balogun menjadi preseden buruk bagi independensi FIFA dan penerapan aturan disiplin di sepak bola internasional.

Baca Juga: Prancis Melesat ke Semifinal Usai Tekuk Maroko 2-0, Mbappe: Jalan Kami Masih Panjang!

Klopp: Ini Olahraga Kami, Bukan Arena Politik

Melansir Sport Bible, Jurgen Klopp menjadi salah satu sosok yang paling vokal menyuarakan penolakannya. Pelatih asal Jerman itu menyebut hubungan antara Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino dalam kasus tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima.

"Ini olahraga kami, bukan olahraga mereka," kata Klopp.

“Jika Donald Trump dan Gianni Infantino benar-benar menyelesaikan masalah ini di antara mereka sendiri, itu gila; itu mempertanyakan segalanya.”

Klopp menilai keputusan seperti ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap integritas sepak bola.

Baca Juga: Mbappe dan Dembele Bawa Prancis Tekuk Maroko, Klaim Tiket Semifinal Piala Dunia 2026!

Gelombang Kritik Terus Bermunculan

Klopp bukan satu-satunya figur sepak bola yang mengecam keputusan tersebut. Sebelumnya, Wayne Rooney juga mempertanyakan langkah FIFA yang dianggap mencederai prinsip keadilan dalam turnamen.

Mantan Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris, David Bernstein, turut menyampaikan kekhawatirannya.

"Hal ini menyentuh salah satu keindahan sepak bola – penerapan peraturan dan ketentuan di seluruh dunia."

Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, juga memberikan kritik keras terhadap keputusan tersebut.

"Kartu merah tidak dibatalkan oleh panggilan telepon politik. Kartu merah dibatalkan oleh aturan, bukti, dan badan independen."

"Jika seorang Presiden AS ikut campur tangan dengan Presiden FIFA — dan seorang pemain tiba-tiba dinyatakan bersih sebelum pertandingan babak gugur Piala Dunia — pertanyaan yang tak terhindarkan adalah: Quo vadis, FIFA?"

"Sepak bola tidak boleh pernah menjadi arena permainan untuk perebutan kekuasaan politik."

Balogun Tetap Bermain, AS Tetap Tersingkir

Meski akhirnya diizinkan tampil, kehadiran Balogun tidak mampu menyelamatkan Amerika Serikat. Penyerang tersebut memimpin lini depan bersama Christian Pulisic dan Sergino Dest, namun tim asuhan Mauricio Pochettino tetap harus mengakui keunggulan Belgia dengan skor telak 1-4.

Hasil itu membuat kontroversi pembatalan kartu merah Balogun semakin menjadi sorotan. Bagi banyak pihak, keputusan tersebut bukan lagi sekadar persoalan disiplin pemain, melainkan menyangkut kredibilitas FIFA dalam menjaga independensi dan keadilan di ajang sepak bola terbesar di dunia.

EDITOR: Banu Adikara