← Beranda
Cafu Buka Suara Setelah Brasil Kalah dari Norwegia, Sebut Liga Inggris Bisa Hambat Mimpi Samba Juara Dunia
Andre Rizal HanafiSelasa, 7 Juli 2026 | 16.31 WIB
Legenda Brasil, Cafu. (istimewa)

 

JawaPos.com - Legenda sepak bola Brasil, Cafu, melontarkan pandangan yang cukup tajam setelah Samba harus mengakhiri langkahnya di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Brasil tersingkir usai kalah 1-2 dari Norwegia dalam pertandingan dramatis yang berlangsung hingga menit-menit akhir.

Brasil sebenarnya sempat menjaga asa lewat gol penalti Neymar pada masa injury time babak kedua.

Baca Juga: Bukan Kekurangan Striker Hebat, Ini Posisi yang Dinilai Jadi Penyebab Permainan Brasil Sulit Menyatu

Namun, dua gol Erling Haaland pada menit ke-79 dan menit ke-90 memastikan Norwegia membalikkan keadaan sekaligus mengamankan tiket ke perempat final.

Tak lama setelah hasil tersebut, Cafu mengungkapkan kekhawatirannya terhadap arah perkembangan sepak bola Brasil.

Menurut mantan kapten Tim Samba itu, semakin banyak pemain Brasil yang berkarier di Liga Inggris atau Premier League, semakin kecil peluang negaranya untuk kembali menjadi juara dunia.

Baca Juga: Erling Haaland Tak Sangka Norwegia Bisa Tumbangkan Brasil di Piala Dunia 2026

"Yang membuatku takut adalah ini; semakin banyak pemain Brasil yang pergi ke Premier League, semakin kecil peluang Brasil memenangkan Piala Dunia," ujar Cafu.

Pernyataan tersebut bukan ditujukan untuk meremehkan kualitas kompetisi Inggris. Sebaliknya, Cafu lebih menyoroti lingkungan dan cara pemain dibentuk selama berkompetisi di sana.

Ia menilai sorotan media yang berlebihan dapat membuat pemain merasa sudah berada di level tertinggi, padahal masih banyak aspek yang harus dikembangkan.

"Bayangkan setiap minggu kamu dikondisikan oleh media dengan ucapan 'Kalian adalah yang terbaik di dunia'. Padahal kenyataannya kamu bahkan tidak mendekati yang terbaik di dunia," lanjutnya.

Cafu kemudian membandingkan situasi tersebut dengan atmosfer sepak bola di Spanyol. Menurutnya, La Liga menawarkan budaya kompetitif yang lebih menekankan target meraih gelar dibanding membangun citra individu pemain.

"Saya lebih memilih La Liga karena di sana ada pola pikir untuk mencapai final dan memenangkan final," kata Cafu.

Baca Juga: Marquinhos Tidak Percaya Brasil Tumbang di Tangan Norwegia, Utarakan Harapan untuk Tim Samba Masa Depan

Ia juga menilai pembahasan sepak bola di Spanyol lebih banyak berfokus pada permainan di atas lapangan daripada membangun narasi yang berlebihan.

"Di La Liga tidak ada orang yang maju ke depan kamera televisi untuk melebih-lebihkan pemain Spanyol atau mengatakan hal-hal yang tidak benar demi memasarkannya ke dunia. Di sana dibicarakan sepak bola, bukan mitos," tegasnya.

Komentar Cafu langsung memicu perdebatan di kalangan pecinta sepak bola. Sebagian setuju bahwa budaya kompetisi di setiap liga memang dapat memengaruhi perkembangan mental pemain.

Baca Juga: Norwegia Jadi Mimpi Buruk Brasil di Piala Dunia 2026, Selecao Tanpa Kemenangan atas The Vikings dalam 5 Pertemuan!

Namun, tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa kegagalan Brasil di Piala Dunia 2026 tidak bisa disederhanakan hanya karena banyak pemainnya tampil di Premier League.

Apa pun penyebabnya, tersingkirnya Brasil kembali memperpanjang penantian mereka untuk mengangkat trofi Piala Dunia.

Sementara itu, pernyataan Cafu menjadi pengingat bahwa membangun tim juara tidak hanya bergantung pada kualitas individu, tetapi juga mentalitas, budaya kompetisi, dan kemampuan menjaga fokus terhadap tujuan utama, yakni memenangkan turnamen terbesar di dunia.

EDITOR: Edi Yulianto