JawaPos.com - Timnas Brasil selama puluhan tahun dikenal sebagai negara yang selalu melahirkan pemain-pemain kreatif dengan kemampuan mengatur permainan.
Nama-nama seperti Zico, Ronaldinho hingga Kaka menjadi simbol bagaimana lini tengah Selecao mampu menghidupkan serangan sekaligus menentukan ritme pertandingan.
Namun, kondisi tersebut dinilai mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Meski Brasil masih memiliki deretan penyerang berkualitas dunia, permainan mereka justru kerap terlihat tidak menyatu ketika berada di lapangan.
Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam ulasan BBC Sports. Jurnalis sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery, menggambarkan kondisi Brasil saat ini seperti sebuah orkestra yang kehilangan konduktur atau dirigen.
Menurut Vickery, Brasil memiliki banyak pemain bertalenta di lini depan, tetapi belum mempunyai gelandang kreatif yang mampu mengatur tempo permainan, menghubungkan setiap lini, dan menentukan kapan tim harus mempercepat maupun memperlambat serangan.
Analogi tersebut menggambarkan bahwa kualitas individu saja tidak selalu cukup untuk menghasilkan permainan yang efektif.
Baca Juga: Erling Haaland Tak Sangka Norwegia Bisa Tumbangkan Brasil di Piala Dunia 2026
Tanpa sosok pengatur di lini tengah, potensi besar para penyerang sering kali tidak dapat dimaksimalkan.
Jika melihat skuad Brasil saat ini, mereka memang masih memiliki sejumlah gelandang berkualitas.
Namun mayoritas lebih dikenal sebagai pemain bertipe pekerja keras, gelandang bertahan, atau box-to-box dibanding playmaker murni.
Karakter seperti Zico, Ronaldinho, Rivaldo, atau Kaka yang mampu menciptakan peluang melalui visi bermain dan umpan-umpan terobosan kini mulai jarang terlihat di tim nasional.
Media-media di Brasil juga sempat menyoroti perubahan arah pembinaan pemain usia muda. Sejumlah akademi disebut lebih tertarik membentuk pemain bertipe penyerang sayap atau dribbler yang dianggap memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar transfer internasional.
Fenomena tersebut bahkan melahirkan istilah "Next Neymar". Banyak talenta muda diarahkan menjadi pemain menyerang dengan kemampuan individu yang menonjol, sementara posisi gelandang kreatif dinilai tidak lagi menjadi prioritas utama dalam proses pembinaan.
Tentu saja, penilaian ini masih menjadi bahan diskusi. Sebab, sepak bola modern memang mengalami perubahan taktik yang membuat peran playmaker klasik semakin jarang digunakan. Banyak tim kini lebih mengandalkan kolektivitas dibanding bergantung pada satu pemain kreatif.
Meski begitu, kritik mengenai minimnya sosok pengatur permainan di lini tengah tetap menjadi perhatian.
Dengan materi penyerang yang melimpah, Brasil dinilai membutuhkan pemain yang mampu menyatukan setiap lini agar kualitas individu yang dimiliki dapat menghasilkan permainan yang lebih efektif.
Baca Juga: Luciano Leandro Kritik Tajam Penampilan Brasil Usai Disingkirkan Norwegia di Piala Dunia 2026
Apakah Brasil benar-benar sedang mengalami krisis gelandang kreatif? Jawabannya mungkin masih akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.
Namun satu hal yang jelas, memiliki banyak penyerang hebat saja belum tentu cukup jika tidak ada pemain yang mampu menjadi "dirigen" di atas lapangan.