JawaPos.com - Kegagalan Timnas Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu gelombang kritik besar dari publik.
Sasaran utama kemarahan bukan hanya hasil di lapangan, tetapi juga pelatih Hong Myung-bo dan Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) yang dinilai bertanggung jawab atas merosotnya prestasi tim.
Bagi masyarakat Korea Selatan, kekecewaan ini bukan muncul secara tiba-tiba. Kritik terhadap Hong Myung-bo sudah berkembang sejak dirinya kembali dipercaya menangani tim nasional pada 2024.
Baca Juga: Gagal di Piala Dunia 2026, Korea Selatan Tunjuk Park Ji-sung Pimpin Komite Reformasi Sepak Bola
Proses penunjukannya saat itu dianggap kurang transparan dan memunculkan tudingan adanya kedekatan dengan petinggi KFA.
Presiden KFA, Chong Mong-gyu, juga menjadi sorotan. Sejumlah pendukung menilai federasi terlalu tertutup dalam mengambil keputusan penting dan tidak cukup mendengarkan aspirasi publik maupun pemerhati sepak bola.
Padahal, Korea Selatan datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal yang sangat menjanjikan. Skuad Taeguk Warriors diperkuat banyak pemain yang tampil reguler di kompetisi elite Eropa.
Baca Juga: Dihujani Kritik usai Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo Tinggalkan Korea Selatan Menuju Amerika Serikat
Kondisi tersebut membuat harapan suporter melambung tinggi untuk melihat tim melangkah jauh di turnamen.
Namun kenyataan berbicara berbeda. Korea Selatan gagal lolos dari fase grup. Penampilan tim dinilai tidak mencerminkan kualitas para pemain yang dimiliki.
Strategi Hong Myung-bo dianggap terlalu konservatif, minim variasi, dan kurang mampu memaksimalkan potensi skuad yang sedang memasuki masa emas.
Kritik semakin tajam ketika pembahasan beralih ke besaran gaji sang pelatih. Berdasarkan sejumlah laporan media dan informasi yang beredar, Hong Myung-bo disebut menerima sekitar 2 miliar won Korea per tahun. Bahkan ada estimasi lain yang menyebut angkanya bisa mencapai 3,8 miliar won per tahun.
Dengan masa kontrak dua tahun, total pendapatan yang diterimanya diperkirakan mencapai sekitar 4 miliar won atau setara puluhan miliar rupiah. Nilai tersebut dinilai cukup tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata pelatih tim nasional di kawasan Asia.
Perbandingan dengan pelatih Jepang pun kerap muncul dalam perdebatan publik. Banyak suporter mempertanyakan apakah besarnya investasi tersebut sebanding dengan hasil yang diberikan di atas lapangan.
Baca Juga: Rumor Keributan Hong Myung-bo dan Son Heung-min Mencuat Setelah Korea Selatan Takluk dari Meksiko
Meski demikian, inti kemarahan masyarakat Korea Selatan sebenarnya bukan semata-mata soal nominal gaji. Yang paling disesalkan adalah hilangnya kesempatan memanfaatkan generasi pemain terbaik yang dimiliki negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi banyak pendukung, skuad saat ini memiliki kualitas untuk bersaing lebih jauh di level dunia. Karena itu, kegagalan di Piala Dunia 2026 dianggap sebagai kesempatan emas yang terbuang akibat keputusan manajerial dan strategi yang dinilai kurang tepat.
Kini tekanan terhadap Hong Myung-bo dan jajaran KFA terus meningkat. Publik berharap federasi melakukan evaluasi menyeluruh agar sepak bola Korea Selatan mampu bangkit dan kembali bersaing di panggung internasional pada turnamen berikutnya.