JawaPos.com — Mesir memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Australia melalui drama adu penalti dan kini bersiap menghadapi Argentina pada Selasa (7/7/2026) di Atlanta Stadium.
Keberhasilan tersebut menjadi sejarah baru bagi The Pharaohs sekaligus menambah kepercayaan diri Mohamed Salah untuk memimpin negaranya menghadapi salah satu favorit juara.
Tangis Mohamed Salah menjadi salah satu momen paling emosional pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Kapten Timnas Mesir itu tak mampu membendung air mata setelah membawa negaranya melangkah ke fase gugur lewat kemenangan dramatis.
Panenka Mohamed Salah Jadi Simbol Mental Juara
Mesir memastikan tiket ke babak 16 besar usai mengalahkan Australia lewat adu penalti. Pertandingan berakhir imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu sebelum The Pharaohs menang 4-2 dalam tos-tosan.
Mesir sempat unggul lebih dahulu melalui gol Emam Ashour. Namun, Australia menyamakan kedudukan setelah Mohamed Hany mencetak gol bunuh diri yang membuat skor kembali seimbang.
Tidak ada gol tambahan hingga 120 menit pertandingan usai. Adu penalti pun menjadi penentu nasib kedua tim untuk memperebutkan satu tempat di babak 16 besar.
Di babak adu penalti, Harry Souttar dan Lucas Herrington gagal menjalankan tugas untuk Australia.
Sebaliknya, empat eksekutor Mesir sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna, termasuk Mohamed Salah yang mencetak gol melalui eksekusi Panenka yang dingin dan penuh percaya diri.
Eksekusi tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan di fase gugur Piala Dunia 2026.
Salah memang tidak mencetak gol sepanjang waktu normal, tetapi keberaniannya mengambil penalti dengan gaya Panenka menunjukkan mental seorang pemimpin.
Air Mata Mohamed Salah Warnai Sejarah Mesir
Sesaat setelah kemenangan dipastikan, Mohamed Salah langsung larut dalam emosi. Air mata mengalir dari wajah sang kapten yang akhirnya merasakan pencapaian bersejarah bersama Timnas Mesir di ajang Piala Dunia.
Keberhasilan itu bukan sekadar meloloskan Mesir ke babak berikutnya. The Pharaohs juga mematahkan rekor buruk mereka dalam adu penalti di turnamen besar.
Prestasi tersebut semakin istimewa karena menjadi sejarah baru bagi sepak bola Afrika.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, dua wakil Afrika, yakni Mesir dan Maroko, sama-sama berhasil memenangi pertandingan fase gugur dalam satu edisi turnamen.
Momen tersebut semakin menguatkan keyakinan jika tim-tim Afrika kini mampu bersaing dengan negara-negara elite dunia. Mesir dan Maroko sama-sama menunjukkan karakter kuat ketika menghadapi tekanan tinggi di fase knockout.
Mohamed Salah Beberkan Rahasia Keberhasilan Mesir
Usai pertandingan, Mohamed Salah mengungkapkan pesan yang ia sampaikan kepada seluruh rekan setim sebelum laga dimulai. Menurutnya, para pemain harus menikmati pertandingan tanpa terbebani ekspektasi besar.
"Ini sejarah. Saya memberi tahu para pemain sebelum pertandingan bahwa ini adalah panggung terbesar yang bisa kalian mainkan. Nikmati dan jangan biarkan tekanan menguasai kalian," kata Salah dikutip dari BBC Sport, Minggu (5/7/2026).
Salah mengaku sangat bangga melihat perjuangan seluruh pemain Mesir. Ia menilai kemenangan tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh tim sepanjang pertandingan.
"Saya senang kami berhasil memenangkan pertandingan. Nasib buruk bagi mereka. Saya senang kami telah mencetak sejarah."
Meski tidak tampil dalam performa terbaiknya selama 90 menit, kontribusi Salah tetap sangat penting.
Selain beberapa peluang yang ia ciptakan menjelang akhir pertandingan, keberhasilannya mengeksekusi penalti dengan tenang menjadi pembeda yang membawa Mesir lolos.
Tantangan Berat Menanti Lionel Messi dan Argentina
Kepercayaan diri Mesir kini meningkat drastis menjelang duel melawan Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Mental bertanding yang mereka tunjukkan saat menghadapi Australia menjadi modal berharga menghadapi salah satu tim unggulan.
Sorotan tentu kembali mengarah kepada Mohamed Salah yang diharapkan menjadi inspirasi permainan Mesir.
Pengalaman panjangnya bermain di level tertinggi membuat sang kapten diyakini mampu memimpin rekan-rekannya menghadapi tekanan besar.
Di sisi lain, Argentina dipastikan datang dengan status favorit. Namun, keberhasilan Mesir menciptakan sejarah dan mematahkan kutukan adu penalti menjadi bukti mereka bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata.
Jika mampu mempertahankan disiplin permainan dan efektivitas serangan, Mesir berpeluang memberi perlawanan sengit.
The Pharaohs berharap momentum kemenangan dramatis atas Australia bisa menjadi bekal untuk kembali membuat kejutan dan menjaga mimpi melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.