JawaPos.com – Brasil menjadi lawan berikutnya bagi Jepang di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Namun di balik duel tersebut tersimpan hubungan panjang kedua negara, mulai dari peran Zico membangun J.League hingga mimpi Samurai Biru menjadi juara dunia pada 2050.
Selama lebih dari tiga dekade, Jepang membangun satu mimpi besar: menjadi juara Piala Dunia.
Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) menuangkannya dalam JFA Declaration 2005, yang menargetkan terbentuknya 10 juta football family sekaligus membawa Jepang menjadi juara dunia pada 2050.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam filosofi sepak bola nasional Japan's Way yang diperbarui pada 2025. Namun, mengapa harus menunggu hingga 2050 jika mimpi itu bisa mulai diwujudkan sekarang?
Tantangan pertama datang di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Jepang akan menghadapi Brasil di Stadion NRG, Houston, Amerika Serikat, Senin (30/6/2026) pukul 00.00 WIB.
Ironisnya, Brasil justru menjadi salah satu inspirasi utama saat JFA membangun fondasi sepak bola modern melalui lahirnya J.League pada awal 1990-an. Kedua negara juga memiliki hubungan historis dan budaya yang sangat erat.
Di São Paulo, misalnya, terdapat komunitas Jepang terbesar di luar Jepang. Sementara itu, legenda sepak bola Jepang, Kazuyoshi Miura, memulai karier profesionalnya di Brasil.
Legenda Brasil, Zico, juga memiliki peran besar dalam perkembangan sepak bola Jepang. Ia bergabung dengan Kashima Antlers pada 1991 dan ikut membangun fondasi sepak bola profesional di Negeri Sakura. Meski telah berusia 38 tahun, Zico masih mampu mencetak hat-trick pada laga pembuka J.League 1993.
"Saya sudah mencapai semuanya sebagai pemain. Yang terpenting adalah memulai dari nol dan mengarahkan sepak bola Jepang ke jalur yang benar," ujar Zico kepada FIFA pada 2022.
Baca Juga: Prediksi Skor Brasil vs Jepang: Selecao Belajar dari Tokyo, Pernah Takluk 2-3 Delapan Bulan Lalu
Revolusi Mental
Zico, yang melatih Jepang pada periode 2002-2006 dan kini masih menjadi konsultan Kashima Antlers, menilai perubahan terbesar sepak bola Jepang bukan terletak pada teknik maupun taktik, melainkan mentalitas para pemain.
Menurutnya, para pemain kini dibentuk agar tidak takut melakukan kesalahan dan berani mengambil keputusan di lapangan.
Lebih dari tiga dekade setelah J.League lahir, Zico melihat transformasi tersebut membuahkan hasil.
"Jepang sekarang berada pada level yang jauh lebih kompetitif. Mereka siap menghadapi siapa pun," katanya dalam wawancara terbaru dengan FIFA menjelang laga babak 32 besar.
Perubahan itu juga tercermin dari komposisi skuad Samurai Biru. Jika dahulu J.League banyak mengandalkan pemain asing, kini 23 dari 26 pemain Jepang di Piala Dunia 2026 berkarier di liga-liga elite Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang juga mencatat sejumlah hasil impresif. Mereka mengalahkan Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022, meraih kemenangan pertama atas Brasil dalam laga uji coba pada Oktober 2025, serta menundukkan Inggris pada pertandingan persahabatan Maret 2026.
"Kami belum pernah mencapai perempat final. Namun, kami tahu tim ini memiliki target menjadi juara dunia dan federasi akan terus mendukung tujuan itu," ujar Presiden JFA, Tsuneyasu Miyamoto, kepada ESPN.
Samba dan Sakura di Sepak Bola
DIASPORA
Brasil menjadi rumah bagi sekitar 2 juta diaspora Jepang, terbesar di luar Jepang. Sebaliknya, Jepang juga memiliki komunitas besar warga keturunan Brasil (Nikkei Brazilians).
ZICO
Bergabung dengan Sumitomo Metal Industries (kini Kashima Antlers) pada 1991 dan membantu membangun fondasi sepak bola profesional Jepang.
KAZU MIURA
Ikon sepak bola Jepang yang mengawali karier profesional di Brasil pada 1986 dan sempat memperkuat sejumlah klub, termasuk Santos dan Palmeiras.
PEMAIN BERDARAH BRASIL
Timnas Jepang pernah diperkuat Ruy Ramos, Wagner Lopes, Alessandro Santos (Alex), hingga Marcus Tulio Tanaka yang lahir di Brasil.
BINTANG BRASIL DI J.LEAGUE
Selain Zico, Dunga, Careca, Leonardo, Bebeto, Djalminha, dan Marcio Amoroso juga pernah meramaikan kompetisi Jepang.
CAPTAIN TSUBASA
Tokoh utama Tsubasa Ozora sempat berkarier di Sao Paulo FC dan sejak kecil dimentori Roberto Hongo yang berasal dari Brasil.
Dari berbagai sumber