JawaPos.com - Timnas Ghana melontarkan kritik terhadap kinerja perangkat pertandingan, khususnya terhadap penggunaan Video Assistant Referee (VAR), usai bermain imbang 0-0 melawan Inggris dalam laga kedua Grup L Piala Dunia pada Rabu (24/6) di Foxborough. Hasil itu membawa Ghana mengoleksi empat poin dan semakin dekat dengan tiket ke 32 besar.
Meskipun demikian, kubu Black Stars merasa seharusnya bisa meraih hasil lebih baik jika sejumlah keputusan krusial mendapatkan peninjauan VAR. Penyerang Ghana Antoine Semenyo bahkan secara terbuka meminta rekan-rekannya untuk lebih aktif memberikan tekanan kepada wasit dalam pertandingan selanjutnya.
Semenyo menilai timnya perlu lebih vokal agar mendapatkan keputusan yang adil di lapangan. “Kami sudah membahas ini dalam sesi latihan, bahwa sebagai pemain kami harus berani mengerubungi wasit dan menyampaikan protes. Kami harus lebih tegas,” ujar Semenyo dikutip dari ESPN.
Semenyo juga menambahkan bahwa pendekatan yang lebih agresif terhadap ofisial pertandingan dapat menjadi faktor penting.
“Sebagai tim, kami perlu lebih agresif kepada wasit, bertahan lebih lama saat terjatuh, dan pelatih juga harus aktif menekan ofisial keempat. Itu yang perlu kami lakukan,” lanjutnya.
Kekecewaan Ghana berkaitan dengan beberapa insiden dalam laga melawan Inggris. Salah satunya terjadi pada menit-menit akhir pertandingan ketika bek Inggris Ezri Konsa diduga melakukan pelanggaran terhadap Prince Kwabena Adu di dalam kotak penalti. Namun, wasit Said Martinez tidak melakukan pengecekan VAR atas insiden itu.
Selain itu, Ghana juga menyoroti dugaan pelanggaran yang dilakukan kiper Inggris Jordan Pickford pada awal pertandingan yang tidak mendapatkan tindak lanjut dari wasit.
“Saya berada sangat dekat dengan tekel Konsa terhadap Kwabena Adu dan saya yang pertama mengangkat tangan. Sangat menjengkelkan karena sampai sekarang tidak ada peninjauan VAR,” kata Semenyo.
Pelatih Timnas Ghana Carlos Queiroz pun ikut menyuarakan kekecewaannya terhadap kinerja VAR. Setelah pertandingan, Queiroz sempat menyindir dengan mengatakan bahwa VAR sedang pergi minum kopi.
Baca Juga: Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
“Kami seharusnya sudah lolos dengan enam poin saat ini. Kami memiliki catatan yang baik dalam eksekusi penalti dan seharusnya sudah mengamankan tiket,” ujar Queiroz.
Queiroz juga meminta FIFA untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem VAR yang dinilai belum berjalan optimal, meski telah digunakan selama hampir satu dekade sejak diperkenalkan pada 2016 dan pertama kali dipakai di Piala Dunia 2018.
“Tidak ada alasan VAR tidak bisa lebih baik dari ini. Sudah saatnya otoritas FIFA meninjau apa yang terjadi di balik layar. VAR seharusnya membantu wasit dalam mengambil keputusan yang tepat,” tegasnya.
Queiroz juga menyoroti dilema yang dihadapi pemain di lapangan. Menurutnya, pemain enggan melakukan protes karena khawatir mendapatkan kartu kuning, tetapi di sisi lain keputusan merugikan tetap terjadi. “Para pemain tidak memprotes di lapangan karena takut kartu kuning, tetapi kemudian mereka datang kepada saya dan saya juga tidak tahu harus berbuat apa,” tambahnya.
Terlepas dari hasil imbang melawan Inggris, Ghana tetap berada dalam posisi yang cukup menguntungkan untuk lolos ke babak berikutnya. Kemenangan atas Panama di laga pembuka serta tambahan satu poin dari Inggris membuat mereka berada di ambang kelolosan ke babak gugur untuk pertama kalinya sejak 2010.
Pada laga terakhir Grup L melawan Kroasia di Philadelphia pada Minggu (28/6), Ghana masih berpeluang lolos sebagai juara grup. Syaratnya, mereka harus menang atas Kroasia dan berharap Inggris gagal mengalahkan Panama.
Jika kedua tim sama-sama meraih kemenangan, Ghana masih dapat finis di puncak klasemen apabila unggul selisih gol atas Inggris.
Namun, jika Ghana kalah, peluang untuk tetap lolos masih terbuka lewat jalur peringkat ketiga terbaik, mengingat raihan empat poin berpotensi cukup untuk membawa mereka ke babak 32 besar. Ghana saat ini menempati posisi kedua klasemen sementara Grup L di bawah Inggris.