JawaPos.com - Pertandingan antara Iran dan Mesir yang akan digelar di Seattle pada 27 Juni 2026 menjadi sorotan bukan hanya karena aspek olahraga, tetapi juga karena munculnya perbedaan pandangan antara FIFA dan kedua federasi sepak bola tersebut.
Laga yang dijuluki sebagian media sebagai "Jogo do Orgulho" atau "Game of Pride" itu kembali memicu perdebatan setelah adanya kegiatan yang berkaitan dengan komunitas LGBTQIA+ di sekitar lokasi pertandingan.
Program tersebut merupakan bagian dari rangkaian aktivitas yang disiapkan panitia tuan rumah selama akhir pekan berlangsung.
Federasi Sepak Bola Iran dan Federasi Sepak Bola Mesir sama-sama menyampaikan keberatan terhadap keberadaan aktivitas yang dikaitkan dengan gerakan Pride di lingkungan pertandingan.
Baca Juga: Jadwal Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Timnas Jepang Hadapi Brasil, Belanda Lawan Maroko
Menurut sejumlah laporan, kedua federasi meminta agar tidak ada kegiatan promosi maupun seremoni yang berhubungan dengan gerakan tersebut di dalam stadion maupun area sekitar venue pertandingan.
Seorang pejabat Federasi Iran menegaskan bahwa posisi tersebut juga mendapat dukungan dari pihak Mesir.
Menurutnya, pandangan kedua federasi mencerminkan nilai budaya dan keyakinan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di kedua negara.
Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026: Imbang Lawan Paraguay, Australia Lolos ke 32 Besar!
Iran dan Mesir memang dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim yang memiliki pendekatan konservatif terhadap isu-isu sosial tertentu.
Karena itu, kedua federasi menilai bahwa kegiatan yang berkaitan dengan Pride tidak sejalan dengan nilai yang mereka wakili dalam ajang internasional tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran dan Mesir juga dilaporkan meminta agar identitas visual yang berkaitan dengan Pride di sekitar area pertandingan dicabut. Namun permintaan tersebut tidak dikabulkan oleh FIFA.
Badan sepak bola dunia itu memilih mempertahankan program yang telah disusun bersama panitia lokal.
FIFA menilai seluruh kegiatan yang berlangsung di sekitar turnamen merupakan bagian dari agenda penyelenggaraan yang telah direncanakan sebelumnya.
Keputusan FIFA tersebut membuat perbedaan pandangan antara organisasi sepak bola dunia dan kedua federasi semakin terlihat.
Meski demikian, hingga saat ini tidak ada indikasi bahwa perselisihan tersebut akan memengaruhi jalannya pertandingan di lapangan.
Fokus utama kedua tim tetap tertuju pada persiapan menghadapi laga penting di Seattle. Iran dan Mesir sama-sama berupaya meraih hasil maksimal untuk menjaga peluang mereka dalam kompetisi.
Di sisi lain, perdebatan mengenai aktivitas Pride kembali menunjukkan bagaimana turnamen sepak bola berskala global kerap menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, nilai, dan pandangan yang berbeda.
Baca Juga: Jepang Baru Saja Kalahkan Brasil! Kini Harus Ulangi Keajaiban di 32 Besar Piala Dunia 2026
Situasi ini juga menegaskan tantangan yang sering dihadapi FIFA dalam menyeimbangkan kebijakan inklusivitas dengan keberagaman latar belakang peserta dari berbagai negara.
Pertandingan Iran kontra Mesir pun kini menarik perhatian tidak hanya karena rivalitas di atas lapangan, tetapi juga karena isu yang berkembang di luar pertandingan menjelang laga tersebut.