JawaPos.com - Irak kembali mendapat pelajaran mahal di ajang Piala Dunia 2026 setelah melakukan kesalahan yang hampir identik dalam dua pertandingan beruntun.
Sorotan kali ini mengarah kepada bek tengah Irak, Zaid Tahseen, yang terlibat dalam dua blunder backpass saat menghadapi Norwegia dan Prancis.
Kesalahan tersebut menjadi salah satu faktor yang merugikan Irak dalam pertandingan fase grup.
Dalam laga melawan Norwegia, umpan balik yang dilepaskan Tahseen ke arah penjaga gawang gagal mencapai sasaran dengan baik. Situasi itu langsung dimanfaatkan penyerang lawan untuk menciptakan peluang yang berujung gol.
Sayangnya, insiden serupa kembali terjadi ketika Irak berhadapan dengan Prancis. Pada momen yang hampir sama, Tahseen kembali melakukan backpass yang kurang akurat. Bola berhasil direbut pemain lawan dan menjadi gol yang membuat Irak semakin tertekan.
Kesalahan yang terjadi dua kali secara beruntun tersebut langsung menjadi bahan perbincangan luas di media sosial.
Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026: Diwarnai Badai Petir, Prancis Cukur Irak 3-0
Banyak pendukung Irak menyayangkan kejadian itu karena terjadi di panggung sebesar Piala Dunia, tempat setiap detail kecil bisa menentukan hasil pertandingan.
Di level tertinggi sepak bola internasional, pemain bertahan dituntut memiliki konsentrasi penuh sepanjang laga.
Tekanan dari penyerang lawan yang agresif sering kali membuat bek harus mengambil keputusan dalam waktu singkat. Sedikit saja kesalahan dalam distribusi bola dapat berakibat fatal.
Dalam kasus Tahseen, dua backpass yang gagal menjadi bukti betapa mahalnya harga sebuah kesalahan di turnamen besar. Penyerang dari Norwegia maupun Prancis tidak membutuhkan banyak kesempatan untuk menghukum kesalahan tersebut.
Setelah gelombang kritik dan sorotan yang terus meningkat, Tahseen dikabarkan menutup akun Instagram pribadinya. Langkah itu diduga dilakukan untuk menghindari berbagai komentar negatif yang muncul setelah dua pertandingan tersebut.
Meski demikian, banyak pihak juga mengingatkan agar kritik tidak berubah menjadi serangan personal terhadap pemain.
Kesalahan individu memang menjadi bagian dari sepak bola, dan setiap pemain berpotensi mengalaminya, termasuk di level tertinggi sekalipun.
Bagi Irak, fokus kini tertuju pada upaya memperbaiki performa tim secara keseluruhan. Sementara bagi Tahseen, momen ini bisa menjadi pelajaran penting untuk bangkit dan menunjukkan kualitasnya di pertandingan berikutnya.
Piala Dunia masih menyisakan kesempatan bagi Irak untuk memperbaiki keadaan. Namun satu hal yang pasti, kesalahan yang sama tidak boleh kembali terulang jika mereka ingin bersaing dengan tim-tim terbaik dunia.