← Beranda
Dari Raja Turnamen Jadi  Tim Yang Mencari Jati Diri: Kisah Timnas Jerman yang Kehilangan Identitas
Andre Rizal Hanafi• Senin, 22 Juni 2026 | 03.32 WIB
Kiper timnas Jerman Manuel Neuer. (Dok. Manuel Neuer)

 

JawaPos.com - Ada masa ketika melihat Jerman di bagan turnamen besar membuat banyak tim langsung waspada. Bukan karena mereka selalu memainkan sepak bola paling atraktif, melainkan karena kemampuan mereka untuk bertahan, bangkit, dan menang di momen-momen krusial.

Selama periode 2002 hingga 2017, Jerman menjadi salah satu tim nasional paling konsisten di dunia. Hampir setiap turnamen besar berakhir dengan kehadiran mereka di semifinal, final, atau bahkan mengangkat trofi. Konsistensi itu membuat Die Mannschaft dikenal sebagai "monster turnamen" yang selalu sulit disingkirkan.

Perjalanan tersebut dimulai di Piala Dunia 2002. Meski tidak masuk sebagai favorit utama, Jerman berhasil melaju hingga final sebelum kalah dari Brasil yang diperkuat Ronaldo Nazario.

Baca Juga: Graham Arnold Cerita Kehidupan Sebagai Pelatih Timnas Irak: Dari Jadwal Salat hingga Gairah Sepak Bola

Kegagalan itu menjadi fondasi bagi proses pembenahan besar sepak bola Jerman pada tahun-tahun berikutnya.

Di Piala Dunia 2006, mereka tampil sebagai tuan rumah dan berhasil finis di peringkat ketiga. Turnamen itu juga menjadi awal rivalitas yang semakin menyakitkan bagi Argentina setelah Jerman menang melalui adu penalti di perempat final.

Dua tahun kemudian, Jerman kembali menunjukkan kualitasnya dengan mencapai final Euro 2008.

Baca Juga: Piala Asia vs Piala Dunia: Mengapa Qatar dan Jepang Menunjukkan Wajah yang Berbeda?

Meski kalah dari Spanyol, mereka tetap menjadi salah satu kekuatan utama Eropa.
Generasi emas kemudian mulai mencapai puncaknya pada Piala Dunia 2010.

Dengan kombinasi pemain muda dan senior, Jerman tampil impresif. Inggris dikalahkan 4-1, sementara Argentina dihancurkan 4-0. Mereka kembali mengakhiri turnamen di empat besar.

Konsistensi berlanjut di Euro 2012 dengan pencapaian semifinal. Lalu datang momen yang dianggap sebagai puncak kejayaan sepak bola Jerman modern pada Piala Dunia 2014.

Di Brasil, mereka mencatat salah satu pertandingan paling bersejarah dalam sejarah turnamen dengan mengalahkan tuan rumah Brasil 7-1 di semifinal.

Setelah itu, gol Mario Götze pada babak tambahan membawa Jerman mengalahkan Argentina di final dan meraih gelar juara dunia keempat mereka.

Keberhasilan tersebut semakin lengkap ketika mereka menjuarai Piala Konfederasi 2017 menggunakan skuad yang mayoritas berisi pemain muda dan pelapis. Fakta itu menunjukkan betapa kuatnya sistem pembinaan yang mereka miliki saat itu.

Baca Juga: Prediksi Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: La Celeste Wajib Menang untuk Jaga Peluang Lolos Babak 32 Besar

Namun setelah 2017, situasinya berubah drastis. Jerman tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018 sebagai juara bertahan. Empat tahun kemudian, mereka kembali gagal melewati fase grup di Qatar.

Bukan hanya hasil yang menurun, tetapi juga identitas permainan yang perlahan memudar. Tim yang dahulu dikenal tenang dan percaya diri kini kerap terlihat kehilangan arah ketika menghadapi tekanan.

Meski demikian, sejarah membuktikan bahwa Jerman adalah salah satu negara sepak bola terbesar di dunia.

Baca Juga: Prediksi Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 16 Besar Grup G

Mereka pernah menunjukkan bagaimana konsistensi bisa menjadi kekuatan utama dalam sepak bola internasional.

Kini tantangan berikutnya adalah menemukan kembali identitas yang membuat mereka begitu ditakuti selama lebih dari satu dekade.

Sebab jika ada satu pelajaran dari sejarah sepak bola Jerman, mereka selalu memiliki kemampuan untuk bangkit ketika banyak orang mulai meragukan mereka.

EDITOR: Banu Adikara