← Beranda
Perlakuan Istimewa Lionel Messi? Lolos dari Kartu Merah jadi Noda Hattrick Bersejarah di Piala Dunia 2026
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 18 Juni 2026 | 03.10 WIB
Lionel Messi merayakan salah satu golnya saat Argentina mengalahkan Aljazair 3-0 di Piala Dunia 2026, di tengah kontroversi tekel terhadap Aissa Mandi. (Instagram @afaseleccion)

 

JawaPos.com — Lionel Messi membawa Argentina menang 3-0 atas Aljazair pada laga pembuka Piala Dunia 2026 lewat hattrick bersejarah yang menyamai rekor gol sepanjang masa turnamen tersebut. Namun, aksi gemilang kapten Argentina itu justru dibayangi kontroversi setelah dirinya lolos dari kartu merah akibat tekel yang dinilai berbahaya terhadap bek Aljazair, Aissa Mandi.

Kemenangan Argentina di laga perdana langsung menempatkan Messi sebagai pusat perhatian dunia.

Tiga gol yang dicetak megabintang berusia 39 tahun itu semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola.

Baca Juga: Di Balik Slogan Tilcara al Mundial: Cerita Nazar Argentina Sebelum Juara Piala Dunia

Mengapa Tekel Lionel Messi Menjadi Perdebatan?

Perdebatan muncul setelah Messi terlibat insiden dengan bek tengah Aljazair, Aissa Mandi.

Dalam tayangan ulang pertandingan, pemain Inter Miami tersebut terlihat menginjak bagian belakang betis Mandi menggunakan pul sepatu saat berusaha merebut bola.

Kontak tersebut memicu protes dari kubu Aljazair yang menilai tindakan Messi layak diganjar kartu merah langsung.

Banyak penggemar di media sosial juga mempertanyakan keputusan wasit yang tidak memberikan hukuman apa pun kepada sang kapten Argentina.

Yang membuat kontroversi semakin besar, wasit Simon Marciniak bahkan tidak mengeluarkan kartu kuning.

Selain itu, Video Assistant Referee (VAR) juga tidak meminta sang pengadil untuk meninjau ulang insiden tersebut melalui monitor di pinggir lapangan.

Padahal, dalam sejumlah kasus serupa pada turnamen internasional, tindakan menginjak kaki lawan dengan pul sepatu kerap dianggap sebagai pelanggaran serius yang berpotensi membahayakan pemain lain.

Karena itu, keputusan membiarkan permainan tetap berjalan memunculkan tanda tanya besar.

Baca Juga: Prediksi Argentina vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Messi Siap Pimpin Albiceleste Raih Awal Sempurna

100 Persen Kartu Merah

Kritik paling keras datang dari analis ESPN FC, Ale Moreno. Mantan pemain Major League Soccer itu menilai Messi seharusnya langsung diusir keluar lapangan karena tekel tersebut.

“Itu 100 persen kartu merah untuk Lionel Messi. Seharusnya begitu,” kata Moreno.

Menurutnya, insiden itu semakin memperkuat anggapan lama bahwa pemain-pemain besar sering mendapat perlakuan berbeda dari perangkat pertandingan.

Moreno bahkan menyinggung momen ketika Presiden FIFA Gianni Infantino terlihat tersenyum saat Messi nyaris mencetak gol lainnya dalam pertandingan tersebut.

“Ini sejalan dengan narasi bahwa pemain hebat mendapatkan perlakuan istimewa,” lanjut Moreno.

Komentar serupa juga disampaikan mantan bek Manchester City, Nedum Onuoha. Ia mengaku heran karena insiden tersebut nyaris tidak mendapat perhatian dalam siaran langsung pertandingan.

“Dalam komentarnya, mereka bahkan tidak menyebutkan apa pun yang terjadi,” ujar Onuoha.

Menurutnya, banyak orang baru menyadari tingkat keparahan pelanggaran itu setelah melihat tayangan ulang dari berbagai sudut kamera.

Saat rekaman diputar kembali, kontak yang dilakukan Messi terlihat jauh lebih serius dibanding kesan pertama di lapangan.

Baca Juga: Hattrick Bersejarah Lionel Messi di Piala Dunia 2026! Deretan Rekor Gila yang Sulit Dipecahkan

VAR dan Simon Marciniak Jadi Sasaran Kritik

Selain Messi, sorotan juga mengarah kepada wasit asal Polandia Simon Marciniak serta tim VAR yang bertugas dalam pertandingan tersebut.

Banyak pihak menilai teknologi yang diciptakan untuk mengoreksi kesalahan jelas justru gagal menjalankan fungsinya.

Moreno mempertanyakan alasan VAR tidak meminta Marciniak melihat ulang kejadian tersebut. Menurutnya, bahkan dari tayangan langsung saja pelanggaran itu sudah tampak cukup keras untuk memicu pemeriksaan lebih lanjut.

“Kita bahkan tidak perlu melihat gambar diamnya, jika Anda melihat video langsungnya, tantangan itu terasa buruk sejak awal,” kata Moreno.

Ia menambahkan bahwa tayangan ulang memperlihatkan kaki Messi menyapu bagian belakang betis Mandi dari area lutut hingga mendekati pergelangan kaki.

Dalam pandangannya, tindakan tersebut memenuhi kriteria pelanggaran yang layak berujung kartu merah.

“Seseorang harus melihat ini. Mengapa Simon Marciniak, wasitnya, tidak dipanggil untuk melihat ini?”

Onuoha juga memiliki pandangan yang sama. Ia mengaku dapat memahami jika wasit di lapangan tidak melihat insiden secara jelas karena posisi dan kecepatan permainan.

Namun, mantan pemain timnas Inggris itu menilai kegagalan VAR untuk turun tangan jauh lebih sulit dipahami. Menurutnya, tayangan video yang tersedia sudah cukup untuk memicu peninjauan ulang oleh wasit utama.

“Menurut saya pribadi, itu pantas mendapat kartu merah,” tegas Onuoha.

Hattrick Bersejarah Tetap Jadi Catatan Penting

Di tengah kontroversi tersebut, pencapaian Messi tetap tidak bisa diabaikan.

Tiga gol ke gawang Aljazair membuatnya menyamai rekor gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dan menambah koleksi momen ikonik dalam karier luar biasanya.

Argentina pun memulai kampanye mempertahankan gelar dengan hasil sempurna.

Tim asuhan Lionel Scaloni mengamankan tiga poin penting sekaligus menunjukkan kapasitas mereka sebagai salah satu kandidat kuat juara Piala Dunia 2026.

Meski demikian, perdebatan mengenai insiden bersama Mandi diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.

Banyak pengamat menilai keputusan tersebut dapat menjadi salah satu momen paling kontroversial sepanjang turnamen apabila FIFA tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Bagi Messi, malam itu akan dikenang sebagai malam penuh kontras.

Di satu sisi ia mencatat hattrick bersejarah yang mempertegas status legendarisnya, tetapi di sisi lain muncul tudingan bahwa dirinya mendapat perlakuan istimewa yang mungkin tidak akan diterima pemain lain dalam situasi serupa.

EDITOR: Banu Adikara