← Beranda
Dari Piala Dunia 1994 hingga 2026! Kisah Unik Warisan Darah Bapak dan Anak Lintas Generasi di Timnas Norwegia
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 17 Juni 2026 | 23.25 WIB
Erling Haaland meneruskan jejak ayah mereka yang pernah membela Norwegia di Piala Dunia 1994. (Instagram @herrelandslaget)

 

JawaPos.com — Timnas Norwegia menghadirkan kisah unik di Piala Dunia 2026 saat Erling Haaland, Alexander Sorloth, dan Kristian Thorstvedt mengikuti jejak ayah mereka yang tampil di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat.

Dalam rentang 32 tahun, dua generasi keluarga berbeda kembali membela Norwegia di panggung yang sama, sekaligus menandai kebangkitan sepak bola negara Skandinavia tersebut.

Baca Juga: Klasemen Sementara Grup I Piala Dunia 2026: Norwegia di Puncak, Prancis Kedua

Bagaimana Warisan Keluarga Norwegia Tercipta di Piala Dunia?

Piala Dunia 2026 menghadirkan momen langka yang hampir mustahil terulang. Tiga pemain Norwegia saat ini merupakan anak dari mantan pemain yang pernah memperkuat negaranya di Piala Dunia 1994.

Pada edisi 1994 di Amerika Serikat, Norwegia diperkuat Alfie Haaland, Gøran Sørloth, dan Erik Thorstvedt.

Tiga dekade lebih kemudian, giliran Erling Haaland, Alexander Sørloth, dan Kristian Thorstvedt yang membawa nama keluarga mereka kembali ke panggung sepak bola terbesar dunia.

Fakta tersebut menciptakan lingkaran sejarah yang sempurna selama 32 tahun. Ayah dan anak dari tiga keluarga berbeda sama-sama tampil membela Norwegia di turnamen yang digelar di Amerika Serikat.

Kisah ini menjadi simbol regenerasi sukses yang terjadi dalam sepak bola Norwegia.

Tidak hanya mewarisi nama besar, generasi baru bahkan hadir sebagai tulang punggung tim yang dianggap salah satu kuda hitam paling berbahaya di Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026: Norwegia Bantai Irak, Erling Haaland Cetak Brace

Apa Rahasia Kebangkitan Timnas Norwegia Setelah 28 Tahun Absen?

Keberhasilan Norwegia kembali ke Piala Dunia tidak datang secara instan. Setelah tampil pada 1994 dan 1998, mereka menghabiskan hampir tiga dekade gagal menembus turnamen besar meski memiliki sejumlah pemain berkualitas.

Perubahan besar dimulai pada 2013 ketika Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) mendirikan Landslagsskolen atau National Team School (NTS).

Program tersebut dirancang untuk menemukan dan mengembangkan talenta terbaik usia 12 hingga 16 tahun dari seluruh penjuru Norwegia.

Hasilnya mulai terlihat signifikan. Sebagian besar dari 26 pemain yang dibawa pelatih Stale Solbakken ke Piala Dunia 2026 merupakan lulusan program tersebut.

Norwegia bahkan lolos ke putaran final dengan catatan sempurna. Mereka memenangi seluruh delapan pertandingan fase kualifikasi dan mencetak total 37 gol, termasuk dua kemenangan atas Italia.

Erling Haaland menjadi mesin gol utama dengan kontribusi 16 gol sepanjang kualifikasi. Ketajamannya menjadi gambaran transformasi Norwegia yang kini tidak lagi hanya mengandalkan pertahanan seperti era 1990-an.

Baca Juga: Profil Erling Haaland! Man of the Match Irak vs Norwegia di Piala Dunia 2026

Mengapa Martin Odegaard Dianggap Titik Awal Revolusi Norwegia?

Sebelum Erling Haaland menjadi superstar dunia, Martin Odegaard lebih dulu dianggap sebagai permata terbesar sepak bola Norwegia.

Bahkan sejak usia 11 tahun, bakatnya sudah menarik perhatian pengembang pemain NFF, Hakon Grottland.

Dalam laporan yang dibuat pada 2010, Grottland menggambarkan Odegaard sebagai pemain dengan kemampuan luar biasa.

Meski dua tahun lebih muda dari rekan-rekannya, ia dinilai memiliki teknik, pengambilan keputusan, dan kecerdasan posisi yang sangat menonjol.

"Extreme skills," tulis Grottland dalam laporannya. Ia juga menyebut otak sepak bola Odegaard sebagai sesuatu yang istimewa karena mampu menemukan solusi yang tidak dilihat pemain lain.

Pengalaman mengembangkan Odegaard menjadi salah satu inspirasi lahirnya National Team School. NFF ingin memastikan bakat-bakat terbaik mendapatkan jalur pengembangan yang tepat menuju level internasional.

Kini Odegaard menjadi kapten Norwegia dan memimpin generasi emas yang dianggap paling kuat dalam beberapa dekade terakhir. Pemain Arsenal tersebut menjadi simbol keberhasilan revolusi pembinaan usia muda di negaranya.

Bagaimana Erling Haaland Dibentuk Menjadi Bintang Dunia?

Erling Haaland juga merupakan produk National Team School. Jauh sebelum bersinar bersama Manchester City, ia sudah dikenal memiliki mentalitas berbeda dibanding pemain seusianya.

Brede Hangeland, mantan kapten Norwegia yang kini menjadi asisten pelatih, masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Haaland saat sang striker berusia 14 tahun. Ketika pemain muda lain merasa gugup, Haaland dengan percaya diri menatap langsung sang kapten tim nasional.

Saat ditanya cita-citanya, Haaland memberikan jawaban yang masih diingat Hangeland hingga sekarang. "Saya ingin menjadi striker terbaik di dunia."

Satu dekade kemudian, ucapan tersebut menjadi kenyataan. Haaland berkembang menjadi salah satu penyerang paling produktif di dunia dan menjadi wajah utama kebangkitan Norwegia.

Selain Haaland dan Odegaard, program NTS juga melahirkan nama-nama seperti Antonio Nusa, Jorgen Strand Larsen, hingga Andreas Schjelderup.

Kehadiran mereka membuat Norwegia memiliki kedalaman skuad yang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya.

Mengapa Norwegia Kini Menjadi Ancaman di Piala Dunia 2026?

Transformasi sepak bola Norwegia tidak hanya berasal dari bakat individu. Federasi juga mengubah filosofi permainan dengan menekankan kecerdasan, kreativitas, dan kemampuan menyerang.

Grottland menjelaskan sepak bola kini dipandang sebagai olahraga kognitif yang menuntut pemain mampu memecahkan berbagai situasi di lapangan.

Pendekatan tersebut melahirkan lebih banyak pemain ofensif berkualitas.

Perkembangan lapangan sintetis di seluruh Norwegia juga membantu proses tersebut. Anak-anak kini bisa berlatih sepanjang tahun meski menghadapi musim dingin yang ekstrem.

Budaya tim menjadi faktor penting lainnya. Menurut Hangeland, para pemain Norwegia tidak hanya diajarkan teknik bermain, tetapi juga nilai kebersamaan dan rasa memiliki terhadap tim nasional.

"Kami tidak punya orang yang egois, hanya kumpulan pemain baik yang senang bermain untuk Norwegia," ujar Grottland.

Kini, dengan kombinasi budaya kuat, pembinaan modern, dan generasi emas yang dipimpin Odegaard serta Haaland, Norwegia datang ke Piala Dunia 2026 bukan sekadar sebagai peserta.

Mereka membawa mimpi besar sekaligus kisah warisan keluarga yang membuat perjalanan mereka semakin istimewa.

EDITOR: Banu Adikara