JawaPos.com — Petugas Video Assistant Referee (VAR) Piala Dunia 2026, Shaun Evans, resmi dibebaskan FIFA dari tuduhan melakukan gestur yang dikaitkan dengan supremasi kulit putih saat bertugas pada laga Jerman melawan Curacao.
Keputusan itu diambil setelah komite disiplin FIFA menyatakan tidak menemukan bukti pelanggaran kode etik, sehingga Evans dapat melanjutkan tugasnya di turnamen tersebut.
Kontroversi ini mencuat setelah sebuah video rekaman ruang VAR beredar saat pertandingan Grup Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curaçao yang berakhir dengan kemenangan telak 7-1 untuk Jerman.
Dalam tayangan tersebut, Evans terlihat membentuk simbol "OK" dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya di depan kaki.
Gestur tersebut kemudian memicu perdebatan di media sosial.
Sejumlah pengamat menilai simbol itu menyerupai tanda yang pernah dikategorikan sebagai simbol kebencian oleh Anti-Defamation League (ADL) pada 2019 karena digunakan oleh kelompok supremasi kulit putih dan kelompok ekstrem kanan di berbagai negara.
Mengapa Shaun Evans Diselidiki FIFA?
Shaun Evans menjadi sorotan setelah sejumlah pengguna media sosial menuduhnya membuat simbol rasis secara sengaja.
Baca Juga: Jamal Musiala Bungkam Keraguan Jurgen Klopp Usai Jerman Pesta Gol atas Curacao
Tuduhan itu semakin menguat setelah organisasi antirasis internasional Fare mendesak FIFA untuk mencopot Evans dari daftar petugas pertandingan Piala Dunia 2026.
Fare menilai gestur yang dilakukan Evans memiliki kemiripan dengan simbol "OK" terbalik yang sering digunakan sebagai simbol "white power" di kalangan kelompok sayap kanan ekstrem.
Dalam pernyataannya, Fare bahkan meminta FIFA mengambil tindakan tegas.
"Saran dari para ahli kami adalah gestur yang digunakan jelas menyerupai simbol tangan 'OK' terbalik yang digunakan sebagai simbol kekuatan kulit putih di kalangan kelompok sayap kanan global."
Fare juga mempertanyakan alasan seorang petugas VAR melakukan gestur tersebut saat mengetahui kamera sedang menyorot ruang operasi VAR.
Hasil Investigasi FIFA: Tidak Ada Pelanggaran
Setelah melakukan penyelidikan, komite disiplin independen FIFA memutuskan tidak ada bukti yang menunjukkan Evans melanggar kode disiplin maupun kode etik FIFA.
Dalam pernyataan resminya, FIFA menegaskan kasus tersebut telah ditutup.
"Komite disiplin independen FIFA dapat mengonfirmasi bahwa setelah meninjau masalah yang melibatkan support video assistant referee Shaun Evans, tidak ditemukan bukti pelanggaran terhadap kode disiplin FIFA."
Baca Juga: Menang 7-1 atas Curacao, Jerman Salip Brasil Jadi Negara dengan Gol Terbanyak di Piala Dunia
FIFA juga menyatakan telah mempertimbangkan klarifikasi yang diberikan Evans sebelum mengambil keputusan akhir. Dengan hasil investigasi tersebut, petugas asal Australia itu dipastikan tetap dapat bertugas sepanjang sisa turnamen.
Shaun Evans: Gestur Itu Tidak Disengaja
Setelah dibebaskan dari tuduhan, Evans akhirnya memberikan penjelasan mengenai insiden yang membuat namanya menjadi sorotan dunia sepak bola.
Ia menegaskan tidak pernah berniat menyampaikan pesan, afiliasi politik, permainan tertentu, maupun keyakinan apa pun melalui gerakan tangannya.
"Saya ingin menjelaskan bahwa saya tidak sengaja membuat gestur atau simbol tangan untuk menyampaikan pesan, afiliasi, permainan, atau keyakinan apa pun."
Evans mengatakan satu-satunya penjelasan yang dapat ia berikan adalah gerakan tersebut merupakan refleks bawah sadar yang tidak ia sadari saat itu.
Menurutnya, sejumlah gambar lain yang diambil sepanjang pertandingan menunjukkan dirinya berulang kali melakukan gerakan serupa ketika memegang pena di antara jari-jarinya.
Baca Juga: Jerman Salip Brasil! Jadi Tim Paling Produktif di Piala Dunia Berkat Skor 7-1 Kontra Curacao
"Satu-satunya penjelasan yang bisa saya berikan adalah gerakan itu merupakan kedutan tidak sadar dan saya tidak menyadari telah melakukannya saat itu."
Tetap Bertugas di Piala Dunia 2026
Evans mengaku menyesalkan kontroversi yang muncul akibat interpretasi publik terhadap gestur tersebut. Namun ia kembali menegaskan tidak pernah dengan sengaja membuat simbol yang dituduhkan kepadanya.
"Saya memahami bagaimana gestur itu ditafsirkan dan saya menyesalkan hal tersebut. Namun saya ingin sangat jelas mengatakan bahwa saya tidak secara sadar maupun sengaja membuat simbol yang dimaksud."
Bagi Evans, kesempatan menjadi bagian dari perangkat pertandingan Piala Dunia merupakan pencapaian terbesar dalam kariernya sebagai ofisial sepak bola.
"Bertugas di Piala Dunia adalah kehormatan terbesar dalam karier saya dan saya menantikan untuk terus mendukung rekan-rekan saya sepanjang sisa turnamen."
Keputusan FIFA ini sekaligus mengakhiri polemik yang sempat menjadi perhatian selama perhelatan Piala Dunia 2026. Evans kini dipastikan tetap menjalankan tugasnya sebagai bagian dari tim VAR hingga turnamen berakhir.