← Beranda
Son Heung-min Diledek Wartawan Korea Selatan, Laskar Taeguk Kompak Putus Komuniksai dengan Pers
Andre Rizal Hanafi• Rabu, 17 Juni 2026 | 04.37 WIB
Son Heung-min diprediksi menjadi andalan Korea Selatan saat menghadapi Republik Ceko pada laga pembuka Grup A Piala Dunia 2026 di Estadio Akron, Zapopan. (KFA)

 

JawaPos.com - Hubungan antara Timnas Korea Selatan dan media domestik tengah menjadi sorotan di tengah berlangsungnya Piala Dunia 2026. Situasi memanas setelah beredarnya rekaman audio yang diduga berisi komentar bernada merendahkan dari sejumlah wartawan Korea Selatan terhadap kapten tim, Son Heung-min, serta para pemain lainnya.

Insiden tersebut bermula saat sesi latihan tim nasional yang disiarkan oleh televisi. Dalam rekaman yang kemudian viral di media sosial, terdengar percakapan beberapa jurnalis yang mengomentari cara Son memimpin latihan bersama rekan-rekannya.

Salah satu komentar yang menjadi perhatian publik adalah sindiran mengenai posisi Son sebagai pemimpin kelompok latihan. 

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Hanya 2 dari 7 Tim Eropa Menang, Dominasi Benua Biru Mulai Terancam

Wartawan tersebut mempertanyakan mengapa pemain Tottenham Hotspur itu memimpin sesi latihan layaknya seorang komandan militer hanya karena statusnya sebagai kapten tim.

Tidak berhenti di situ, dalam percakapan yang sama juga terdengar komentar yang dianggap menghina para pemain Korea Selatan. 

Beberapa pemain disebut tidak memahami kehidupan militer, yang diduga berkaitan dengan keringanan wajib militer yang mereka peroleh setelah membantu Korea Selatan meraih medali emas di Asian Games.

Baca Juga: Timnas Korea Selatan Boikot Media Lokal di Piala Dunia 2026 Gara-gara Ejek Son Heung-min Soal Wajib Militer

Komentar tersebut memicu reaksi keras dari para pendukung sepak bola Korea Selatan. Banyak netizen menilai ucapan para jurnalis tidak pantas disampaikan, terutama saat tim sedang berjuang di turnamen terbesar dunia.

Tak lama setelah rekaman itu viral, hubungan antara skuad Korea Selatan dan media domestik dikabarkan memburuk. Para pemain disebut sepakat untuk tidak lagi melayani wawancara dengan wartawan Korea Selatan yang meliput Piala Dunia 2026.

Sikap tersebut mulai terlihat setelah kemenangan Korea Selatan atas Republik Ceko. Pada kesempatan itu, Son Heung-min diketahui melewati zona campuran atau mixed zone tanpa memberikan komentar kepada media.

Selain itu, sejumlah agenda wawancara individu yang sebelumnya telah dijadwalkan juga dibatalkan. Federasi Sepak Bola Korea Selatan kemudian mengambil langkah dengan menghentikan sementara akses wawancara personal antara pemain dan media domestik.

Federasi juga mengeluarkan pernyataan resmi yang menyayangkan perilaku sejumlah wartawan yang terlibat dalam kontroversi tersebut. Mereka menegaskan bahwa para pemain berhak mendapatkan lingkungan yang kondusif selama menjalani turnamen.

Dampak dari kasus ini bahkan sampai ke jajaran media yang bertugas meliput tim nasional. Kepala pers rombongan media Korea Selatan yang berada di Piala Dunia memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia mengaku bertanggung jawab karena gagal mengelola dan mengendalikan perilaku rekan-rekan jurnalis yang bertugas.

Baca Juga: Kisah Haru Kim Seung-gyu: Rela Jauh dari Istri dan Putri Demi Membela Korea Selatan di Piala Dunia

Posisi tersebut kini telah diisi oleh pejabat baru yang langsung menyampaikan permintaan maaf kepada tim nasional. 

Menurut sejumlah laporan, Son Heung-min menerima permintaan maaf tersebut secara pribadi. Namun hingga kini belum ada kepastian apakah para pemain akan mengakhiri aksi boikot terhadap media Korea Selatan.

Kasus ini kembali memunculkan perdebatan di kalangan publik Korea Selatan mengenai hubungan antara media dan figur publik. 

Sebagian netizen menilai sejumlah jurnalis di negara tersebut memang kerap mendapat kritik karena dianggap terlalu keras terhadap atlet maupun selebritas.

Sementara itu, fokus utama Timnas Korea Selatan tetap tertuju pada perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Namun di luar lapangan, konflik dengan media domestik menjadi salah satu cerita yang paling menyita perhatian publik dalam beberapa hari terakhir.

EDITOR: Banu Adikara