JawaPos.com - FIFA akan melakukan penyelidikan setelah salah satu petugas pertandingan dituduh memperlihatkan gestur yang dikaitkan dengan simbol supremasi kulit putih saat pertandingan Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curaçao.
Petugas yang dimaksud adalah wasit asal Australia, Shaun Evans, yang bertugas sebagai VAR pendukung dalam kemenangan telak Jerman 7-1 atas Curaçao di Grup E, Minggu lalu.
Melansir The Express, kontroversi muncul ketika siaran televisi menampilkan tim VAR menjelang kick-off. Evans yang berusia 38 tahun terlihat membuat simbol "OK" terbalik dengan tangan kanannya yang berada di atas paha.
Gestur tersebut selama beberapa tahun terakhir kerap dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih dan gerakan ekstrem kanan.
Simbol serupa pernah digunakan oleh Brenton Tarrant, pelaku serangan terhadap dua masjid di Selandia Baru pada 2019 yang menewaskan 50 orang, saat dirinya hadir di pengadilan setelah penangkapannya.
Simbol yang Memiliki Berbagai Makna
Pada tahun yang sama, organisasi Anti-Defamation League (ADL) menjelaskan bahwa simbol "OK" telah menjadi salah satu bentuk "trolling" yang populer di kalangan kelompok sayap kanan.
Namun, ADL juga menegaskan bahwa penggunaan paling umum dari gestur tersebut tetap sebagai tanda persetujuan atau untuk menunjukkan bahwa seseorang dalam keadaan baik-baik saja.
ADL mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai niat seseorang yang menggunakan simbol tersebut.
Meski demikian, organisasi tersebut mengakui bahwa dalam konteks tertentu, simbol itu memang dapat digunakan sebagai ekspresi supremasi kulit putih. BBC juga melaporkan pada 2019 bahwa simbol tangan "OK" telah dimasukkan ke dalam daftar simbol kebencian.
Kasus serupa pernah terjadi di Olimpiade Paris 2024, ketika seorang pria kehilangan akreditasinya karena diduga melakukan gestur yang sama di belakang atlet saat final skateboard putri.
Baca Juga: Fakta Unik Piala Dunia 2026: Wakil Asia Belum Kalah, Wakil Amerika Latin Belum Menang!
Organisasi Antidiskriminasi Minta Tindakan Tegas
Fare, jaringan internasional yang berfokus pada pemberantasan diskriminasi dalam sepak bola, mengeluarkan pernyataan keras terkait insiden tersebut.
"Saran dari para ahli kami adalah bahwa gestur yang digunakan jelas menyerupai simbol tangan 'OK' terbalik yang digunakan sebagai simbol 'kekuatan kulit putih' di kalangan sayap kanan ekstrem global."
"Mengapa seorang pengawas VAR menggunakan simbol ini di acara sepak bola global tepat pada saat dia tahu kamera sedang mengarah padanya? Satu-satunya kemungkinan adalah dia sengaja menyampaikan simbol neo-Nazi sayap kanan."
"Penonton televisi global tidak seharusnya disuguhi individu-individu ekstremis sayap kanan yang menggunakan simbol-simbol neo-Nazi saat mereka bersiap menonton pertandingan. Jelas, pejabat ini seharusnya tidak lagi memiliki peran dalam Piala Dunia ini."
Baca Juga: Pantai Gading Diprediksi Lolos dari Fase Grup Piala Dunia 2026, Ini Tujuh Alasannya
FIFA Belum Beri Pernyataan Resmi
FIFA telah dihubungi untuk memberikan komentar terkait insiden tersebut. Hak untuk memberikan tanggapan juga telah diberikan kepada Evans melalui badan sepak bola dunia tersebut.
Shaun Evans sendiri memulai kariernya sebagai tukang batu sebelum menjadi asisten wasit di A-League Australia pada 2008. Ia dipromosikan menjadi wasit utama empat tahun kemudian dan sejak 2017 masuk dalam Daftar Wasit Internasional FIFA.
Hingga saat ini, belum ada kesimpulan resmi mengenai apakah gestur yang dilakukan Evans memang memiliki makna politik atau ideologis tertentu. Namun, tuduhan tersebut telah memicu perhatian besar dan membuat FIFA bergerak untuk melakukan investigasi lebih lanjut.
Kasus ini kembali menunjukkan bagaimana simbol yang tampak sederhana dapat memiliki interpretasi yang berbeda, terutama dalam konteks acara olahraga global yang disaksikan jutaan orang di seluruh dunia.