← Beranda
Mohamed Salah Dikritik Usai Tertangkap Kamera Marah kepada Pelatih Mesir di Piala Dunia 2026
M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 16 Juni 2026 | 23.50 WIB
Pemain Mesir, Mohamed Salah di Piala Dunia 2026. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Mohamed Salah kembali menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026. Namun kali ini, bukan semata karena kontribusinya di atas lapangan, melainkan karena reaksinya setelah ditarik keluar saat Mesir bermain imbang 1-1 melawan Belgia.

Kapten Mesir itu tampil cukup berpengaruh pada pertandingan yang berlangsung tepat di hari ulang tahunnya yang ke-34. Salah berperan besar dalam gol pembuka The Pharaohs dan beberapa kali merepotkan pertahanan Belgia, sebelum akhirnya digantikan pada menit ke-76 oleh penyerang muda berusia 18 tahun, Hamza Abdelkarim.

Namun, ekspresi frustrasi yang diperlihatkan bintang Liverpool tersebut setelah ditarik keluar justru memicu perdebatan.

Baca Juga: Serba-serbi Piala Dunia 2026: Mengapa Bendera Arab Saudi Tidak Diletakkan di Tanah? Ini Alasan dan Maknanya!

Salah terlihat kesal usai ditarik keluar

Melansir Liverpool.com, kamera televisi menangkap momen ketika Salah meninggalkan lapangan dengan wajah muram. Ia tampak langsung menuju bangku cadangan tanpa menyapa pelatih Mesir, Hossam Hassan.

Pemandangan itu mengingatkan sebagian pihak pada insiden serupa yang pernah terjadi bersama Liverpool musim lalu, ketika Salah sempat menunjukkan ketidaksenangan setelah diganti oleh Arne Slot.

Komentator ESPN, Craig Burley, menilai sikap pemain berusia 34 tahun itu tidak banyak berubah.

"Beberapa hal tidak pernah berubah. Mo Salah diganti dan bukan Arne Slot, dan dia sangat marah. Dia benar-benar marah," kata Burley.

"Anda tidak akan menyangka dia akan keluar lapangan dengan senyum di wajahnya karena Anda tidak ingin diganti, tetapi dia keluar lapangan dengan wajah cemberut lagi dan mengabaikan manajer asal Mesir itu."

"Jadi, bukan hanya di Liverpool tempat Mo suka memegang kendali."

Baca Juga: 4 Imbang dan 2 Menang! Tim Asia Belum Terkalahkan di Piala Dunia 2026

Stevie Nicol minta Salah memperbaiki sikap

Mantan bek Liverpool, Stevie Nicol, juga ikut mengkritik respons Salah. Menurutnya, pemain sebesar Salah harus memahami bahwa pergantian pemain merupakan bagian dari strategi tim.

"Jika Anda ingin melangkah jauh dalam kompetisi ini, dia harus memiliki sikap yang lebih baik dan menyadari bahwa setiap orang akan membutuhkan waktu istirahat," ujar Nicol.

Ia menambahkan:

"Anda tidak bisa membiarkan yang disebut bintang Anda marah karena itu memengaruhi semua orang."

"Anda lihat bagaimana hal itu memengaruhi Liverpool. Anda lihat bagaimana hal itu memengaruhi para penggemar. Jadi ya, dia perlu sedikit mengubah sikapnya."

Baca Juga: Iran Curi Perhatian di Piala Dunia 2026 Lewat Dukungan Suporter dan Selebrasi Kontroversial Mohammed Mohebbi

Tetap jadi sosok penting bagi Mesir

Terlepas dari kontroversi tersebut, kontribusi Salah di lapangan tidak bisa dipungkiri.

Pemain yang kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Mesir itu mencatat assist untuk gol Emam Ashour pada menit ke-19. Catatan tersebut membuatnya menjadi pemain Afrika pertama sejak 1966 yang terlibat dalam gol Piala Dunia tepat pada hari ulang tahunnya.

Selain itu, Salah juga beberapa kali menciptakan peluang berbahaya dan sempat memaksa Thibaut Courtois melakukan penyelamatan penting lewat sundulan kepala.

Dengan koleksi 67 gol dan 36 assist bersama tim nasional, peran Salah tetap sangat vital dalam skema pelatih Hossam Hassan.

Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung Argentina vs Aljazair di Piala Dunia 2026

Fokus ke laga berikutnya

Meski gagal mempertahankan keunggulan dan harus puas dengan hasil imbang melawan Belgia, Mesir tetap membawa pulang satu poin berharga dari salah satu tim unggulan dunia.

Kini perhatian The Pharaohs akan beralih ke dua pertandingan berikutnya di Grup G melawan Selandia Baru dan Iran.

Dengan performa Salah yang masih menjadi tumpuan utama, Mesir tentu berharap pembicaraan selanjutnya lebih banyak membahas aksi sang bintang di lapangan daripada ekspresi frustrasinya di pinggir lapangan.

EDITOR: Banu Adikara