← Beranda
Timnas Tunisia Pecat Sabri Lamouchi usai Dibantai Swedia 1-5, Masuk Daftar Langka Pelatih yang Tersingkir saat Piala Dunia
Moch. Rizky Pratama Putra• Selasa, 16 Juni 2026 | 05.08 WIB
Sabri Lamouchi resmi dipecat Tunisia setelah kekalahan telak 1-5 dari Swedia pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026. (Tunisia)

 

JawaPos.com - Kekalahan telak 1-5 dari timnas Tunisia atas Swedia pada laga pembuka Grup F Piala Dunia 2026 berujung pada keputusan drastis. Federasi sepak bola Tunisia resmi memecat Sabri Lamouchi pada Senin (15/6), menjadikannya salah satu dari sedikit pelatih yang kehilangan pekerjaan saat turnamen paling bergengsi dunia masih berlangsung.

Timnas Tunisia tampil jauh di bawah ekspektasi saat menghadapi Swedia di Stadion Monterey, Meksiko. Tim berjuluk Eagles of Carthage kesulitan mengimbangi permainan lawan di piala dunia dan harus menerima kekalahan besar yang langsung mengguncang posisi sang pelatih Sabri lamouchi.

Mengapa Sabri Lamouchi Dipecat Tunisia?

Sabri Lamouchi kehilangan jabatannya setelah timnas Tunisia menelan kekalahan 1-5 dari Swedia pada matchday pertama Grup F Piala Dunia 2026. Hasil tersebut menjadi salah satu kekalahan terbesar Tunisia dalam laga pembuka Piala Dunia.

Baca Juga: Prediksi Timnas Uruguay vs Arab Saudi: Jose Maria Gimenez Berharap Dimainkan

Swedia sudah unggul cepat pada menit ketujuh melalui Yasin Ayari. Gelandang muda itu kembali mencetak gol pada menit akhir pertandingan untuk melengkapi kemenangan timnya.

Tiga gol lain Swedia dicetak Alexander Isak, Viktor Gyokeres, dan Matthias Svanberg. Sementara satu-satunya gol balasan Tunisia lahir melalui Omar Rekik pada menit ke-43.

Kekalahan dengan selisih empat gol itu membuat federasi sepak bola Tunisia mengambil langkah tegas. Lamouchi resmi diberhentikan dari posisi pelatih kepala meski turnamen baru memasuki pertandingan pertama fase grup.

Baca Juga: Profil Roberto Lopes, Bintang Tanjung Verde yang Direkrut Lewat LinkedIn dan Kini Tampil di Piala Dunia

Keputusan tersebut menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi pelatih di ajang sebesar Piala Dunia. Tunisia masih memiliki dua pertandingan tersisa, tetapi federasi memilih melakukan perubahan lebih awal demi menjaga peluang lolos ke fase berikutnya.

Anis Boujelbane Disiapkan Sebagai Pelatih Sementara

Setelah pemecatan Lamouchi, Tunisia bergerak cepat mencari pengganti sementara. Pelatih tim Olimpiade Tunisia, Anis Boujelbane, disebut akan mengambil alih tim utama untuk dua pertandingan sisa fase grup.

Boujelbane diharapkan mampu memperbaiki mental pemain yang terpukul akibat kekalahan telak dari Swedia. Tugasnya tidak mudah karena Tunisia harus meraih hasil maksimal pada laga berikutnya jika ingin menjaga asa bertahan di Piala Dunia 2026.

Perubahan pelatih di tengah kompetisi besar seperti Piala Dunia tergolong sangat jarang terjadi. Sebagian besar federasi biasanya menunggu turnamen selesai sebelum melakukan evaluasi menyeluruh.

Namun, dalam kasus Tunisia, hasil buruk pada pertandingan pertama dianggap cukup untuk memicu keputusan besar tersebut. Federasi tampaknya ingin memberikan efek kejut kepada tim agar mampu bangkit pada dua laga selanjutnya.

Carlos Alberto Parreira, Korban Pertama Pemecatan di Tengah Piala Dunia

Sebelum Sabri Lamouchi, sejarah mencatat hanya sedikit pelatih yang kehilangan pekerjaan saat Piala Dunia masih berlangsung. Salah satu kasus paling terkenal terjadi pada Piala Dunia 1998.

Baca Juga: Pemain Timnas Spanyol yang Kurang Disorot Ini Bisa Jadi Kunci Kesuksesan di Piala Dunia 2026

Pelatih asal Brasil Carlos Alberto Parreira dipecat Arab Saudi setelah dua pertandingan di Grup C. Keputusan itu diambil setelah Arab Saudi menelan dua kekalahan beruntun yang membuat peluang lolos semakin tipis.

Arab Saudi kalah dari Denmark pada laga pertama dan kembali tumbang saat menghadapi tuan rumah Prancis. Hasil tersebut membuat federasi sepak bola Arab Saudi memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Parreira sebelum fase grup berakhir.

Pada pertandingan terakhir melawan Afrika Selatan, Arab Saudi ditangani Mohammed Al-Kharashy. Pergantian itu menjadi salah satu contoh paling langka dalam sejarah Piala Dunia.

Baca Juga: David Raya Siap Bersaing Demi Posisi Kiper Utama Timnas Spanyol di Piala Dunia

Ironisnya, Parreira merupakan pelatih berpengalaman yang kemudian kembali mencatatkan prestasi besar dalam karir kepelatihannya. Namun, tekanan hasil instan di Piala Dunia membuat posisinya tak bisa diselamatkan.

Jose Antonio Camacho dan Kontroversi Piala Dunia 2002

Kasus lain terjadi pada Piala Dunia 2002 yang digelar di Korea Selatan dan Jepang. Saat itu, Jose Antonio Camacho tidak menyelesaikan tugasnya bersama Timnas Spanyol hingga akhir turnamen.

Camacho meninggalkan jabatannya di tengah perjalanan tim. Secara resmi dia disebut memilih mengundurkan diri, meski beredar pula kabar yang menyebut kepergiannya tidak lepas dari tekanan internal yang kuat.

Baca Juga: Gianni Infantino Bikin Kontroversi Lagi, FIFA Ingin Gelar Laga Israel vs Palestina di Turnamen U-15

Setelah kepergian Camacho, posisi pelatih Spanyol diambil alih Inaki Saez. Pergantian tersebut menjadi salah satu peristiwa yang cukup menyita perhatian karena terjadi ketika kompetisi masih berlangsung.

Meski statusnya berbeda dengan pemecatan langsung seperti yang dialami Parreira dan Lamouchi, kasus Camacho tetap masuk dalam daftar pelatih yang tidak menyelesaikan tugasnya hingga akhir Piala Dunia.

Kini, nama Sabri Lamouchi menambah daftar pendek tersebut. Mantan gelandang Inter Milan itu harus mengakhiri kiprahnya bersama Tunisia lebih cepat setelah kekalahan telak dari Swedia, sementara harapan Tunisia di Piala Dunia 2026 kini berada di tangan Anis Boujelbane.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah