← Beranda
3 Masalah Utama yang Dihadapi Carlo Ancelotti setelah Brasil Ditahan Imbang Maroko
M Shofyan Dwi KurniawanSenin, 15 Juni 2026 | 18.33 WIB
Hasil imbang 1-1 melawan Maroko mengungkap sejumlah masalah yang harus segera dibenahi Carlo Ancelotti jika Brasil ingin mewujudkan ambisi meraih gelar Piala Dunia keenam di 2026. (Instagram/@mrancelotti)
 
 

JawaPos.com - Brasil gagal mengawali perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan setelah hanya bermain imbang 1-1 melawan Maroko di Stadion MetLife, New Jersey. 

Meski berhasil menghindari kekalahan berkat gol indah Vinicius Junior, pertandingan tersebut memperlihatkan beberapa persoalan yang harus segera diselesaikan Carlo Ancelotti.

Maroko tampil lebih agresif dan sempat membuat Selecao berada dalam tekanan sepanjang babak pertama.

Baca Juga: Mengapa Carlo Ancelotti Lebih Memilih Igor Thiago Ketimbang Endrick di Laga Pembuka Piala Dunia?

Melansir Sports Illustrated, berikut tiga masalah utama yang menjadi perhatian setelah laga tersebut.

1. Awal Pertandingan yang Terlalu Lambat

Brasil terlihat belum siap ketika peluit awal dibunyikan. Maroko langsung mengambil inisiatif permainan dan mendominasi penguasaan bola pada 10 menit pertama, sekaligus memaksa Selecao lebih banyak bertahan.

Tim asuhan Walid Regragui berulang kali menyerang sisi kiri pertahanan Brasil yang ditempati Douglas Santos. Selain itu, celah di lini tengah juga dimanfaatkan dengan baik oleh Singa Atlas.

Baca Juga: Zlatan Ibrahimovic Puji Kepemimpinan Carlo Ancelotti: Dia Seorang Manajer, Bukan Sekadar Pelatih

Gol Ismael Saibari pada menit ke-21 menjadi bukti nyata rapuhnya organisasi permainan Brasil. Brahim Diaz mendapatkan terlalu banyak ruang untuk mengirim umpan terobosan, sementara Gabriel dan Marquinhos gagal mengantisipasi pergerakan Saibari.

Jika ingin benar-benar bersaing memperebutkan gelar juara, Brasil tidak bisa terus membiarkan lawan mendikte jalannya pertandingan sejak menit awal. Ancelotti harus menemukan cara agar timnya lebih siap dan mampu mengendalikan tempo permainan.

2. Terlalu Bergantung pada Momen Magis Vinicius Junior

Ketika permainan kolektif Brasil belum berjalan maksimal, kualitas individu Vinicius Junior kembali menjadi penyelamat.

Pada menit ke-32, bintang Real Madrid itu mencetak gol spektakuler yang mengubah arah pertandingan. Gol tersebut bukan hanya menyamakan kedudukan, tetapi juga membangkitkan kepercayaan diri para pemain Brasil.

Baca Juga: Hasil Brasil vs Maroko di Piala Dunia 2026: Vinicius Jr Selamatkan Muka Carlo Ancelotti!

Namun, situasi ini sekaligus memunculkan pertanyaan besar: seberapa jauh Brasil bergantung pada kecemerlangan individu?

Sepanjang sejarah, Selecao memang kerap memiliki sosok utama yang menjadi pembeda, mulai dari Pele, Garrincha, Romario hingga Ronaldo. Kini, tampaknya Vinicius Junior sedang dipersiapkan untuk memainkan peran serupa.

Pemain berusia 25 tahun itu memang sangat memahami filosofi Ancelotti setelah bertahun-tahun bekerja sama di Real Madrid. Gol ke gawang Maroko merupakan gol internasional ke-10-nya dalam penampilan ke-50 bersama Brasil.

Meski demikian, terlalu mengandalkan momen magis satu pemain tentu berisiko. Brasil membutuhkan sistem permainan yang lebih solid agar tidak selalu bergantung pada inspirasi individu.

3. Mimpi 'Rumo ao Hexa' Mulai Diuji

Ambisi Brasil untuk meraih gelar Piala Dunia keenam atau yang dikenal dengan slogan "Rumo ao Hexa" masih hidup, tetapi hasil imbang ini menghadirkan tanda tanya baru.

Dalam lima keberhasilan mereka menjadi juara dunia, Brasil selalu memulai turnamen dengan kemenangan. Tradisi tersebut terhenti setelah hanya meraih satu poin melawan Maroko.

Secara historis, Selecao memang jarang gagal menang di laga pembuka. Dari 20 edisi Piala Dunia sebelumnya, mereka mencatat 17 kemenangan dan hanya tiga kali bermain imbang, tanpa pernah kalah.

Baca Juga: Kata-kata Carlo Ancelotti Jelang Timnas Brasil vs Maroko: Kami Mampu Bersaing dengan Tim Mana Pun

Untungnya, perjalanan di Grup C masih cukup terbuka. Brasil akan menghadapi Haiti pada pertandingan berikutnya sebelum menutup fase grup melawan Skotlandia.

Namun, hasil melawan Maroko menjadi pengingat bahwa jalan menuju gelar keenam tidak akan mudah. Carlo Ancelotti kini dihadapkan pada tugas besar: memperbaiki start yang lambat, membangun permainan yang lebih kolektif, dan memastikan Vinicius Junior tidak menjadi satu-satunya sumber inspirasi bagi Selecao.

Jika ketiga persoalan tersebut mampu diatasi, harapan Brasil untuk kembali mengangkat trofi Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2002 masih sangat terbuka.

EDITOR: Edi Yulianto