JawaPos.com - Kontroversi mewarnai laga Grup B Piala Dunia 2026 antara Swiss dan Qatar yang berakhir imbang 1-1. FIFA akhirnya angkat bicara setelah keputusan VAR yang mengesahkan gol Breel Embolo.
Insiden itu memicu tanda tanya besar karena bukti visual teknologi offside semi-otomatis tidak sempat ditampilkan kepada publik.
Gol ke-25 Embolo bersama timnas Swiss lahir dari titik penalti setelah Mahmud Abunda menjatuhkan Remo Freuler yang sedang berebut bola hasil sundulan Embolo. Sebelum penalti dieksekusi, VAR terlebih dahulu memeriksa apakah Abunda berada dalam posisi offside.
Baca Juga: Mantan Wasit Kecam FIFA soal Kontroversi VAR di Laga Swiss vs Qatar
Keputusan akhirnya menyatakan tidak ada pelanggaran offside. Namun, berbeda dari biasanya, pemirsa tidak diperlihatkan animasi grafik yang menjadi bukti visual dari proses pengecekan tersebut.
FIFA Sebut Ada Gangguan Teknis
Melansir From The Spot, dalam pernyataan resminya, FIFA menjelaskan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh kendala teknis yang terjadi sesaat.
“Selama pertandingan Qatar melawan Swiss di San Francisco Bay Arena, gangguan teknis singkat mencegah grafik animasi onside dihasilkan menjelang penalti pada menit ke-14.”
“Masalah tersebut cepat teratasi. Alur kerja VAR tidak terpengaruh oleh masalah ini dan mengikuti prosedur normal dalam memeriksa keputusan di lapangan mengenai onside.”
Baca Juga: Profil Breel Embolo, Striker Swiss yang Mencetak Gol ke Gawang Qatar
FIFA juga menegaskan bahwa garis-garis yang digunakan tim VAR menunjukkan tidak ada pemain Swiss yang berada dalam posisi offside sebelum penalti diberikan.
“Garis-garis yang digunakan oleh VAR untuk memeriksa posisi pemain yang bersangkutan tidak menunjukkan pemain penyerang berada dalam posisi offside dalam salah satu dari dua situasi tepat sebelum keputusan penalti.”
Bagaimana Cara Kerja Teknologi Offside Semi-Otomatis?
Teknologi offside semi-otomatis sebenarnya dirancang untuk mengurangi perdebatan terkait keputusan offside yang sangat tipis.
Sistem ini menggunakan sejumlah kamera khusus yang memantau ribuan titik data pada tubuh 22 pemain sekaligus pergerakan bola. Informasi tersebut kemudian diproses secara otomatis untuk membantu petugas VAR menentukan apakah terjadi offside.
Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan wasit dan petugas VAR, sehingga sistem ini disebut sebagai "semi-otomatis", bukan sepenuhnya otomatis.
Teknologi tersebut sebelumnya telah digunakan di Serie A, La Liga, Liga Champions, dan mulai diterapkan di putaran kelima Piala FA musim 2025/26.
Gary Neville Murka
Tidak munculnya grafik tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan transparansi FIFA, termasuk mantan bek Manchester United, Gary Neville.
Saat menjadi komentator ITV, Neville mengaku sulit menerima keputusan tersebut tanpa adanya bukti visual yang bisa dilihat penonton.
“Mengapa mereka tidak menunjukkannya kepada kita? Mereka melakukan ini di turnamen terakhir. Para penggemar sudah mulai tidak percaya pada FIFA dan teknologi sejak awal. Ada pertanyaan besar tentang itu karena menurut saya itu offside sampai mereka membuktikan sebaliknya.”
sBaca Juga: Kontroversi Penalti Timnas Swiss Lawan Qatar, FIFA Sebut Gangguan Teknis Tak Pengaruhi Keputusan VAR
Neville bahkan melontarkan kritik pedas kepada badan sepak bola dunia tersebut.
“Ini seperti diktator. Jujur saja, ini seperti kediktatoran.”
“Gagasan bahwa mereka menyimpan bukti ini secara internal dan tidak menunjukkannya kepada penggemar negara-negara yang bermain di turnamen. Itu benar-benar tidak masuk akal.”
Meskipun FIFA memastikan proses VAR berjalan normal, absennya grafik offside dalam salah satu momen penting pertandingan tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai transparansi penggunaan teknologi dalam sepak bola modern.