JawaPos.com — UEFA memberikan penugasan istimewa kepada wasit Somalia Omar Artan setelah gagal bertugas di Piala Dunia 2026 akibat ditolak masuk Amerika Serikat. Wasit berusia 34 tahun itu kini dipercaya memimpin Piala Super Eropa 2026 yang mempertemukan Paris Saint-Germain dan Aston Villa di Salzburg pada 12 Agustus mendatang.
Keputusan tersebut menjadi bentuk dukungan UEFA kepada Artan yang sebelumnya kehilangan kesempatan tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Kasus yang menimpanya sempat menjadi sorotan internasional karena berkaitan dengan kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
Baca Juga: Setelah Gagal Bertugas di Piala Dunia 2026, Omar Artan Resmi Ditunjuk UEFA untuk Pimpin Super Cup
Mengapa Omar Artan Gagal Bertugas di Piala Dunia 2026?
Omar Artan sebenarnya telah masuk daftar wasit yang akan bertugas pada Piala Dunia 2026.
Namun, rencana tersebut batal setelah ia ditolak masuk ke Amerika Serikat meski telah mengantongi visa dan dokumen resmi untuk menjalankan tugas dari FIFA.
Penolakan itu terjadi karena Somalia termasuk dalam daftar negara yang terkena pembatasan masuk berdasarkan kebijakan imigrasi yang berlaku di era Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Akibatnya, Artan tidak dapat melanjutkan perjalanan dan harus kembali pulang.
Pemerintah Amerika Serikat kemudian menyatakan Artan memiliki afiliasi dengan organisasi teror.
Tuduhan tersebut membuat peluangnya untuk memimpin pertandingan di Piala Dunia 2026 tertutup meski FIFA telah memberikan penunjukan resmi.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengaku prihatin atas situasi yang menimpa Artan. Namun, ia juga mengakui FIFA tidak memiliki kewenangan penuh untuk mengubah keputusan otoritas imigrasi Amerika Serikat.
"Sayang sekali apa yang menimpa wasit dari Somalia itu. Tapi sekali lagi, kami tak mengendalikan semua hal," ujar Infantino dikutip dari BBC, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: Presiden FIFA Gianni Infantino Sayangkan Wasit Somalia Omar Artan Gagal Masuk AS
UEFA Beri Kesempatan Emas di Piala Super Eropa
Sebagai bentuk penghormatan, UEFA menunjuk Artan untuk memimpin laga Piala Super Eropa 2026. Pertandingan tersebut akan mempertemukan juara Liga Champions, Paris Saint-Germain, melawan pemenang Liga Europa, Aston Villa.
Laga bergengsi itu dijadwalkan berlangsung di Red Bull Arena pada 12 Agustus 2026. Penunjukan tersebut membuat Artan tetap mendapat kesempatan memimpin pertandingan elite meski gagal tampil di Piala Dunia.
UEFA menjelaskan langkah itu merupakan bagian dari kerja sama dengan Confederation of African Football.
Organisasi sepak bola Eropa tersebut ingin menunjukkan solidaritas kepada salah satu wasit terbaik yang dimiliki Afrika saat ini.
Presiden UEFA, Aleksander Čeferin, menyebut kualitas Artan layak mendapat penghargaan. Menurutnya, sepak bola seharusnya menjadi sarana pemersatu yang melampaui batas negara maupun politik.
"Sepakbola diciptakan untuk menyatukan orang-orang, dan UEFA ingin menyampaikan penghormatannya kepada Omar Artan serta kemampuan wasitnya yang luar biasa, yang telah membuatnya mendapatkan nominasi bergengsi ini," kata Ceferin.
Baca Juga: Bagian Jaringan Teroris? Pemerintah AS Ungkap Penyebab Penolakan Wasit Somalia di Piala Dunia 2026
Dukungan CAF untuk Wasit Afrika
Keputusan UEFA juga mendapat sambutan positif dari Presiden CAF, Patrice Motsepe. Ia menilai penunjukan tersebut menjadi pengakuan penting bagi perkembangan kualitas wasit-wasit Afrika di level internasional.
Motsepe menyebut kesempatan memimpin Piala Super Eropa merupakan kehormatan besar, tidak hanya untuk Artan tetapi juga seluruh perangkat pertandingan dari benua Afrika.
Ia berharap langkah itu membuka lebih banyak peluang bagi wasit Afrika tampil di kompetisi elite dunia.
"Ini merupakan kehormatan besar bagi Omar Artan dan para wasit Afrika, serta merupakan contoh yang sangat baik dari sepakbola, yang mampu menyatukan dan mempersatukan orang-orang dari Afrika, Eropa, dan seluruh dunia," ujar Motsepe.
Dari Kegagalan ke Panggung Prestisius
Kisah Omar Artan menjadi salah satu cerita paling menarik menjelang Piala Dunia 2026.
Dalam hitungan hari, ia berubah dari sosok yang kehilangan kesempatan tampil di turnamen terbesar dunia menjadi wasit yang dipercaya memimpin salah satu pertandingan paling bergengsi di kalender UEFA.
Penunjukan tersebut juga mengirim pesan kuat kualitas dan profesionalisme seorang wasit tidak semestinya diukur dari faktor di luar lapangan.
Bagi Artan, tugas di Piala Super Eropa bisa menjadi momen pembuktian sekaligus pelipur lara setelah pengalaman pahit yang dialaminya terkait kebijakan imigrasi Amerika Serikat.