JawaPos.com - Ekuador akan tampil di Piala Dunia 2026 dengan status sebagai salah satu tim paling konsisten dari zona Amerika Selatan.
Meski sempat memulai babak kualifikasi dengan pengurangan tiga poin akibat kasus Byron Castillo, La Tri tetap mampu mengakhiri persaingan di posisi kedua dan memastikan tiket ke putaran final.
Pencapaian tersebut semakin menguatkan keyakinan bahwa generasi pemain Ecuador saat ini merupakan salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola negara tersebut.
Sejumlah nama telah bersinar di level tertinggi Eropa, mulai dari Willian Pacho, Piero Hincapie, hingga Moises Caicedo yang menjadi andalan di klub masing-masing. Sementara itu, Kendry Paez terus dipandang sebagai talenta masa depan yang menjanjikan.
Baca Juga: 2 Cerita Berbeda di Piala Dunia 2026: Korea Selatan Dapat Sambutan Hangat, Senegal Diperiksa
Kekuatan terbesar Ekuador terletak pada sektor pertahanan. Kombinasi Willian Pacho dan Joel Ordonez memberikan keseimbangan antara kekuatan fisik, kecepatan, serta kemampuan membaca permainan.
Di sisi lain, Piero Hincapie yang mampu bermain di beberapa posisi lini belakang membuat skuad semakin fleksibel.
Di lini tengah, peran Moises Caicedo sangat krusial. Gelandang berusia 24 tahun itu bukan hanya bertugas memutus serangan lawan, tetapi juga menjadi penghubung utama antara lini belakang dan lini depan.
Baca Juga: Respons Kritik, New Jersey Bagikan 770 Tiket Gratis Piala Dunia 2026 untuk Warga Lokal
Usia rata-rata skuad yang masih berada pada awal hingga pertengahan 20-an turut menjadi keuntungan tersendiri karena menghadirkan energi dan intensitas tinggi sepanjang pertandingan.
Meski demikian, Ekuador masih memiliki pekerjaan rumah di sektor serangan. Produktivitas gol menjadi salah satu sorotan utama setelah mereka hanya mencetak 14 gol dalam 18 pertandingan kualifikasi.
Catatan tersebut tergolong rendah dibandingkan beberapa pesaing utama di Amerika Selatan.
Ketergantungan terhadap Enner Valencia juga menjadi perhatian.
Penyerang berusia 36 tahun itu masih menjadi tumpuan utama dalam mencetak gol. Jika performanya menurun atau mengalami cedera, Ekuador berpotensi kesulitan menemukan sosok yang mampu menggantikan kontribusinya.
Dari sisi taktik, pelatih Sebastian Beccacece diperkirakan tetap mengandalkan formasi 4-4-1-1 yang selama ini menjadi identitas permainan Ekuador.
Baca Juga: Bagian Jaringan Teroris? Pemerintah AS Ungkap Penyebab Penolakan Wasit Somalia di Piala Dunia 2026
Tim ini tidak terlalu berfokus pada penguasaan bola, melainkan lebih mengutamakan organisasi pertahanan yang rapat dan serangan balik cepat melalui sisi sayap.
Pendekatan tersebut terbukti efektif. Ekuador hanya kebobolan lima gol sepanjang 18 laga kualifikasi, menjadikannya tim dengan pertahanan terbaik di Amerika Selatan.
Meskipun tidak masuk dalam daftar favorit juara, Ekuador berpotensi menjadi lawan yang sangat sulit dihadapi.
Dengan pertahanan yang disiplin dan sejumlah pemain berkualitas di Eropa, mereka memiliki peluang untuk menciptakan kejutan pada Piala Dunia 2026.