JawaPos.com - Nama Gonzalo Higuain masih menjadi salah satu yang paling sering dibicarakan ketika membahas era sulit Timnas Argentina sebelum akhirnya kembali meraih gelar internasional.
Bukan karena minim prestasi, melainkan karena sejumlah momen yang terjadi di pertandingan paling penting.
Padahal, jika melihat statistik sepanjang kariernya, Higuain termasuk salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki Argentina.
Ia mencetak lebih dari 300 gol di level klub dan tim nasional, membela sejumlah klub besar Eropa seperti Real Madrid, Napoli, Juventus, AC Milan, Chelsea, hingga Inter Miami.
Bersama Real Madrid, Higuain sukses memenangkan beberapa gelar La Liga dan menjadi salah satu striker paling produktif di Spanyol.
Saat memperkuat Napoli, ia bahkan mencatatkan musim fenomenal dengan menjadi top skor Serie A 2015/2016 dan memecahkan rekor gol dalam satu musim kompetisi liga Italia.
Di level tim nasional, kontribusinya juga tidak bisa dianggap kecil. Higuain mencetak 31 gol dari 75 penampilan bersama Argentina dan menjadi bagian penting dari generasi yang berisi Lionel Messi, Sergio Aguero, Angel Di Maria, hingga Javier Mascherano.
Baca Juga: Nico Paz Siap Ikuti Jejak Sang Ayah di Timnas Argentina, Scaloni Sudah Siapkan Peran Penting
Namun, perjalanan kariernya bersama Albiceleste selalu diwarnai kenangan pahit pada laga-laga final.
Momen pertama terjadi pada Final Piala Dunia 2014 melawan Jerman.
Saat skor masih imbang, Higuain mendapatkan peluang emas setelah menerima bola yang mengarah ke area pertahanan lawan. Berhadapan dengan kiper, tembakannya justru melebar dari sasaran.
Setahun kemudian, Argentina kembali mencapai Final Copa America 2015 menghadapi Chile. Higuain lagi-lagi memperoleh kesempatan emas di penghujung pertandingan.
Sayangnya, penyelesaian akhirnya belum mampu mengubah skor dan Argentina kalah melalui adu penalti.
Nasib serupa terulang pada Final Copa America Centenario 2016. Higuain mendapatkan peluang menjanjikan setelah memanfaatkan kesalahan lini belakang Chile. Namun, kesempatan tersebut kembali gagal dikonversi menjadi gol.
Tiga final besar secara beruntun berakhir dengan status runner-up bagi Argentina. Situasi itu membuat tekanan kepada Higuain semakin besar karena banyak pihak menilai kegagalan memanfaatkan peluang menjadi salah satu faktor yang menentukan hasil akhir pertandingan.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh Higuain. Setelah kekalahan di Copa America 2016, Lionel Messi bahkan sempat mengumumkan pensiun dari tim nasional karena kecewa dengan rentetan hasil yang dialami Argentina.
Meski akhirnya kembali membela negaranya, peristiwa tersebut menunjukkan betapa berat tekanan yang dirasakan generasi itu.
Meski demikian, menilai karier Higuain hanya dari tiga momen tersebut tentu tidak sepenuhnya adil. Ia tetap tercatat sebagai salah satu pencetak gol terbaik Argentina sepanjang masa dan berhasil meraih banyak gelar di level klub.
Baca Juga: Kalahkan Mauritania, Emiliano Martinez Akui Timnas Argentina Main Buruk
Dalam sepak bola, terkadang sejarah memang lebih sering mengingat satu kegagalan besar dibanding ratusan keberhasilan yang datang sebelumnya.
Dan bagi Gonzalo Higuain, tiga final bersama Argentina menjadi bagian dari kisah yang terus melekat, meski kariernya sebenarnya dipenuhi pencapaian luar biasa.