← Beranda
Prediksi Swiss di Piala Dunia 2026: Tekad Baja Granit Xhaka Bisa Akhiri Kutukan 16 Besar?
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 17 Mei 2026 | 19.20 WIB
Granit Xhaka memimpin ambisi Swiss untuk menembus perempat final Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. (Instagram @granitxhaka)

 

JawaPos.com — Swiss datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal tak terkalahkan sepanjang kualifikasi dan kepercayaan diri tinggi usai tampil solid di Eropa.

Dipimpin Granit Xhaka serta pelatih Murat Yakin, Swiss membidik langkah lebih jauh di Amerika Utara setelah berkali-kali mentok di babak 16 besar dalam sejarah Piala Dunia.

Baca Juga: Prediksi Qatar di Piala Dunia 2026: Julen Lopetegui Dikejar Misi Menebus Malu di Panggung Dunia

Mampukah Swiss Lepas dari Label Tim “Nyaris”?

Swiss memang bukan tim yang sering menjadi sorotan utama di Piala Dunia, tetapi konsistensi mereka layak diperhitungkan.

Sejak awal 2000-an, Swiss rutin lolos ke putaran final meski pencapaian terbaik mereka masih sebatas perempat final pada 1934, 1938, dan 1954.

Dalam delapan penampilan terakhir di Piala Dunia, Swiss selalu tersingkir di babak 16 besar atau lebih cepat.

Rekor itu membuat publik mulai mempertanyakan apakah generasi sekarang mampu mengubah sejarah yang selama ini terasa stagnan.

Murat Yakin membawa optimisme baru setelah Swiss menjalani 2025 tanpa kekalahan.

Meski sempat muncul ketegangan internal jelang Euro 2024, federasi tetap mempertahankan Yakin dan keputusan itu terbukti tepat setelah Swiss melaju hingga perempat final turnamen tersebut.

Kepercayaan diri Swiss makin meningkat karena mereka tergabung di grup yang relatif bersahabat bersama Qatar, Bosnia dan Herzegovina, serta Kanada. Jika mampu menjaga konsistensi, peluang lolos fase grup terbuka sangat lebar.

Baca Juga: Prediksi Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Drama Lawan Italia Bikin Tim Kuda Hitam Ini Percaya Diri!

Granit Xhaka Masih Jadi Jantung Permainan Swiss

Di usia matang, Granit Xhaka tetap menjadi figur paling penting dalam skuad Swiss.

Gelandang yang sempat dicap temperamental saat membela Arsenal itu berhasil membangun ulang reputasinya setelah membawa Bayer Leverkusen meraih double winners domestik Jerman musim 2023/2024.

Xhaka bukan hanya pemimpin di lapangan, tetapi juga otak permainan Swiss. Kemampuan distribusi bola, visi bermain, serta mental bertandingnya membuat Swiss tetap kompetitif saat menghadapi lawan-lawan elite Eropa.

“Pragmatisme lebih penting dibanding filosofi,” menjadi pendekatan Murat Yakin dalam membangun tim ini.

Swiss bisa tampil dominan saat menghadapi lawan level menengah, tetapi juga mampu bermain reaktif dan menyerang balik cepat ketika melawan tim kuat.

Selain Xhaka, Swiss memiliki beberapa pemain berpengalaman seperti Manuel Akanji, Remo Freuler, hingga Ricardo Rodríguez. Kombinasi pemain senior dan generasi muda membuat kedalaman skuad mereka terlihat cukup seimbang.

Nama Johan Manzambi juga mulai mencuri perhatian menjelang Piala Dunia 2026. Gelandang 20 tahun itu dipuji karena umpan presisi, kemampuan menusuk langsung ke pertahanan lawan, serta penyelesaian dua kaki yang efektif.

Baca Juga: Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2

Rekor Kualifikasi Jadi Modal Besar Swiss

Swiss lolos ke Piala Dunia 2026 tanpa menelan kekalahan dalam enam pertandingan kualifikasi. Mereka mencatat empat kemenangan dan dua hasil imbang dengan produktivitas 14 gol serta hanya kebobolan dua kali.

Breel Embolo menjadi top skor Swiss sepanjang kualifikasi dengan empat gol. Sementara Dan Ndoye dan Rúben Vargas sama-sama menyumbang tiga assist yang menunjukkan efektivitas serangan dari sektor sayap.

Meski sempat ditahan Kosovo dan Slovenia, Swiss mampu menjaga stabilitas permainan hingga akhir fase grup.

Kemenangan kandang dan tandang atas Swedia menjadi penentu utama keberhasilan mereka mengamankan tiket ke Amerika Utara.

Jadwal Swiss di fase grup juga cukup menarik perhatian. Mereka akan menghadapi Qatar pada 13 Juni di Levi’s Stadium sebelum bertemu Bosnia dan Herzegovina pada 18 Juni di SoFi Stadium dan Kanada pada 24 Juni di BC Place.

Dari tiga laga tersebut, duel melawan Kanada diprediksi menjadi penentu juara grup. Kedua tim sama-sama memiliki organisasi permainan disiplin dan mengandalkan kecepatan transisi.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Curhat Usai Moto3 Catalunya 2026! Sulit Jinakkan Motor hingga Harus Lewat Q1

Kekuatan Swiss Ada di Struktur Tim dan Kiper Elite

Salah satu kekuatan terbesar Swiss terletak pada struktur permainan yang rapi dan pengalaman pemain belakang.

Setelah Yann Sommer pensiun dari tim nasional, posisi penjaga gawang kini diisi Gregor Kobel yang tampil impresif bersama Borussia Dortmund.

Di depan Kobel berdiri duet bek tangguh Manuel Akanji dan Nico Elvedi. Kehadiran mereka membuat Swiss sulit ditembus, terbukti dari hanya dua gol kebobolan sepanjang kualifikasi.

Swiss diperkirakan memakai formasi 4-3-3 selama turnamen berlangsung. Murat Yakin sempat menggunakan 3-4-3 di Euro sebelumnya, tetapi kini kembali ke sistem yang lebih familiar demi menjaga keseimbangan permainan.

Lini tengah menjadi sektor paling kuat Swiss karena dipenuhi pemain dengan karakter berbeda.

Selain Xhaka dan Freuler, ada Fabian Rieder, Denis Zakaria, Djibril Sow, Ardon Jashari, hingga Manzambi yang siap bergantian mengisi posisi inti.

Namun, kelemahan Swiss tetap terlihat di lini depan. Mereka tidak memiliki striker kelas dunia yang benar-benar tajam dan konsisten mencetak gol di level elite.

Breel Embolo memang menjadi andalan utama, tetapi produktivitasnya masih kerap naik turun. Jika lini depan gagal efektif, Swiss bisa kembali mengalami nasib serupa seperti edisi-edisi sebelumnya.

Seberapa Jauh Swiss Bisa Melangkah?

Secara kualitas, Swiss memang belum masuk kategori favorit juara dunia. Namun, kemenangan atas Jerman, Spanyol, dan Portugal pada era Murat Yakin menunjukkan mereka mampu mengejutkan tim besar dalam satu pertandingan.

Target realistis Swiss tetap lolos ke fase gugur dan mencoba menembus perempat final untuk pertama kali dalam era modern. Jika semua pemain inti fit dan performa tetap stabil, mimpi itu bukan hal mustahil.

Masalah terbesar Swiss justru ada pada kedalaman lini serang dan tekanan mental saat fase knockout. Mereka beberapa kali tampil solid di fase grup, tetapi gagal menunjukkan ketajaman ketika menghadapi pertandingan hidup-mati.

Jika kembali tersingkir lebih awal, publik kemungkinan akan menyebut generasi ini menyia-nyiakan peluang emas.

Apalagi mereka datang ke Piala Dunia 2026 dengan skuad matang, pelatih berpengalaman, dan grup yang cukup ideal untuk melangkah jauh.

Namun, jika Granit Xhaka mampu memimpin tim dengan konsisten, Swiss bisa menjadi salah satu kuda hitam paling berbahaya di turnamen musim panas nanti.Nama Penulis: MOCH. RIZKY PRATAMA PUTRA - mochrizkypp@outlook.com

Rubrik/Kanal: Sepak Bola Dunia

Tagging: Piala Dunia, Swiss 2026, Granit Xhaka, Murat Yakin, Timnas Swiss

EDITOR: Banu Adikara