← Beranda
Format Baru Piala Dunia 2026 Tuai Pergunjingan, Akankah Kualitas Turnamen Menurun?
Andre Rizal HanafiJumat, 15 Mei 2026 | 18.57 WIB
Presiden FIFA Gianni Infantino memastikan Iran tetap tampil di Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. (FIFA)

 JawaPos.com - Piala Dunia 2026 dipastikan menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Federasi sepak bola dunia, FIFA, resmi menambah jumlah peserta dari 32 menjadi 48 negara.

Perubahan besar ini membuat turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko semakin ramai sekaligus memunculkan banyak perdebatan.

Format baru tersebut dianggap sebagai langkah ambisius FIFA untuk memperluas jangkauan sepak bola dunia.

Lebih banyak negara kini memiliki peluang tampil di panggung internasional yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

Baca Juga: Bersinar di Getafe, Zaid Romero Berpeluang Jadi Bek Keturunan Arab di Skuat Argentina di Piala Dunia 2026

Namun di balik peluang besar itu, muncul pula kekhawatiran mengenai kualitas pertandingan hingga kondisi fisik para pemain.

Pada format terbaru, 48 negara peserta dibagi ke dalam 12 grup yang masing-masing berisi empat tim.

Dua tim terbaik di setiap grup otomatis lolos ke fase gugur, ditambah delapan tim peringkat ketiga terbaik. Setelah itu, kompetisi berlanjut ke babak 32 besar hingga final.

Perubahan tersebut membuat jumlah pertandingan meningkat drastis. Jika sebelumnya Piala Dunia hanya memainkan 64 laga, kini total pertandingan mencapai 104 pertandingan. Artinya, turnamen akan berlangsung lebih panjang dengan jadwal yang jauh lebih padat.

Baca Juga: Tekanan Besar Jelang Piala Dunia 2026, Mbappe Akui Timnas Prancis Tak Bisa Selalu Ciptakan Keajaiban

FIFA menilai format ini sebagai evolusi alami sepak bola modern. Kepala pengembangan sepak bola global FIFA, Arsene Wenger, sebelumnya menyebut bahwa semakin banyak negara yang layak mendapat kesempatan tampil di Piala Dunia.

Menurutnya, sepak bola kini berkembang lebih merata dan tidak lagi didominasi negara-negara tradisional Eropa maupun Amerika Selatan.

Penambahan peserta juga membuka jalan bagi sejumlah negara kecil mencatat sejarah baru. Tim-tim seperti Curacao, Uzbekistan, Yordania, hingga Cape Verde disebut berpeluang tampil untuk pertama kalinya di putaran final Piala Dunia. Kehadiran mereka dianggap bisa memberikan warna baru dalam kompetisi.

Fenomena kejutan dari negara nonunggulan sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa turnamen internasional terakhir.

Pada Piala Dunia Wanita 2023 misalnya, sejumlah tim yang tidak difavoritkan mampu mencuri perhatian dan bahkan melaju ke fase gugur. Hal serupa diharapkan terjadi di Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Real Madrid Tumbangkan Real Oviedo, Gonzalo Garcia Senang Cetak Gol Lagi di Bernabeu

Kritik Mengalir Deras

Meski begitu, kritik terhadap format baru juga terus bermunculan. Salah satu sorotan utama adalah potensi lahirnya pertandingan timpang pada fase grup. Perbedaan kualitas antarnegara dinilai bisa membuat sejumlah laga berjalan kurang kompetitif.

Beberapa pengamat menilai pertandingan seperti Jerman melawan Curacao atau Spanyol menghadapi Cape Verde berpotensi berlangsung berat sebelah.

Situasi ini dikhawatirkan membuat fase grup kehilangan tensi persaingan yang selama ini menjadi daya tarik utama Piala Dunia.

Selain itu, sistem baru juga memungkinkan tim lolos ke fase gugur tanpa meraih kemenangan. Dengan peluang tambahan untuk tim peringkat ketiga terbaik, sebuah negara tetap bisa melangkah hanya dengan hasil imbang. Kondisi tersebut dianggap dapat mengubah karakter kompetitif turnamen.

Baca Juga: Drama Pekan Penentuan Serie A: Jadwal Derby Roma Tuai Protes dari Banyak Pihak

Di sisi lain, FIFA diyakini akan memperoleh keuntungan finansial yang jauh lebih besar dari format baru ini.

Jumlah pertandingan yang meningkat otomatis mendatangkan lebih banyak pemasukan dari hak siar, sponsor, hingga penjualan tiket. Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama juga diprediksi akan menjadi pasar yang sangat menguntungkan bagi FIFA.

Namun keuntungan finansial itu datang bersama tantangan besar. Jadwal pertandingan yang padat membuat kondisi fisik pemain menjadi perhatian serius.

Para pemain top Eropa sudah menjalani kalender kompetisi yang sangat sibuk bersama klub masing-masing sepanjang musim.

Dengan kemungkinan tampil hingga delapan pertandingan dalam sekitar 38 hari, risiko kelelahan dan cedera diperkirakan meningkat tajam.

Belum lagi faktor perjalanan antarkota di tiga negara tuan rumah yang memiliki jarak sangat jauh serta perbedaan zona waktu yang signifikan.

Kombinasi Jadwal Padat

Laporan Football Benchmark bahkan menyebut bahwa kombinasi jadwal padat, perjalanan panjang, dan cuaca berbeda di tiap kota bisa menjadi tantangan terbesar selama turnamen berlangsung.

Pemain dituntut menjaga kondisi fisik dalam level terbaik di tengah tekanan kompetisi yang sangat tinggi.

Meski menuai kritik, antusiasme terhadap Piala Dunia 2026 tetap sangat besar. Banyak pecinta sepak bola penasaran melihat bagaimana format baru ini berjalan dalam praktiknya. Apalagi turnamen tersebut akan menjadi ajang pertama dengan 48 peserta dalam sejarah Piala Dunia.

Format baru memang membawa risiko tersendiri, tetapi di saat yang sama juga membuka peluang lahirnya cerita-cerita kejutan dari negara yang sebelumnya jarang mendapat sorotan.

FIFA kini menghadapi tantangan besar untuk memastikan kualitas kompetisi tetap terjaga di tengah perubahan masif yang dilakukan.

Piala Dunia 2026 pada akhirnya bukan hanya soal bertambahnya jumlah tim, melainkan juga tentang bagaimana sepak bola terus berkembang menjadi olahraga global yang semakin inklusif.

Kini publik tinggal menunggu apakah perubahan besar ini benar-benar menjadi langkah maju atau justru menghadirkan masalah baru bagi turnamen paling prestisius di dunia tersebut.

EDITOR: Banu Adikara