JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak selalu berjalan mulus sepanjang hidup. Ketika anak masih kecil, orang tua terbiasa menjadi sosok yang menentukan aturan, memberikan nasihat, mengarahkan pilihan, bahkan mengambil keputusan demi kebaikan anak.
Namun, ketika anak sudah dewasa, hubungan tersebut perlu berubah.
Anak yang telah dewasa bukan lagi seseorang yang membutuhkan orang tua untuk mengatur setiap langkahnya. Ia membutuhkan hubungan yang lebih setara—hubungan yang dibangun atas dasar rasa hormat, kepercayaan, kebebasan, dan komunikasi yang sehat.
Di sinilah banyak orang tua mengalami kesulitan.
Mereka mungkin berkata, “Saya sudah melakukan begitu banyak untuk anak saya. Mengapa sekarang dia menjauh?”
Jawabannya tidak selalu sederhana. Terkadang, jarak muncul bukan karena anak tidak mencintai orang tuanya, melainkan karena ia merasa tidak didengarkan, terlalu dikendalikan, terus-menerus dikritik, atau tidak mendapatkan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Kabar baiknya, hubungan yang renggang tidak selalu berarti hubungan tersebut telah berakhir.
Dalam psikologi hubungan, perubahan kecil dalam cara kita berkomunikasi dan memperlakukan seseorang dapat menciptakan perubahan besar dalam kualitas hubungan. Membangun kembali kedekatan dengan anak yang sudah dewasa mungkin membutuhkan waktu, tetapi proses itu dapat dimulai dari perilaku orang tua sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (20/8), terdapat tujuh perilaku yang dapat membantu.
1. Berhenti Berusaha Mengubah Anak Anda
Salah satu kesalahan paling umum dalam hubungan orang tua dan anak dewasa adalah keinginan untuk terus memperbaiki anak.
Orang tua mungkin merasa bahwa anaknya salah memilih pasangan, salah mengatur uang, salah memilih pekerjaan, salah mengasuh anak, atau menjalani gaya hidup yang tidak sesuai dengan harapan keluarga.
Niatnya mungkin baik.
Namun, niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.
Ketika seseorang sudah dewasa, terlalu sering diberi tahu apa yang harus dilakukan dapat membuatnya merasa tidak dihormati sebagai individu yang mampu mengambil keputusan sendiri.
Jika Anda ingin hubungan menjadi lebih dekat, cobalah mengubah pertanyaan dari:
“Kenapa kamu melakukan itu?”
menjadi:
“Bagaimana kamu melihat situasinya?”
Perubahan kecil ini sangat penting.
Pertanyaan pertama terdengar seperti penghakiman. Pertanyaan kedua menunjukkan bahwa Anda ingin memahami.
Anak Anda mungkin tetap membuat keputusan yang tidak Anda setujui. Itu adalah bagian dari kenyataan bahwa ia sudah dewasa.
Membangun hubungan yang sehat bukan berarti Anda harus menyetujui semua pilihannya.
Artinya, Anda mampu mengatakan:
“Saya mungkin melihatnya secara berbeda, tetapi saya menghargai bahwa ini adalah keputusanmu.”
Kalimat seperti itu dapat memberikan sesuatu yang sangat penting dalam hubungan orang dewasa: rasa dihormati.
2. Dengarkan Tanpa Langsung Memberikan Nasihat
Kadang-kadang anak tidak datang kepada orang tua untuk mendapatkan solusi.
Mereka hanya ingin didengarkan.
Sayangnya, orang tua sering kali mendengar masalah anak lalu langsung mencari jalan keluar.
“Kalau begitu, kamu harus…”
“Seharusnya kamu…”
“Kalau Ibu jadi kamu…”
“Dari dulu Ayah sudah bilang…”
Mungkin nasihat tersebut benar. Tetapi pada saat tertentu, anak mungkin tidak membutuhkan solusi.
Ia membutuhkan seseorang yang mengatakan:
“Kedengarannya itu memang berat.”
Atau:
“Saya bisa mengerti kenapa kamu merasa seperti itu.”
Atau bahkan:
“Kamu ingin saya memberikan pendapat, atau kamu hanya ingin saya mendengarkan?”
Pertanyaan terakhir sangat sederhana, tetapi bisa mengubah dinamika percakapan.
Dengan memberikan pilihan, Anda menunjukkan bahwa anak Anda memiliki kendali atas percakapan tersebut.
Mendengarkan juga bukan berarti diam sambil menunggu giliran berbicara.
Mendengarkan berarti berusaha memahami pengalaman orang lain sebelum menilai pengalaman tersebut.
Cobalah mengulang inti yang Anda dengar.
“Jadi, kamu sebenarnya bukan marah karena pekerjaannya saja. Kamu merasa tidak dihargai di sana, benar?”
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar hadir.
Dan ketika seseorang merasa didengarkan, ia biasanya lebih mudah merasa aman untuk membuka diri.
3. Belajar Meminta Maaf Tanpa Membela Diri
Ini mungkin salah satu perilaku paling sulit bagi orang tua.
Terutama ketika mereka merasa, “Saya sudah berusaha menjadi orang tua sebaik mungkin.”
Tidak ada orang tua yang sempurna.
Banyak orang tua melakukan kesalahan bukan karena tidak mencintai anaknya, tetapi karena mereka dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, memiliki pengetahuan yang terbatas, atau menggunakan pola pengasuhan yang menurut mereka benar pada saat itu.
Namun, ketika anak dewasa mengatakan bahwa sesuatu yang dilakukan orang tua dulu menyakitinya, respons terbaik tidak selalu berupa pembelaan.
Misalnya, anak berkata:
“Waktu kecil, saya merasa Ayah tidak pernah mendengarkan saya.”
Orang tua bisa menjawab:
“Tidak mungkin. Ayah bekerja keras untuk kalian. Semua itu demi keluarga.”
Pernyataan tersebut mungkin benar dari sudut pandang orang tua.
Tetapi masalahnya, respons itu tidak menyentuh perasaan anak.
Alternatif yang lebih sehat adalah:
“Waktu itu Ayah mungkin terlalu sibuk dan tidak menyadari bahwa kamu merasa seperti itu. Kalau memang itu yang kamu rasakan, Ayah minta maaf.”
Perhatikan bahwa meminta maaf tidak harus berarti mengakui bahwa Anda adalah orang tua yang buruk.
Anda hanya mengakui bahwa pengalaman anak Anda memang nyata baginya.
Ada perbedaan besar antara:
“Maaf kalau kamu merasa tersinggung.”
dan:
“Maaf karena perkataan saya membuat kamu terluka.”
Yang kedua menunjukkan tanggung jawab.
Permintaan maaf yang tulus juga tidak selalu diikuti dengan tuntutan agar anak segera memaafkan.
Anda mungkin perlu bersabar.
Kepercayaan yang rusak dalam waktu bertahun-tahun biasanya tidak kembali hanya karena satu percakapan.
4. Hormati Batasan Pribadi Anak Anda
Ketika anak masih kecil, orang tua berhak mengetahui hampir semua hal tentang kehidupannya.
Tetapi ketika anak sudah dewasa, batasannya berubah.
Ia memiliki kehidupan pribadi, hubungan pribadi, keuangan pribadi, rumah tangga pribadi, dan keputusan pribadi.
Karena itu, kedekatan tidak boleh dibangun dengan cara menerobos batas.
Misalnya, jika anak tidak ingin membicarakan masalah rumah tangganya, jangan terus mendesak.
Jika ia membutuhkan waktu sendiri, jangan langsung menganggap bahwa ia membenci Anda.
Jika ia tidak membalas pesan dalam beberapa jam, jangan mengirim sepuluh pesan berturut-turut.
Memberikan ruang bukan berarti menyerah.
Justru terkadang, ruang membuat seseorang merasa lebih aman untuk kembali mendekat.
Anda dapat mengatakan:
“Saya ada kalau kamu membutuhkan saya. Tidak perlu menjawab sekarang.”
Kalimat sederhana seperti ini menyampaikan dua pesan sekaligus:
Saya peduli kepada kamu.
dan
Saya menghormati ruangmu.
Itulah salah satu bentuk kasih sayang yang lebih matang.
5. Tunjukkan Ketertarikan pada Kehidupan Mereka, Bukan Hanya Kesalahan Mereka
Bayangkan jika setiap kali Anda berbicara dengan seseorang, topik yang muncul selalu tentang kekurangannya.
“Kamu masih belum punya rumah?”
“Kapan menikah?”
“Pekerjaanmu bagaimana?”
“Kenapa anakmu begitu?”
“Kenapa kamu tidak menabung?”
Lama-kelamaan, orang tersebut mungkin akan merasa bahwa setiap percakapan dengan Anda adalah sesi evaluasi.
Akibatnya, ia mulai menghindari percakapan.
Jika ingin membangun kembali hubungan, cobalah kembali mengenal anak Anda sebagai seorang manusia dewasa.
Apa yang sedang ia minati?
Apa yang membuatnya bersemangat?
Apa yang sedang ia pelajari?
Film atau musik apa yang ia sukai?
Apa impiannya sekarang?
Apa yang membuatnya bangga?
Tidak semua percakapan harus berisi nasihat atau kekhawatiran.
Kadang-kadang, hubungan justru tumbuh melalui percakapan sederhana.
“Tadi kamu cerita tentang pekerjaan barumu. Bagaimana perkembangannya?”
atau:
“Kamu pernah bilang sedang belajar sesuatu yang baru. Sekarang masih menikmatinya?”
Ketertarikan yang tulus menunjukkan bahwa Anda ingin mengenal anak Anda yang sekarang, bukan terus berinteraksi dengan gambaran tentang dirinya ketika masih berusia sepuluh atau lima belas tahun.
6. Jangan Menggunakan Rasa Bersalah untuk Mendapatkan Kedekatan
Ini sangat penting.
Kalimat seperti:
“Setelah semua yang Ibu lakukan untukmu…”
“Kamu sudah tidak peduli lagi kepada orang tua.”
“Nanti kalau kami sudah tidak ada, kamu akan menyesal.”
“Kamu tidak pernah punya waktu untuk keluarga.”
mungkin keluar karena rasa sakit.
Orang tua merasa kehilangan kedekatan dan ingin anak kembali.
Namun, rasa bersalah jarang menghasilkan kedekatan yang sehat.
Anak mungkin akhirnya datang, menelepon, atau memenuhi permintaan.
Tetapi ia melakukannya karena tertekan, bukan karena merasa aman dan dekat.
Jika tujuan Anda adalah membangun hubungan jangka panjang, cobalah mengganti tuntutan dengan kejujuran emosional.
Daripada:
“Kamu tidak pernah datang.”
Cobalah:
“Ibu sebenarnya merindukanmu. Kalau suatu saat kamu punya waktu, Ibu senang kalau kita bisa bertemu.”
Perbedaannya sangat besar.
Yang pertama menciptakan rasa bersalah.
Yang kedua mengungkapkan kebutuhan tanpa memaksa.
Kedekatan yang sehat lahir ketika seseorang merasa bebas untuk datang, bukan merasa harus datang karena takut membuat orang tuanya kecewa.
7. Konsisten, Sabar, dan Beri Waktu
Jika hubungan Anda dengan anak sudah lama mengalami masalah, jangan berharap semuanya berubah setelah satu percakapan.
Mungkin Anda sudah meminta maaf.
Mungkin Anda sudah berjanji akan berubah.
Tetapi anak Anda mungkin masih berhati-hati.
Itu bukan berarti usaha Anda gagal.
Bisa jadi ia sedang menunggu untuk melihat apakah perubahan tersebut benar-benar bertahan.
Misalnya, jika selama bertahun-tahun Anda sering mengkritiknya, satu minggu tanpa kritik mungkin belum cukup untuk membuatnya percaya bahwa pola tersebut benar-benar berubah.
Perubahan membutuhkan konsistensi.
Jika sebelumnya Anda selalu memberikan nasihat tanpa diminta, mulai belajar menahan diri.
Jika sebelumnya Anda mudah marah ketika anak tidak setuju, belajar merespons dengan tenang.
Jika sebelumnya Anda sering melanggar batasannya, mulai menghormati batas tersebut.
Sedikit demi sedikit, anak mungkin mulai melihat bahwa sesuatu memang berbeda.
Kepercayaan dibangun bukan terutama melalui janji.
Kepercayaan dibangun melalui pengalaman yang berulang.
Ketika seseorang berkali-kali mengalami bahwa Anda aman untuk diajak berbicara, tidak mudah menghakimi, dan menghormati batasannya, hubungan dapat perlahan berubah.
Jangan Berusaha Mengembalikan Masa Lalu
Salah satu hal yang perlu diterima orang tua adalah bahwa hubungan dengan anak dewasa tidak akan sama seperti ketika anak masih kecil.
Dan itu bukan sesuatu yang buruk.
Dulu, anak mungkin membutuhkan Anda untuk hampir segala hal.
Sekarang, ia mungkin hanya membutuhkan Anda untuk menjadi tempat yang aman ketika ia ingin berbicara.
Dulu, Anda mungkin menentukan jadwal hidupnya.
Sekarang, Anda mungkin hanya bisa mengundangnya makan malam dan menunggu apakah ia bersedia datang.
Dulu, kasih sayang mungkin terlihat seperti merawat, melindungi, dan mengatur.
Sekarang, kasih sayang mungkin terlihat seperti mempercayai, menghormati, mendengarkan, dan memberi ruang.
Itulah bentuk cinta yang berbeda.
Jangan berusaha mengembalikan hubungan ke masa lalu.
Bangun hubungan yang baru dengan versi anak Anda yang sekarang.
Pada Akhirnya, Anak Anda Tidak Selalu Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna
Mereka membutuhkan orang tua yang bersedia belajar.
Orang tua yang bisa mengatakan:
“Saya mungkin pernah salah.”
“Saya ingin memahami kamu.”
“Saya tidak harus selalu setuju denganmu untuk tetap mencintaimu.”
“Saya akan menghormati batasanmu.”
“Saya ada di sini jika kamu membutuhkan saya.”
Hubungan antara orang tua dan anak dewasa tidak dibangun melalui satu percakapan besar.
Sering kali, hubungan tersebut dibangun melalui puluhan interaksi kecil: sebuah pesan tanpa tuntutan, percakapan tanpa kritik, permintaan maaf yang tulus, penghormatan terhadap batasan, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Jika saat ini hubungan Anda terasa jauh, jangan langsung menyimpulkan bahwa semuanya sudah terlambat.
Mulailah dari satu perubahan.
Dengarkan lebih banyak. Kurangi menghakimi. Hormati batasan. Minta maaf ketika memang salah. Jangan gunakan rasa bersalah. Tunjukkan ketertarikan yang tulus. Dan yang paling penting, konsisten.
Karena terkadang, membangun kembali hubungan bukan tentang menemukan kata-kata yang sempurna.
Ini tentang menunjukkan, melalui perilaku yang terus-menerus, bahwa:
“Kamu tetap penting bagi saya, dan saya bersedia belajar bagaimana mencintaimu dengan cara yang lebih baik.