← Beranda
Ingin Anak Remaja Berhenti Galau Akibat Sering Scroll Ponsel? Lakukan 7 Perilaku Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 19 Agustus 2026 | 23.05 WIB
seseorang yang membantu anaknya yang galau akibat scroll ponsel./Magnific/magnific

JawaPos.com - Di zaman sekarang, ponsel hampir tidak pernah lepas dari tangan anak remaja. Bangun tidur, yang dicari adalah ponsel.

Saat makan, tangan masih ingin membuka media sosial. Ketika belajar, notifikasi membuat konsentrasi terpecah. Bahkan sebelum tidur, sebagian remaja masih menghabiskan waktu berjam-jam untuk scroll video pendek, membaca komentar, melihat kehidupan orang lain, atau berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi berikutnya.

Awalnya mungkin terlihat seperti hiburan biasa.

Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan scroll tanpa batas dapat membuat suasana hati anak semakin tidak stabil. Mereka menjadi mudah bosan, sulit berkonsentrasi, gampang membandingkan diri dengan orang lain, merasa tertinggal, bahkan mengalami perasaan "galau" tanpa benar-benar tahu apa penyebabnya.

Sebagai orang tua, situasi ini tentu membuat khawatir.

Masalahnya, semakin orang tua berkata, "Sudah, berhenti main HP!", semakin besar kemungkinan anak merasa dikontrol. Akibatnya, muncul pertengkaran, anak semakin defensif, dan ponsel justru menjadi tempat pelarian.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Daripada hanya mengambil ponsel atau memarahi anak, orang tua dapat membantu membangun kebiasaan yang membuat anak secara perlahan kembali mendapatkan kendali atas perhatian, emosi, dan kehidupannya.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (19/8), terdapat tujuh perilaku yang dapat diterapkan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.

1. Jangan langsung menyita ponsel, tetapi ajak anak memahami apa yang sedang ia rasakan

Kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah langsung menyerang perilakunya.

"Jangan main HP terus!"

"Kenapa sih dari tadi scroll?"

"Kamu kecanduan HP!"

Kalimat seperti itu mungkin muncul karena orang tua merasa khawatir. Namun bagi remaja, ucapan tersebut dapat terdengar seperti tuduhan.

Cobalah mengubah pendekatan.

Alih-alih bertanya, "Kenapa kamu main HP terus?", tanyakan:

"Setelah kamu scroll lama, biasanya kamu merasa lebih tenang atau malah semakin capek?"

Pertanyaan ini membuat anak mulai mengamati dirinya sendiri.

Dalam psikologi, kemampuan mengenali dan memberi nama pada emosi merupakan bagian penting dari regulasi emosi. Anak yang mampu menyadari bahwa dirinya sedang bosan, kesepian, cemas, kecewa, atau hanya membutuhkan hiburan akan lebih mudah menemukan cara yang sehat untuk mengatasi perasaan tersebut.

Bisa jadi anak bukan benar-benar ingin bermain ponsel selama tiga jam.

Ia mungkin sedang menghindari rasa kesepian.

Mungkin sedang kecewa dengan teman.

Mungkin merasa tidak percaya diri.

Mungkin sedang stres karena sekolah.

Atau mungkin hanya tidak tahu harus melakukan apa ketika sedang sendirian.

Karena itu, jangan hanya melihat ponsel sebagai masalah. Lihat juga kebutuhan emosional yang mungkin sedang dicari anak melalui ponsel.

2. Buat jeda dari scrolling, bukan larangan total

Remaja biasanya sulit menerima perubahan yang ekstrem.

Jika sebelumnya ia menggunakan ponsel selama berjam-jam lalu tiba-tiba seluruh akses dibatasi, kemungkinan besar yang muncul adalah perlawanan.

Pendekatan yang lebih realistis adalah menciptakan jeda digital.

Misalnya, buat aturan sederhana:

tidak menggunakan ponsel ketika makan bersama;
tidak membawa ponsel ke tempat tidur;
ada waktu tertentu untuk belajar tanpa notifikasi;
satu jam sebelum tidur digunakan untuk aktivitas yang lebih tenang;
setelah bangun tidur, tidak langsung membuka media sosial.

Tujuannya bukan membuat anak membenci teknologi.

Tujuannya adalah mengajarkan bahwa anak yang sehat bukan anak yang tidak menggunakan teknologi, tetapi anak yang mampu menggunakan teknologi tanpa dikendalikan olehnya.

Orang tua juga perlu ikut menjalankan aturan tersebut.

Akan sulit meminta anak berhenti scroll ketika orang tua sendiri terus memegang ponsel di depan anak.

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari.

3. Ganti kebiasaan scroll dengan aktivitas yang memberikan kepuasan nyata

Mengurangi ponsel tanpa memberikan alternatif sering kali tidak berhasil.

Bayangkan seorang anak terbiasa mengisi setiap waktu kosong dengan video pendek. Ketika ponselnya disimpan, tiba-tiba ia memiliki banyak waktu kosong.

Jika tidak ada kegiatan pengganti, rasa bosan akan muncul dan ia kemungkinan besar kembali mengambil ponsel.

Karena itu, orang tua perlu membantu anak menemukan aktivitas yang benar-benar membuatnya terlibat.

Tidak harus aktivitas mahal.

Bisa berupa olahraga, memasak, menggambar, bermain musik, membaca, berkebun, memperbaiki sesuatu, bermain dengan hewan peliharaan, berjalan kaki, atau sekadar berbicara dengan anggota keluarga.

Yang penting adalah aktivitas tersebut membuat anak melakukan sesuatu, bukan hanya menerima rangsangan dari layar.

Aktivitas fisik juga sangat berguna. Berjalan kaki selama beberapa menit, berolahraga, atau bermain di luar rumah dapat menjadi cara sederhana untuk memecah pola duduk-scroll-scroll-scroll yang monoton.

Perlahan, anak akan menemukan bahwa rasa nyaman dan senang tidak hanya bisa diperoleh dari layar.

4. Ajarkan anak membedakan kehidupan nyata dengan kehidupan di media sosial

Salah satu sumber kegelisahan remaja adalah perbandingan sosial.

Di media sosial, anak dapat melihat teman yang tampak lebih cantik, lebih tampan, lebih populer, lebih kaya, lebih berprestasi, lebih bahagia, atau memiliki kehidupan yang tampaknya sempurna.

Masalahnya, anak sering membandingkan kehidupan nyata miliknya dengan versi terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan di internet.

Orang tua dapat membantu dengan menjelaskan:

"Apa yang kamu lihat di media sosial adalah bagian dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan kehidupannya."

Seseorang dapat mengunggah foto ketika sedang tertawa, tetapi tidak mengunggah ketika sedang menangis.

Seseorang dapat menunjukkan keberhasilan, tetapi tidak menunjukkan kegagalan yang terjadi sebelumnya.

Seseorang dapat terlihat percaya diri di kamera, tetapi belum tentu merasa percaya diri dalam kehidupan sehari-hari.

Anak perlu memahami bahwa media sosial bukan cermin sempurna dari realitas.

Ketika anak mulai berkata, "Semua orang lebih bahagia daripada aku," jangan langsung menjawab, "Itu tidak benar."

Lebih baik tanyakan:

"Menurutmu, berapa persen dari kehidupan mereka yang benar-benar kamu lihat?"

Pertanyaan sederhana itu dapat membantu anak berpikir lebih kritis.

5. Bangun kebiasaan berbicara setiap hari tanpa menghakimi

Anak yang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan orang tua biasanya memiliki tempat yang lebih aman untuk membicarakan masalah.

Namun, komunikasi tidak harus selalu berupa percakapan serius selama satu jam.

Justru percakapan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih efektif.

Tanyakan hal-hal sederhana:

"Bagaimana hari kamu?"

"Ada sesuatu yang membuat kamu kesal hari ini?"

"Apa hal paling menyenangkan hari ini?"

"Kalau kamu bisa mengulang satu kejadian hari ini, apa yang ingin kamu ubah?"

Yang paling penting bukan banyaknya pertanyaan, tetapi bagaimana orang tua merespons jawabannya.

Ketika anak bercerita, jangan selalu buru-buru memberikan solusi.

Kadang-kadang anak tidak membutuhkan ceramah.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Jika setiap cerita berakhir dengan nasihat, kritik, atau perbandingan dengan anak lain, lama-kelamaan anak mungkin memilih bercerita kepada internet daripada kepada orang tuanya.

Karena itu, cobalah menjadi tempat yang aman sebelum menjadi pemberi nasihat.

6. Bantu anak memperbaiki rutinitas tidur

Kebiasaan scroll hingga larut malam dapat membuat masalah menjadi semakin rumit.

Remaja yang tidur terlalu larut mungkin bangun dalam keadaan lelah, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, dan kurang bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari.

Kemudian, karena merasa lelah dan tidak bersemangat, ia kembali mencari hiburan melalui ponsel.

Terbentuklah sebuah lingkaran:

lelah → bosan → scroll → tidur terlambat → semakin lelah → kembali scroll.

Karena itu, salah satu kebiasaan yang penting adalah membuat rutinitas malam yang lebih tenang.

Misalnya:

ponsel diletakkan di luar tempat tidur;
lampu kamar dibuat lebih nyaman;
melakukan aktivitas santai sebelum tidur;
membaca buku;
melakukan percakapan ringan dengan keluarga;
menjaga jadwal tidur dan bangun yang relatif konsisten.

Tidak perlu mengubah semuanya dalam satu malam.

Mulailah dari satu perubahan kecil.

Misalnya, 30 menit tanpa scrolling sebelum tidur.

Jika sudah terbiasa, waktunya dapat diperpanjang secara bertahap.

7. Jangan hanya meminta anak mengurangi ponsel—bantu ia menemukan kehidupan yang ingin dijalani

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Jika kehidupan nyata anak terasa kosong, membosankan, penuh tekanan, atau tidak memiliki tujuan, ponsel akan selalu menjadi tempat pelarian yang sangat menarik.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya:

"Bagaimana membuat anak berhenti bermain HP?"

Tetapi:

"Bagaimana membuat kehidupan nyata anak terasa cukup menarik sehingga ia tidak perlu terus-menerus melarikan diri ke layar?"

Bantu anak memiliki sesuatu yang ingin ia kejar.

Mungkin sebuah olahraga.

Mungkin keterampilan.

Mungkin proyek kecil.

Mungkin hobi.

Mungkin komunitas.

Mungkin target akademik.

Mungkin hubungan yang lebih dekat dengan keluarga dan teman.

Anak yang memiliki aktivitas bermakna akan memiliki lebih banyak alasan untuk meletakkan ponselnya.

Orang tua tidak harus menentukan semuanya.

Tanyakan:

"Kalau kamu punya waktu lebih banyak tanpa HP, sebenarnya kamu ingin melakukan apa?"

Kemudian dengarkan jawabannya.

Bisa jadi anak memiliki keinginan yang selama ini tidak pernah mendapat kesempatan untuk berkembang.

Jangan Jadikan Ponsel sebagai Musuh

Ponsel bukan satu-satunya penyebab anak mengalami kegelisahan atau perubahan suasana hati.

Perasaan galau pada remaja dapat dipengaruhi banyak hal, seperti perubahan perkembangan, tekanan akademik, hubungan pertemanan, konflik keluarga, kurang tidur, masalah kepercayaan diri, dan berbagai faktor lainnya.

Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua masalah anak disebabkan oleh ponsel.

Yang lebih penting adalah melihat pola keseluruhan kehidupan anak.

Apakah ia masih menikmati aktivitas yang dulu disukai?

Apakah ia masih mau berbicara dengan keluarga?

Apakah tidurnya cukup?

Apakah ia masih bertemu teman?

Apakah ia memiliki kegiatan di luar layar?

Apakah penggunaan ponselnya mengganggu sekolah, tidur, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari?

Jika perubahan emosi anak berlangsung lama, semakin berat, atau sampai mengganggu fungsi sehari-hari, jangan hanya mengandalkan aturan penggunaan ponsel. Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental yang sesuai.

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna

Mereka membutuhkan orang tua yang hadir.

Ketika anak terus-menerus memegang ponsel, mungkin reaksi pertama orang tua adalah marah.

Tetapi sebelum mengatakan, "Taruh HP-mu!", cobalah bertanya kepada diri sendiri:

"Apa yang sebenarnya sedang dicari anak saya di balik layar itu?"

Mungkin hiburan.

Mungkin perhatian.

Mungkin penerimaan.

Mungkin pelarian dari tekanan.

Mungkin sekadar rasa bosan.

Atau mungkin ia sedang mencari tempat untuk merasa baik ketika kehidupan nyata sedang terasa berat.

Tujuh perilaku di atas bukanlah cara untuk membuat anak tiba-tiba berhenti menggunakan ponsel.

Tujuannya jauh lebih penting: membantu anak mendapatkan kembali kendali atas dirinya sendiri.

Mulailah dari hal kecil.

Dengarkan tanpa menghakimi. Ciptakan jeda dari layar. Bangun rutinitas tidur. Ajak anak bergerak. Bicarakan media sosial secara kritis. Temukan aktivitas yang bermakna. Dan yang paling penting, hadir dalam kehidupan mereka.

Karena pada akhirnya, solusi terbaik bukan sekadar mengurangi waktu layar.

Solusinya adalah membangun kehidupan nyata yang cukup bermakna sehingga anak tidak perlu terus-menerus melarikan diri ke layar.

EDITOR: Hanny Suwindari