← Beranda
Menurut Psikologi, Orang yang Tumbuh Terpisah dari Keluarga dan Teman Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini
Irfan FerdiansyahSelasa, 28 Juli 2026 | 18.17 WIB
seseorang yang lebih cocok menjadi pemimpin./Freepik.

JawaPos.com - Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang hangat, penuh kasih sayang, dan dikelilingi oleh orang-orang terdekat. 

Ada sebagian individu yang mengalami masa pertumbuhan dalam keterpisahan dari keluarga atau teman—baik karena keadaan seperti perceraian, perpisahan geografis, trauma, atau kondisi sosial yang memaksa mereka menjalani hidup secara independen sejak dini. 

Menurut psikologi, pengalaman seperti ini dapat membentuk perilaku dan karakter seseorang secara mendalam.

Meskipun setiap individu memiliki cara masing-masing dalam menghadapi kesepian dan keterpisahan, para psikolog telah mengidentifikasi pola-pola perilaku tertentu yang sering muncul pada mereka yang tumbuh jauh dari lingkungan sosial yang mendukung. 

Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh perilaku yang biasanya ditunjukkan oleh orang-orang yang tumbuh terpisah dari keluarga dan teman menurut psikologi:

1. Sangat Mandiri, Terkadang Sampai Menolak Bantuan

Individu yang terbiasa menghadapi hidup sendiri sejak usia muda sering mengembangkan sikap mandiri yang ekstrem. 

Mereka merasa harus menyelesaikan segalanya sendiri karena tidak terbiasa mengandalkan orang lain. 

Dalam banyak kasus, hal ini membuat mereka sulit menerima bantuan, bahkan ketika sangat membutuhkannya. 

Di balik sikap mandiri ini, sering kali tersembunyi luka masa lalu—rasa kecewa karena dulu tidak ada yang hadir untuk membantu mereka saat dibutuhkan.

2. Sulit Mempercayai Orang Lain

Ketika seseorang tumbuh tanpa kedekatan emosional yang stabil, kepercayaan bisa menjadi barang langka. 

Mereka mungkin pernah mengalami pengkhianatan, pengabaian, atau kehilangan, sehingga secara tidak sadar membangun "tembok pertahanan" dalam hubungan interpersonal. 

Mereka bisa tampak ramah secara permukaan, tetapi sangat berhati-hati dalam membuka sisi pribadi mereka karena takut disakiti kembali.

3. Cenderung Menyembunyikan Emosi

Seseorang yang tumbuh dalam keterasingan atau minim dukungan emosional sering kali terbiasa memendam perasaan. 

Mereka belajar sejak dini bahwa mengekspresikan emosi tidak selalu menghasilkan respons yang menenangkan, sehingga lebih memilih untuk menekan atau menyembunyikannya. 

Dalam jangka panjang, ini bisa menciptakan kebiasaan tidak sehat, seperti menarik diri saat mengalami stres atau merasa kesepian tanpa tahu bagaimana meminta pelukan atau dukungan.

4. Lebih Nyaman Menyendiri daripada Bersosialisasi

Bagi banyak orang, kebersamaan adalah sumber energi dan kebahagiaan. 

Namun bagi mereka yang tumbuh terpisah dari keluarga dan teman, menyendiri bisa terasa jauh lebih aman. 

Mereka sering merasa canggung dalam interaksi sosial atau tidak tahu bagaimana membangun kedekatan secara emosional. 

Akibatnya, mereka mungkin memilih untuk menjaga jarak dan menikmati waktu sendiri karena itulah zona nyaman mereka.

5. Cenderung Menjadi Pengamat yang Tajam

Karena terbiasa memperhatikan situasi sosial dari luar lingkaran, orang-orang ini kerap menjadi pengamat yang tajam. 

Mereka memiliki kemampuan membaca emosi orang lain dengan akurat, bahkan ketika tidak diungkapkan secara langsung.

Ini bisa menjadi mekanisme bertahan hidup yang dikembangkan saat mereka harus membaca situasi demi menjaga diri dari potensi ancaman emosional.

6. Kesulitan Menetapkan dan Memelihara Hubungan Dekat

Keterikatan emosional yang kuat bukanlah sesuatu yang alami bagi mereka. 

Akibatnya, menjalin dan mempertahankan hubungan dekat—baik dalam pertemanan maupun percintaan—bisa menjadi tantangan besar. 

Mereka mungkin tampak tertutup, tidak konsisten, atau bahkan menghindar ketika hubungan mulai menjadi terlalu dekat. 

Mereka butuh waktu lebih lama untuk merasa aman dan nyaman dalam sebuah ikatan yang intim.

7. Memiliki Ketahanan Emosional yang Tinggi, Tapi Rawan Mengalami Krisis Internal

Mereka yang tumbuh terpisah sering kali terlihat kuat dari luar. 

Mereka mampu menghadapi berbagai tekanan hidup dengan kepala tegak dan tidak mudah terguncang secara emosional. 

Namun di balik ketangguhan itu, banyak dari mereka menyimpan kerinduan akan kehangatan, rasa memiliki, dan penerimaan yang tidak mereka dapatkan di masa lalu. 

Jika tidak ditangani dengan sehat, perasaan-perasaan tersebut bisa memicu krisis internal seperti depresi, kecemasan, atau krisis identitas.

Penutup: Antara Luka Lama dan Kekuatan Baru

Tidak semua yang tumbuh jauh dari keluarga dan teman menjadi pribadi yang tertutup dan kesepian. 

Banyak dari mereka yang berhasil memproses pengalaman pahitnya dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan. 

Namun penting untuk memahami bahwa perilaku-perilaku yang disebutkan di atas bukanlah kelemahan, melainkan respons psikologis yang terbentuk sebagai mekanisme bertahan hidup.

Bagi orang-orang di sekitar mereka, empati dan kesabaran adalah kunci. 

Sementara bagi mereka sendiri, membuka diri secara perlahan terhadap hubungan yang sehat dan belajar kembali cara mempercayai serta mencintai bisa menjadi proses panjang—namun sangat mungkin dilakukan.

Jika Anda mengenal seseorang dengan karakteristik seperti ini, atau Anda sendiri mengalaminya, ketahuilah bahwa tidak ada kata terlambat untuk sembuh, tumbuh, dan terhubung kembali—baik dengan diri sendiri maupun dengan dunia.

EDITOR: Hanny Suwindari