← Beranda
Jika Anda Tidak Ingin Membesarkan Anak Laki-Laki yang Tidak Suka Olahraga, Hindari 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 15 Juli 2026 | 16.16 WIB
seseorang yang membesarkan anak laki-laki./Magnific/pressfoto

JawaPos.com - Di era digital seperti sekarang, banyak orang tua merasa khawatir ketika anak laki-lakinya lebih memilih bermain gawai dibandingkan berlari di lapangan.

Padahal, olahraga bukan hanya soal kebugaran fisik. Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa aktivitas fisik juga berperan penting dalam membangun kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, pengendalian emosi, hingga ketahanan mental.

Namun, minat anak terhadap olahraga tidak muncul begitu saja. Cara orang tua mendidik, memberikan contoh, dan menciptakan suasana di rumah memiliki pengaruh yang besar terhadap bagaimana anak memandang aktivitas fisik.

Perlu dipahami bahwa tidak semua anak harus menjadi atlet atau menyukai sepak bola. Setiap anak memiliki minat yang berbeda. Akan tetapi, bila tujuan Anda adalah menumbuhkan kebiasaan hidup aktif dan membuat anak menikmati olahraga, ada beberapa pola asuh yang justru dapat menghambatnya.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (14/7), terdapat tujuh perilaku yang sebaiknya dihindari menurut berbagai temuan dalam psikologi perkembangan dan psikologi motivasi.

1. Memaksa Anak Berolahraga dengan Ancaman atau Hukuman

Kesalahan pertama yang sering dilakukan orang tua adalah memaksa anak mengikuti olahraga tertentu dengan ancaman.

Misalnya, "Kalau tidak ikut latihan, kamu tidak boleh main."

Dalam psikologi motivasi, tekanan seperti ini hanya membangun motivasi ekstrinsik. Anak berolahraga bukan karena menikmati aktivitas tersebut, melainkan karena takut dihukum. Akibatnya, ketika tekanan dari orang tua hilang, keinginan untuk berolahraga juga ikut menghilang.

Sebaliknya, anak yang diberi kesempatan memilih jenis olahraga sesuai minatnya cenderung memiliki motivasi intrinsik yang lebih kuat dan bertahan dalam jangka panjang.

2. Terlalu Sering Mengkritik Kemampuan Anak

Kalimat seperti:

"Kamu lambat sekali."
"Masa begitu saja tidak bisa?"
"Lihat temanmu, dia jauh lebih hebat."

Mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya cukup besar terhadap rasa percaya diri anak.

Psikologi menunjukkan bahwa kritik yang terus-menerus dapat menurunkan self-esteem. Anak akhirnya menghubungkan olahraga dengan rasa malu dan kegagalan.

Lama-kelamaan, ia akan memilih menghindari olahraga daripada menghadapi kemungkinan dikritik lagi.

3. Membandingkan Anak dengan Teman atau Saudaranya

Perbandingan hampir tidak pernah menghasilkan motivasi yang sehat.

Ketika orang tua terus mengatakan bahwa saudara atau teman lebih kuat, lebih cepat, atau lebih hebat dalam olahraga, anak justru merasa dirinya tidak cukup baik.

Menurut teori perbandingan sosial, kebiasaan ini dapat memunculkan rasa rendah diri dan membuat anak kehilangan minat mencoba hal-hal baru.

Fokus yang lebih sehat adalah membandingkan perkembangan anak dengan dirinya sendiri. Apakah hari ini ia lebih percaya diri daripada bulan lalu? Apakah daya tahannya meningkat? Kemajuan kecil seperti inilah yang patut diapresiasi.

4. Terlalu Melindungi Anak dari Aktivitas Fisik

Ada orang tua yang melarang anak berlari karena takut jatuh, melarang bermain bola karena khawatir cedera, atau selalu membatasi aktivitas luar ruangan.

Niatnya memang baik, tetapi perlindungan yang berlebihan dapat membuat anak kehilangan kesempatan mengeksplorasi kemampuan fisiknya.

Dalam psikologi perkembangan, pengalaman mencoba, gagal, lalu bangkit kembali merupakan bagian penting dari pembentukan rasa percaya diri.

Anak yang jarang diberi kesempatan bergerak aktif biasanya menjadi lebih ragu terhadap kemampuan tubuhnya sendiri.

5. Memberikan Contoh yang Bertolak Belakang

Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.

Jika orang tua terus menyuruh anak berolahraga tetapi mereka sendiri hampir tidak pernah bergerak, anak akan menangkap pesan yang berbeda.

Teori pembelajaran sosial dari psikolog Albert Bandura menjelaskan bahwa anak cenderung meniru perilaku orang-orang yang menjadi panutannya.

Karena itu, berjalan kaki bersama, bersepeda saat akhir pekan, atau sekadar bermain badminton di halaman rumah sering kali lebih efektif daripada ceramah panjang tentang pentingnya olahraga.

6. Terlalu Fokus pada Prestasi

Tidak semua anak akan menjadi juara.

Masalah muncul ketika setiap latihan hanya dinilai dari hasil pertandingan, jumlah gol, atau medali yang diperoleh.

Tekanan seperti ini membuat olahraga terasa seperti beban.

Psikologi menunjukkan bahwa orientasi pada proses umumnya menghasilkan motivasi yang lebih kuat dibandingkan orientasi pada hasil semata.

Puji usaha anak, kedisiplinannya datang latihan, keberaniannya mencoba, atau semangatnya bekerja sama dalam tim. Hal-hal tersebut merupakan fondasi yang jauh lebih penting daripada kemenangan sesaat.

7. Membiarkan Gawai Menggantikan Aktivitas Fisik

Perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari. Namun, ketika waktu bermain gim, media sosial, atau menonton video jauh lebih banyak daripada aktivitas fisik, anak akan semakin sulit tertarik pada olahraga.

Bukan berarti gawai harus dilarang sepenuhnya. Yang diperlukan adalah keseimbangan.

Orang tua dapat membuat aturan waktu layar yang konsisten sekaligus menyediakan alternatif kegiatan yang menyenangkan, seperti bermain bola bersama, berenang, hiking ringan, atau sekadar berjalan santai di taman.

Ketika aktivitas fisik dikaitkan dengan momen kebersamaan yang menyenangkan, anak akan lebih mudah membangun kebiasaan tersebut.

Mengapa Minat Berolahraga Penting?

Psikologi modern melihat olahraga sebagai bagian dari perkembangan anak secara menyeluruh.

Aktivitas fisik membantu meningkatkan suasana hati melalui pelepasan hormon endorfin, melatih kemampuan mengatasi tantangan, memperkuat hubungan sosial, sekaligus mengajarkan nilai disiplin dan kerja sama.

Yang lebih penting lagi, kebiasaan aktif sejak kecil sering kali terbawa hingga dewasa, sehingga berkontribusi pada kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.

Penutup

Membesarkan anak yang menyukai olahraga bukan berarti memaksa mereka menjadi atlet profesional. Tujuan utamanya adalah membantu mereka membangun hubungan yang positif dengan aktivitas fisik sehingga bergerak menjadi bagian alami dari gaya hidup mereka.

Dengan menghindari tujuh perilaku di atas—memaksa, terlalu banyak mengkritik, membandingkan dengan orang lain, terlalu protektif, tidak memberi teladan, hanya mengejar prestasi, serta membiarkan gawai mendominasi waktu luang—orang tua dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya minat anak terhadap olahraga.

Pada akhirnya, anak yang merasa didukung, dihargai, dan diberi kebebasan untuk menemukan aktivitas yang ia sukai memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang aktif, sehat, dan percaya diri. Perlu diingat bahwa setiap anak unik. 

Jika seorang anak tidak menyukai satu jenis olahraga, bukan berarti ia tidak akan menyukai aktivitas fisik sama sekali. Tugas orang tua adalah membantu mereka menemukan bentuk gerak yang sesuai dengan kepribadian dan minatnya.

EDITOR: Hanny Suwindari