← Beranda
Jika Anak-anak Sudah Dewasa Jarang Berkunjung atau Menelepon, Mungkin Anda Menunjukkan 8 Perilaku Ini Tanpa Disadari Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Jumat, 27 Maret 2026 | 15.58 WIB
seseorang yang jarang menerima telepon dari anaknya. (Freepik/freepik)

 

 

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak memang mengalami perubahan seiring waktu. Saat anak-anak tumbuh dewasa, mereka mulai memiliki kehidupan sendiri—pekerjaan, pasangan, hingga tanggung jawab baru. Namun, ketika komunikasi mulai terasa semakin jarang, bahkan nyaris hilang, banyak orang tua merasa bingung, sedih, atau bahkan tersinggung.

Sebelum menyimpulkan bahwa anak Anda “tidak peduli”, penting untuk melihat dari sudut pandang psikologi. Terkadang, tanpa disadari, ada pola perilaku tertentu dari orang tua yang justru membuat anak dewasa menjaga jarak. Dilansir dari Expert Editor, terdapat 8 perilaku yang mungkin menjadi penyebabnya.

1. Terlalu Mengontrol Kehidupan Anak

Banyak orang tua merasa mereka hanya ingin membantu. Namun, ketika nasihat berubah menjadi tuntutan atau kontrol, anak dewasa bisa merasa tidak dipercaya.

Psikologi menunjukkan bahwa individu dewasa membutuhkan otonomi. Jika setiap keputusan mereka dikritik atau diarahkan, mereka cenderung menjauh demi menjaga kebebasan dan kesehatan mental.

Tanda-tandanya:

Sering memberi tahu “seharusnya kamu…”
Ikut campur dalam keputusan pribadi (pekerjaan, pasangan, gaya hidup)
2. Sering Mengkritik Daripada Menghargai

Kritik yang terus-menerus, bahkan jika dimaksudkan sebagai “masukan”, bisa terasa melelahkan secara emosional.

Anak dewasa lebih mungkin menghindari komunikasi jika setiap interaksi membuat mereka merasa tidak cukup baik.

Contoh:

Mengomentari penampilan, pekerjaan, atau pilihan hidup
Jarang memberikan pujian atau apresiasi
3. Membuat Anak Merasa Bersalah

Kalimat seperti:

“Kamu sekarang sudah lupa sama orang tua”
“Dulu ibu/ayah sudah berkorban banyak…”

Mungkin terasa wajar, tapi dalam psikologi, ini disebut sebagai guilt-tripping. Ini bisa membuat anak merasa tertekan, bukan terdorong untuk lebih dekat.

Alih-alih mendekat, mereka justru menghindari interaksi untuk mengurangi rasa bersalah tersebut.

4. Tidak Menghargai Batasan (Boundaries)

Setiap orang dewasa memiliki batasan pribadi—baik emosional, waktu, maupun privasi.

Jika orang tua:

Menelepon terus-menerus tanpa mempertimbangkan waktu
Memaksa untuk tahu semua hal
Tidak menerima kata “tidak”

Maka anak bisa merasa tidak dihormati dan memilih menjaga jarak.

5. Selalu Membandingkan dengan Orang Lain

Perbandingan adalah salah satu hal yang paling merusak hubungan.

Kalimat seperti:

“Anak si A lebih sukses”
“Kenapa kamu tidak seperti saudaramu?”

Dapat menurunkan harga diri dan menciptakan jarak emosional.

Dalam psikologi, ini memicu rasa tidak aman dan membuat seseorang enggan membuka diri.

6. Terlalu Bergantung Secara Emosional

Wajar jika orang tua ingin dekat dengan anak. Namun, jika anak menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan, tekanan itu bisa terasa berat bagi mereka.

Anak dewasa bisa merasa:

Bertanggung jawab atas emosi orang tua
Terbebani untuk selalu hadir

Akibatnya, mereka menjauh untuk menjaga keseimbangan hidupnya sendiri.

7. Sulit Menerima Perubahan

Banyak orang tua masih melihat anak mereka sebagai “anak kecil”, padahal mereka sudah dewasa.

Contohnya:

Tidak menganggap pendapat anak sebagai setara
Mengabaikan keputusan mereka

Dalam psikologi perkembangan, pengakuan terhadap identitas dewasa sangat penting untuk menjaga hubungan yang sehat.

8. Kurang Mendengarkan dengan Empati

Komunikasi bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan.

Jika setiap percakapan:

Selalu diarahkan ke pengalaman orang tua
Tidak memberi ruang anak untuk bercerita
Atau langsung memberi solusi tanpa memahami perasaan

Maka anak bisa merasa tidak didengar, dan akhirnya enggan berbagi.

Penutup: Refleksi, Bukan Menyalahkan

Jika Anda merasa beberapa poin di atas “terasa dekat”, itu bukan berarti Anda orang tua yang buruk. Justru sebaliknya—kesadaran adalah langkah pertama menuju hubungan yang lebih baik.

Dalam psikologi, hubungan yang sehat dibangun dari:

Rasa saling menghormati
Komunikasi terbuka
Dan penerimaan tanpa syarat

Mulailah dengan langkah kecil:

Dengarkan tanpa menghakimi
Kurangi kritik, perbanyak apresiasi
Hargai batasan anak

Sering kali, perubahan kecil dari orang tua bisa membuka kembali pintu kedekatan yang selama ini terasa tertutup.***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti