← Beranda
Anak-anak yang Tumbuh di Rumah dengan Kondisi Keuangan Sulit Biasanya Menunjukkan 8 Perilaku Keuangan Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 14 Maret 2026 | 21.22 WIB
seseorang yang tumbuh dengan kondisi keuangan yang sulit (freepik/sealgraph)

 

 

JawaPos.com - Kondisi keuangan dalam keluarga memiliki pengaruh besar terhadap cara seorang anak memandang uang ketika ia tumbuh dewasa. Anak-anak yang besar di rumah dengan keterbatasan finansial sering kali mengembangkan pola pikir dan kebiasaan tertentu terkait uang.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil membentuk hubungan seseorang dengan keamanan, risiko, dan pengelolaan sumber daya. Ketika uang menjadi sesuatu yang langka atau sering menjadi sumber stres di rumah, anak-anak belajar memahami nilai uang dengan cara yang berbeda dibanding mereka yang tumbuh dalam kondisi finansial stabil.

Menariknya, pengalaman ini tidak selalu berdampak negatif. Banyak orang yang tumbuh dalam keterbatasan justru mengembangkan kebiasaan finansial yang kuat, disiplin, dan realistis.

Dilansir dari Silicon Canals, terdapat delapan perilaku keuangan yang sering muncul pada orang yang tumbuh di rumah dengan kondisi keuangan sulit, menurut perspektif psikologi.

1. Sangat Berhati-hati dalam Mengeluarkan Uang

Salah satu kebiasaan paling umum adalah sikap sangat berhati-hati saat membelanjakan uang.

Sejak kecil mereka terbiasa mendengar kalimat seperti:

“Kita tidak bisa beli itu sekarang.”

“Uangnya harus dipakai untuk yang penting dulu.”

Pengalaman ini membuat mereka terbiasa berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu. Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan pembentukan mindset kelangkaan (scarcity mindset) yang membuat seseorang lebih sensitif terhadap risiko kehilangan sumber daya.

Akibatnya, ketika dewasa mereka cenderung mempertimbangkan manfaat jangka panjang sebelum melakukan pengeluaran.

2. Memiliki Naluri Menabung yang Kuat

Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi finansial terbatas sering belajar bahwa uang tidak selalu tersedia kapan saja.

Hal ini mendorong mereka mengembangkan kebiasaan menyimpan uang untuk masa depan. Bahkan ketika penghasilan sudah stabil, mereka tetap merasa lebih aman jika memiliki tabungan.

Secara psikologis, perilaku ini terkait dengan kebutuhan akan rasa aman finansial. Tabungan menjadi simbol perlindungan dari pengalaman sulit yang pernah mereka lihat atau rasakan di masa kecil.

3. Sulit Merasa Nyaman Mengeluarkan Uang untuk Diri Sendiri

Meski memiliki uang yang cukup, banyak orang yang tumbuh dalam keterbatasan merasa bersalah ketika membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.

Mereka sering berpikir:

“Apakah ini benar-benar perlu?”

“Uangnya seharusnya disimpan saja.”

Dalam psikologi, ini disebut sebagai financial guilt, yaitu rasa bersalah terhadap pengeluaran yang sebenarnya tidak bermasalah.

Kebiasaan ini muncul karena sejak kecil mereka belajar bahwa uang harus digunakan secara sangat hati-hati.

4. Cenderung Sangat Menghargai Nilai Kerja Keras

Anak-anak yang melihat orang tua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sering tumbuh dengan penghargaan tinggi terhadap usaha dan kerja.

Mereka memahami bahwa uang tidak datang dengan mudah.

Akibatnya, ketika dewasa mereka cenderung:

tidak mudah menyia-nyiakan uang

lebih menghargai penghasilan sendiri

memiliki etos kerja yang kuat

Dalam banyak kasus, pengalaman ini justru membentuk mentalitas yang tangguh.

5. Lebih Kreatif dalam Mengelola Sumber Daya

Keterbatasan sering memaksa seseorang menjadi kreatif.

Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi finansial sulit biasanya terbiasa:

memperbaiki barang daripada langsung membeli baru

mencari alternatif yang lebih murah

memanfaatkan apa yang sudah ada

Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai resourcefulness, yaitu kemampuan memaksimalkan sumber daya yang tersedia.

Keterampilan ini sangat berharga dalam kehidupan dewasa.

6. Lebih Sensitif terhadap Ketidakpastian Finansial

Orang yang pernah mengalami masa keuangan sulit sering memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi terhadap ketidakpastian ekonomi.

Misalnya:

lebih cepat khawatir saat ada pengeluaran besar

lebih berhati-hati dalam mengambil risiko finansial

lebih fokus pada stabilitas dibanding spekulasi

Dari sudut pandang psikologi, ini adalah bentuk mekanisme perlindungan diri yang berkembang dari pengalaman masa lalu.

7. Memiliki Empati Lebih Besar terhadap Orang yang Kesulitan

Tumbuh dalam keterbatasan juga dapat meningkatkan empati.

Mereka lebih mudah memahami perjuangan orang lain yang menghadapi masalah keuangan karena pernah berada dalam situasi yang sama.

Akibatnya, mereka sering:

lebih dermawan

lebih peduli pada kondisi sosial

lebih peka terhadap ketidakadilan ekonomi

Pengalaman pribadi sering menjadi sumber kuat bagi berkembangnya empati sosial.

8. Sangat Menghargai Stabilitas Finansial

Bagi orang yang pernah mengalami ketidakpastian ekonomi di rumah, stabilitas menjadi sesuatu yang sangat penting.

Ketika dewasa, mereka sering memprioritaskan:

pekerjaan yang stabil

penghasilan yang konsisten

keamanan finansial jangka panjang

Bagi mereka, stabilitas bukan hanya soal uang, tetapi juga rasa aman dalam kehidupan.

Penutup

Tumbuh dalam keluarga dengan kondisi keuangan sulit memang dapat membentuk berbagai pola pikir tentang uang. Namun pengalaman tersebut tidak selalu menjadi hambatan.

Banyak orang justru mengembangkan kebiasaan finansial yang kuat, seperti disiplin menabung, menghargai kerja keras, dan lebih bijak dalam mengelola pengeluaran.

Psikologi menunjukkan bahwa masa kecil membentuk hubungan kita dengan uang, tetapi bukan berarti hubungan itu tidak bisa berkembang. Dengan kesadaran dan pemahaman yang lebih baik, siapa pun dapat membangun kebiasaan finansial yang sehat di masa depan.

Pada akhirnya, pengalaman masa lalu bukanlah batasan—melainkan pelajaran yang dapat membantu seseorang menjadi lebih bijak dalam mengelola kehidupan dan keuangan.***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti