← Beranda
Anda Mulai Perlu Berkaca Ketika Anak Anda yang Mulai Dewasa Menunjukkan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 4 Desember 2025 | 10.10 WIB
seseorang yang perlu berkaca diri./Freepik/freepik

JawaPos.com - Setiap orang tua ingin merasa berhasil membesarkan anak-anaknya.

Namun ketika anak telah tumbuh dewasa, cara mereka berperilaku sering menjadi cermin kualitas hubungan yang terbangun sepanjang hidup.

Psikologi keluarga menunjukkan bahwa pola asuh, komunikasi, serta dinamika emosional antara orang tua dan anak meninggalkan jejak jangka panjang.

Tidak ada orang tua yang sempurna.

Tapi ada tanda-tanda penting yang patut direnungkan—sebuah alarm halus yang memberi tahu bahwa mungkin ada sesuatu yang hilang, kurang, atau perlu diperbaiki.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (2/12), terdapat 7 perilaku anak dewasa yang sering muncul ketika hubungan masa lalu tidak tertata dengan sehat.

1. Mereka Menghindari Percakapan Penting dengan Anda

Jika anak dewasa lebih memilih bercerita pada teman, pasangan, atau orang lain daripada pada orang tua, ini bisa menandakan kurangnya psychological safety di masa lalu.

Mereka mungkin pernah merasa:

Diabaikan ketika berbagi cerita

Diadili setiap kali melakukan kesalahan

Tidak didengar secara emosional

Ketika anak dewasa tidak membuka diri, itu bukan hanya tentang jarak fisik, melainkan jarak kepercayaan.

2. Mereka Selalu Waspada atau Tegang Saat Berada di Rumah Anda

Seharusnya rumah orang tua adalah tempat paling nyaman.

Tetapi bila anak bersikap defensif, terlalu hati-hati dalam berbicara, atau takut memancing konflik kecil, biasanya ada riwayat:

Kritik berlebihan

Ledakan emosi dari orang tua

Pengalaman masa kecil yang penuh tekanan

Psikologi keluarga menyebut ini sebagai emotional hypervigilance—tanda adanya “luka lama” yang belum pulih.

3. Mereka Hanya Menghubungi Ketika Membutuhkan Sesuatu

Hubungan yang sehat bersifat dua arah.

Namun ketika anak dewasa jarang menghubungi kecuali saat mereka meminta bantuan, mungkin dulu hubungan yang terbangun lebih banyak berbasis kewajiban, bukan kedekatan.

Seringkali ini merupakan efek dari:

Orang tua yang hadir hanya secara materi, tetapi tidak secara emosional

Baca Juga: Jika Anda Terus-Terusan Scroll Ponsel Hingga Tertidur, Kemungkinan Besar Anda Menghindari 9 Pikiran Tidak Nyaman Ini Menurut Psikologi

Pola didikan otoriter tanpa ruang dialog

Kedekatan yang tidak pernah benar-benar terbangun

Ini menjadi sinyal bahwa koneksi emosional tidak tumbuh kuat.

4. Mereka Tidak Merasa Bersalah Ketika Tidak Memenuhi Harapan Anda

Jika anak dewasa tidak lagi mempertimbangkan perasaan orang tua saat mengambil keputusan, mungkin karena dulu mereka sering:

Disalahkan tanpa kesempatan menjelaskan

Dipaksa menurut standar yang tidak sesuai diri mereka

Tidak diberi kebebasan membangun identitas sendiri

Akhirnya, mereka menempatkan batas yang sangat tegas — bahkan dingin.

5. Mereka Menjaga Jarak dalam Hal Privasi dan Kehidupan Pribadi

Anak yang nyaman biasanya bercerita secara natural.

Namun jika mereka menutup rapat kehidupan pribadi, sering kali karena dulu:

Orang tua terlalu mengontrol

Tidak diberikan ruang untuk mandiri

Privasi mereka tidak dihargai

Psikologi menyebut ini sebagai compensatory independence—kemandirian berlebihan sebagai “balasan” atas pengawasan masa lalu.

6. Mereka Lebih Dekat Secara Emosional dengan Keluarga Lain

Baca Juga: Seni Mencapai Kebahagiaan: 8 Kebiasaan Sederhana Orang yang Mencintai Hidupnya

Kadang anak dewasa merasa “keluarga yang nyaman” bukan berasal dari rumahnya sendiri.

Ketika mereka lebih dekat dengan:

Orang tua mertua

Teman yang dianggap keluarga

Mentor atau figur dewasa lain

Ini menunjukkan bahwa kebutuhan emosional mereka pernah tidak terpenuhi, sehingga mereka mencarinya di tempat lain.

7. Mereka Memilih Jarak Jangka Panjang (Emosional Maupun Fisik)

Perilaku ini menunjukkan luka paling dalam. Jika mereka:

Jarang pulang

Enggan terlibat dalam acara keluarga

Mengurangi kontak sampai ke titik minimum

Maka itu bukan sekadar “sibuk”—melainkan bentuk perlindungan diri.

Psikologi melihat ini sebagai self-preservation.

Anak dewasa menjauh ketika hubungan dianggap lebih banyak melukai daripada mendukung.

Kesimpulan: Anak Bukan Menghakimi, Mereka Mengingat

Ketika anak dewasa menunjukkan perilaku-perilaku di atas, itu bukan berarti orang tua “gagal”.

Itu hanya cermin hubungan yang perlu diperbaiki.

Yang terpenting adalah:

Mau mendengarkan tanpa membantah

Mau mengakui kesalahan masa lalu tanpa defensif

Mau berubah meski anak sudah dewasa

Membuka ruang dialog yang aman dan tulus

Hubungan keluarga adalah perjalanan panjang.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki, mendekat, dan menciptakan ulang hubungan yang lebih sehat.

EDITOR: Hanny Suwindari