JawaPos.com - Banyak orang tua ingin memiliki hubungan yang akrab dan hangat dengan anak-anak mereka, bahkan setelah anak-anak itu tumbuh dewasa.
Namun, kenyataannya tidak semua hubungan orang tua dan anak berjalan mulus seiring berjalannya waktu.
Hubungan yang sehat tidak terjadi begitu saja ia dibangun dari interaksi sehari-hari, terutama ketika anak masih kecil dan sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua memperlakukan mereka.
Dilansir dari Geediting pada Jumat (18/4), menurut psikologi, ada beberapa perilaku yang tampaknya "kecil" tetapi justru berdampak besar terhadap dinamika jangka panjang antara orang tua dan anak.
Jika Anda ingin hubungan Anda dengan anak menjadi lebih akrab, terbuka, dan bersahabat seiring bertambahnya usia mereka, inilah saatnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada tujuh perilaku ini:
1. Mengontrol Segala Sesuatu
Mengendalikan setiap aspek kehidupan anak—mulai dari pakaian, teman, hobi, hingga pilihan hidup mereka—mungkin terasa seperti bentuk perhatian, tapi bagi anak, ini bisa terasa seperti pengekangan.
Psikologi berbicara: Anak yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu mengontrol cenderung mengalami kesulitan dalam mengembangkan rasa otonomi dan kepercayaan diri.
Ketika mereka dewasa, mereka mungkin menjauh untuk mendapatkan kebebasan yang tidak mereka rasakan sejak kecil.
Gantilah kontrol dengan kepercayaan.
Biarkan anak membuat keputusan, dan dampingi mereka sebagai pembimbing, bukan penguasa.
2. Mengabaikan Emosi Anak
Ketika anak sedih, marah, atau kecewa, banyak orang tua merespons dengan kalimat seperti, "Jangan lebay!" atau "Udah, itu bukan masalah besar."
Padahal menurut psikologi, validasi emosi sangat penting bagi perkembangan hubungan yang sehat.
Anak yang merasa emosinya diabaikan akan merasa tidak dipahami—dan jarang membuka diri di kemudian hari.
Mulailah dengan mendengarkan tanpa menghakimi, dan akui perasaan mereka sebagai sesuatu yang sah, walau Anda tidak selalu setuju.
3. Selalu Benar dan Enggan Minta Maaf
Banyak orang tua kesulitan mengakui kesalahan di depan anak.
Tapi sikap ini justru merusak rasa hormat dan kedekatan.
Menurut riset hubungan interpersonal, orang tua yang mampu minta maaf saat salah menciptakan ruang yang aman dan setara—yang menjadi fondasi hubungan yang kuat saat anak tumbuh dewasa.
Tunjukkan bahwa Anda juga manusia.
Minta maaf bila perlu, dan jadikan itu contoh tanggung jawab emosional.
4. Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Kalimat seperti “Lihat tuh, anak tetangga udah kerja bagus, kamu kapan?” bisa menanamkan rasa rendah diri yang bertahan lama.
Psikologi perkembangan menyebutkan bahwa perbandingan sosial yang terus-menerus dapat mengikis harga diri dan memicu hubungan yang renggang karena anak merasa tidak pernah cukup baik di mata orang tua.
Fokuslah pada pertumbuhan anak secara pribadi.
Rayakan keberhasilan kecil mereka tanpa perlu melibatkan orang lain sebagai tolok ukur.
5. Tidak Menghormati Privasi
Membuka buku harian, membaca pesan pribadi, atau menyela pembicaraan anak dengan teman-temannya mungkin terlihat seperti "bagian dari pengawasan".
Tapi bagi anak, ini adalah pelanggaran batas.
Dalam perspektif psikologis, privasi adalah bagian dari pembentukan identitas.
Anak yang tidak diberi ruang pribadi cenderung menarik diri atau menyimpan rahasia di masa dewasa.
Belajarlah menahan diri.
Tanyakan sebelum masuk ke ruang mereka, dan biarkan mereka tahu bahwa Anda menghormati batas mereka.
6. Menggunakan Ancaman atau Rasa Takut untuk Mengendalikan
Sering kali orang tua mengatakan, “Kalau kamu nggak nurut, Mama nggak sayang lagi,” atau “Awas ya kalau kamu gagal!”
Psikologi menyebut metode ini sebagai manipulasi emosional, dan efek jangka panjangnya sangat merusak: hubungan dipenuhi rasa takut, bukan kepercayaan.
Alihkan dari ancaman ke diskusi yang dewasa.
Bangun komunikasi dua arah yang mengedepankan alasan, bukan ketakutan.
7. Selalu Fokus pada Kekurangan dan Jarang Memberi Apresiasi
Anak yang selalu dikritik tapi jarang dipuji akan tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup.
Ini bisa menciptakan jurang emosional yang besar antara anak dan orang tua.
Psikologi positif menekankan pentingnya penguatan positif untuk membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai.
Luangkan waktu untuk memuji usaha mereka, bukan hanya hasilnya.
Tunjukkan bahwa Anda bangga pada mereka, bahkan dalam hal-hal kecil.
Penutup: Kedekatan Emosional Itu Diciptakan, Bukan Diberikan
Menjadi orang tua yang bersahabat dengan anak bukan berarti kehilangan otoritas, tapi bertransformasi dari sosok yang memerintah menjadi sosok yang mendampingi.
Anak-anak yang merasa didengar, dihargai, dan dipercaya sejak kecil cenderung menjalin hubungan yang lebih terbuka dan hangat dengan orang tuanya di usia dewasa.
Terkadang, langkah terbaik untuk mendekatkan diri pada anak bukanlah dengan menambahkan lebih banyak nasihat, perhatian, atau pengarahan—melainkan dengan mengurangi perilaku-perilaku yang selama ini tanpa disadari justru menjauhkan Anda dari mereka.
Ingat: Anak-anak tidak hanya butuh orang tua.
Mereka juga butuh sahabat yang bisa mereka percaya, bahkan saat mereka tak lagi kecil.