JawaPos.com - BYD berencana menghadirkan kendaraan yang menggunakan teknologi baterai solid-state pada tahun depan. Rencana tersebut disampaikan Wakil Presiden Eksekutif BYD Stella Li dalam wawancara dengan Carwow.es di Valencia, Spanyol.
Meski demikian, BYD belum mengungkap jadwal peluncuran untuk pasar ritel maupun waktu produksi massal.
Li menyebut kendaraan itu menjadi pembuktian atas pengembangan teknologi baterai solid-state oleh perusahaan.
"Teknologi baterai apa pun, saya jamin Anda akan menemukannya di salah satu bagian divisi Litbang (R&D) BYD, kami sedang mempelajarinya," ujar Li seperti dikutip dari Car News China, Senin (14/9).
"Jadi, terkait baterai solid-state, BYD berada di posisi terdepan, kami memimpin baik untuk lini komersial maupun teknologinya. Sebagai pembuktiannya, tahun depan kami akan menghadirkan satu model yang menjadi model pertama dengan teknologi ini,” imbuhnya.
Li menambahkan, pengembangan baterai BYD tidak hanya berfokus pada kimia sel, tapi juga mencakup kemampuan manufaktur dan desain peralatan.
Namun, perusahaan belum mengungkap nama kendaraan, spesifikasi baterai, kapasitas, atau angka performanya.
Divisi baterai BYD, FinDreams Battery, diketahui mengembangkan elektrolit padat berbasis sulfida anorganik, termasuk material lithium phosphorus sulfur chlorine (LPSC).
Perusahaan juga membuat prototipe sel solid-state berkapasitas 20 Ah dan 60 Ah dengan target kepadatan energi mendekati 400 Wh/kg.
Angka itu masih berada pada tingkat sel jadi belum dapat menggambarkan performa paket baterai secara keseluruhan.
Penerapan teknologi sulfida pada kendaraan juga menghadapi tantangan, termasuk menjaga kontak pada material padat saat elektroda mengalami pemuaian dan penyusutan.
Kondisi itu dapat meningkatkan impedansi dan memengaruhi retensi kapasitas baterai.
Sejumlah rancangan baterai sulfida membutuhkan tekanan mekanis konstan, sehingga memengaruhi struktur paket dan sistem pengendalian tekanan.
Baterai harus mampu menghadapi getaran, perubahan suhu, serta siklus pengisian dan pengosongan berulang ketika digunakan.
Karena itu, pengujian di kendaraan menjadi tahap penting memastikan teknologi sel terintegrasi dengan sistem baterai secara keseluruhan.
Dari sisi manufaktur, elektrolit sulfida juga menghadapi tantangan karena dapat bereaksi dengan pelarut dalam proses pembuatan elektroda basah.
FinDreams mengembangkan proses elektroda kering berbasis fibrilasi PTFE dan bekerja sama dengan pemasok peralatan dalam negeri untuk menerapkannya di fasilitas percontohan.
Kelembaban harus dikendalikan ketat karena elektrolit sulfida dapat menghasilkan hidrogen sulfida (H₂S) saat mengalami hidrolisis.
Selain itu, dokumen paten BYD di Tiongkok menunjukkan pengembangan struktur katoda komposit dan antarmuka antara elektrolit sulfida dan halida.
BYD bukan satu-satunya pengembang teknologi ini. Toyota menargetkan peluncuran kendaraan BEV dengan baterai all-solid-state pada 2027–2028 melalui kemitraan dengan Idemitsu Kosan. Samsung SDI menargetkan produksi massal baterai all-solid-state pada 2027.
Namun, linimasa itu belum menunjukkan siapa paling unggul. Tantangan terbesar saat ini adalah membawa teknologi dari laboratorium dan produksi percontohan ke pengujian kendaraan dan produksi massal stabil.
Chief Technology Officer FinDreams Battery Sun Huajun menyebut perusahaan berencana menguji teknologi pada sekitar 1.000 kendaraan pada 2027.
Produksi komersial berskala besar ditargetkan sekitar 2030, dengan penerapan awal pada kendaraan kelas atas seperti lini Yangwang dan kendaraan unggulan Denza.
Faktor biaya juga jadi hambatan. Prekursor sulfida khusus sekarang harganya puluhan kali lebih mahal dibanding material elektrolit cair biasa.
Hal ini menjadi tantangan biaya produksi dan proses peningkatan kapasitas manufaktur.
BYD mengembangkan teknologi solid-state lewat All-Solid-State Battery Collaborative Innovation Platform (CASIP) di Tiongkok. Program ini mendapat dukungan pemerintah dan terkait riset nasional senilai sekitar 830 juta USD.
Kepala Ilmuwan BYD Lian Yubo mengatakan baterai litium-ion cair dan sistem all-solid-state masih bisa berdampingan selama 15 hingga 20 tahun.
Hal ini menunjukkan transisi ke baterai solid-state berlangsung bertahap, bukan langsung menggantikan baterai konvensional.
Kendaraan BYD tahun depan jadi tahap penting membuktikan apakah teknologi sulfida dapat beroperasi di kondisi nyata. Produksi massal dalam skala besar masih menjadi target perusahaan jangka panjang.