← Beranda
Pasar Kendaraan Niaga 2025: Menyesuaikan Model dengan Dinamika Kebutuhan Pasar (1)
Dony Lesmana Eko PutraKamis, 11 September 2025 | 17.41 WIB
Sejumlah truk Over Dimensi Over Load (ODOL) melintas di jalan tol Jakarta-Tangerang, Selasa (1/7/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Tahun 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi industri kendaraan niaga di Indonesia. Penjualan kendaraan niaga, khususnya truk ringan hingga berat, mengalami tekanan sepanjang semester I 2025.

Menukil catatan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) adanya angka penurunan signifikan pada kategori truk dengan gross vehicle weight (GVW) 5-10 ton, yakni dari 20.891 unit pada Januari–Juni 2024 menjadi 17.891 unit pada periode yang sama tahun ini.

Meskipun begitu di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan daya beli masyarakat, pasar kendaraan niaga tetap menunjukkan potensi pertumbuhan, terutama karena kebutuhan distribusi logistik, e-commerce, serta pembangunan infrastruktur yang masih berjalan.

Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum Gaikindo sempat mengungkapkan saat ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (29/7) bahwa melemahnya penjualan kendaraan niaga sangat dipengaruhi melambatnya proyek infrastruktur dan sektor komoditas yang belum pulih.

"Yang sudah terjadi biasanya kendaraan komersial tergantung dari proyek-proyek yang ada. Bila ekonominya bangkit, komoditi naik, tambang naik, biasanya ikut bergulir. Saat ini kan kondisinya sedang melemah," ujarnya. 

Menurutnya hal ini juga berpengaruh pada merek besar yang mengalami penurunan. Contohnya Mitsubishi Fuso sebagai pemimpin pasar segaligus pemain utama di segmen truk, mencatat penurunan penjualan retail dari 13.032 unit pada semester I 2024 menjadi 11.640 unit pada periode yang sama tahun ini.

Sedangkan jenama UD Trucks juga mengalami penurunan dari 816 unit menjadi 764 unit. Merek Jepang selanjutnya adalah Isuzu yang senada mengalami koreksi dari 13.940 unit menjadi 11.294 unit.

"Sektor kendaraan komersial sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi nasional. Saat belanja proyek pemerintah maupun swasta menurun, ini akan diikuti permintaan truk sebagai kendaraan pengangkut barang juga turun," ujar Kukuh.

Menurutnya hal ini perlu kebijakan pemerintah yang pro-investor dan berjangka panjang agar pasar kendaraan niaga kembali bergairah.

“Kita perlu kebijakan yang pro-investor, memberikan jaminan jangka panjang bahwa kebijakan itu sustain ya, untuk jangka panjang. Karena mobil itu enggak cukup 5–10 tahun, kita perlu kebijakan yang bisa bertahan sampai 20–30 tahun,” kata Kukuh.

Kukuh optimistis masih ada peluang pemulihan pada paruh kedua 2025. Karena rebound dapat terjadi apabila aktivitas proyek kembali bergerak dan sektor komoditas, termasuk pertambangan, menunjukkan tanda-tanda pulih.

Analisa Pergeseran Kebutuhan Pasar

Melihat kebutuhan pasar kendaraan niaga di tahun 2025 tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan mesin dan kapasitas angkut besar. Pelanggan kini mencari kendaraan niaga yang lebih hemat bahan bakar, ramah lingkungan, serta mampu mendukung efisiensi operasional. Beberapa tren yang menonjol antara lain:

1. Efisiensi Bahan Bakar dan Biaya Operasional
Kenaikan harga BBM dan tuntutan efisiensi mendorong pelaku usaha beralih ke kendaraan niaga dengan mesin yang lebih irit, termasuk model hybrid dan listrik.

2. Kendaraan Niaga Ringan untuk E-Commerce
Pertumbuhan belanja online membuat permintaan kendaraan niaga ringan seperti pick-up dan van semakin tinggi, terutama untuk kebutuhan pengiriman last-mile.

3. Teknologi dan Keamanan
Fitur keselamatan, sistem telematika, dan GPS tracking menjadi nilai tambah. Perusahaan logistik kini lebih memilih armada yang dapat dipantau secara real time untuk memastikan efisiensi rute dan keamanan barang.

4. Kendaraan Niaga Listrik dan Hybrid
Meski masih terbatas pada infrastruktur pengisian daya, kendaraan niaga bertenaga listrik mulai dilirik, khususnya di kota besar. Pemerintah juga menyiapkan insentif agar adopsi lebih cepat.

5. Model Serbaguna (Multi Purpose Vehicle Niaga)
Kendaraan yang fleksibel, bisa dipakai angkut barang sekaligus penumpang, banyak diminati pelaku usaha kecil-menengah karena lebih ekonomis.

Model Kendaraan Niaga yang Diminati di 2025

  • Pick-Up dan Small Van: Cocok untuk UMKM, logistik skala kecil, dan distribusi perkotaan.
  • Medium Duty Truck: Dibutuhkan sektor konstruksi, perkebunan, dan manufaktur.
  • Heavy Duty Truck: Masih menjadi tulang punggung proyek infrastruktur berskala besar.
  • Bus Niaga: Meski pasar lesu karena pergeseran ke transportasi daring, bus untuk pariwisata dan antarkota tetap stabil.
  • Kendaraan Niaga Listrik: Segmen baru yang tumbuh, dengan fokus pada distribusi perkotaan dan usaha retail.

Catatan Penjualan Kendaraan Niaga versi Gaikindo

  • Pickup GVW <5 Ton tahun 2024: 50.709 unit sedangkan di  2025 (Semester 1) 47.325 unit
  •    Truk GVW 5–10 Ton tahun 2024: 20.891 unit sedangkan di 2025 (Semester 1) 17.891 unit
  •    Truk GVW 10–24 Ton tahun 2024: 2.068 unit sedangkan 2025 (Semester 1)2.002 unit
  •    Truk GVW >24 Ton tahun 2024: 7.551 unit sedangkan di 2025 (Semester 1) 8.087 unit

 Tantangan dan Peluang

Dalam kondisi saat ini biaya operasional tinggi, regulasi emisi ketat, serta keterbatasan infrastruktur EV menjadi tantangan. Namun juga ada peluang yang akan bisa mendongkrak penjualan yaitu dengan digitalisasi logistik, pertumbuhan e-commerce, serta dukungan pemerintah terhadap elektrifikasi kendaraan niaga.

Pasar kendaraan niaga di 2025 dipengaruhi oleh kebutuhan efisiensi, ramah lingkungan, dan teknologi modern. Produsen dituntut untuk menghadirkan model yang lebih hemat, fleksibel, serta mampu mendukung digitalisasi operasional. Dengan kombinasi inovasi produk dan penyesuaian strategi, kendaraan niaga tetap akan menjadi sektor vital dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra