JawaPos.com - Konsolidasi Nasional Konferensi Republik bertema "Jalan Menata Kembali Republik" menghasilkan tiga mandat utama yang akan menjadi arah gerakan masyarakat sipil ke depan. Ketiga mandat tersebut meliputi penyusunan platform bersama, perancangan organisasi berbasis jejaring, serta pembentukan kepengurusan perintis sebagai langkah awal penguatan konsolidasi.
Forum yang semula dijadwalkan berlangsung di Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jakarta Pusat, pada Minggu (28/6), akhirnya digelar secara daring setelah terjadi pembatalan lokasi penyelenggaraan. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari ratusan organisasi masyarakat sipil.
Ketua Umum Konferensi Republik, Sudirman Said, mengapresiasi antusiasme para peserta yang tetap mengikuti seluruh rangkaian acara meski sempat dihadapkan pada perubahan lokasi secara mendadak. Menurutnya, semangat yang ditunjukkan peserta mencerminkan kuatnya komitmen masyarakat sipil dalam menjaga ruang demokrasi.
"Kalau berkaca pada Konferensi Republik sebelumnya di Yogyakarta, forum ini tidak kalah luar biasa," kata Sudirman Said di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (28/6).
Baca Juga: Konflik Memanas, Trump Ancam Iran Musnah jika Langgar Gencatan Senjata Lagi
Sudirman menilai, Konferensi Republik tetap mempertahankan karakter sebagai gerakan yang tumbuh dari bawah, mengedepankan partisipasi publik, serta dibangun melalui semangat kolektif. Ia menyebut kehadiran peserta dari tujuh generasi menjadi bukti bahwa kegelisahan terhadap kondisi bangsa dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat.
"Ini untuk mengingatkan bahwa republik ini bukan milik perseorangan," ujarnya.
Wakil Ketua Umum Konferensi Republik, Jaleswari Pramodhawardani, mengatakan pembatalan lokasi penyelenggaraan tidak mengurangi optimisme peserta. Menurutnya, peristiwa tersebut justru memperlihatkan pentingnya keberadaan ruang publik sebagai tempat masyarakat sipil berdiskusi dan menyampaikan gagasan.
"Hari ini republik tanpa warga begitu terasa," ucapnya.
Jaleswari menjelaskan, diskusi sengaja digelar di ruang publik agar berbagai pemikiran yang memiliki tujuan serupa dapat dirumuskan menjadi langkah bersama. Ia menegaskan, forum tersebut tidak hanya mencari titik temu, tetapi juga menghormati keberagaman pandangan yang ada.
"Bukan cuma antusiasme, tetapi betapa kita mencintai Indonesia," bebernya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, menjelaskan bahwa mandat pertama berupa platform bersama bertujuan menyatukan berbagai elemen masyarakat sipil yang selama ini bergerak secara terpisah. Adapun desain organisasi akan dibangun dalam bentuk jejaring yang menghubungkan banyak pihak tanpa mengedepankan struktur yang bersifat hierarkis.
Menurut Yanuar, keresahan terhadap berbagai persoalan kebangsaan kini dirasakan oleh banyak kalangan, mulai dari mahasiswa, profesional, hingga generasi muda. Karena itu, jejaring tersebut diharapkan menjadi ruang bersama bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Indonesia.
Baca Juga: 13 dari 24 Demonstran di Surabaya Dibebaskan, KontraS: Status Mereka Kini Saksi
"Anda tidak sendirian," tutur Yanuar.
Mengenai mandat ketiga, Yanuar menegaskan kepemimpinan yang akan dibangun tidak bertumpu pada sosok tertentu, melainkan pada sistem kelembagaan yang dikelola secara kolektif dengan berlandaskan nilai-nilai bersama.
"Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang bagaimana," jelasnya.
Ia menambahkan, Konferensi Republik ingin menghadirkan model kepemimpinan yang lebih partisipatif sebagai alternatif dari pola kepemimpinan yang selama ini dinilai terlalu pragmatis dan berpusat pada figur. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan kembali memiliki peran sebagai pelaku utama dalam kehidupan bernegara.
"Tujuannya mengembalikan warga negara menjadi subjek, bukan objek," pungkasnya.