JawaPos.com - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa, menyerukan secara aktif untuk mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.
Dilansir dari Antara pada Jumat (24/11), Khofifah mengajak seluruh petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan pemerintah untuk bersama-sama meningkatkan hasil pangan di Tanah Air.
"Dengan semangat mewujudkan kedaulatan pangan nasional, mari kita bangun bersama-sama pertanian di Jawa Timur dan Indonesia untuk menjadi lebih baik," kata Khofifah pada Kamis (23/11).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gubernur Jatim saat mendampingi Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan panen dan tanam padi di Desa Ngadipuro dan Desa Ngadirejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban.
Menurut Khofifah, Jatim merupakan provinsi dengan produksi padi dan beras tertinggi di Indonesia.
Sekarang Jatim mampu menyuplai hampir 80 persen kebutuhan pangan ke 16 provinsi yang ada di Indonesia timur. Dalam satu tahun terakhir, Jatim surplus 9,23 persen.
Kemudian, selama empat tahun berturut-turut sejak 2020 sampai dengan 2023 Jatim juga adalah produsen padi tertinggi di antara seluruh provinsi di Indonesia.
"Berdasarkan angka sementara BPS, tahun 2023 ini Jawa Timur mempertahankan posisinya sebagai penghasil padi terbesar nasional dengan produksi sebesar 9,59 juta ton GKG (gabah kering giling), dan memiliki kontribusi sebesar 17,89 persen terhadap produksi padi nasional. Dan ini sudah empat tahun berturut-turut dari 2020," tuturnya.
Gubernur Jatim menyebutkan berbagai capaian Provinsi Jatim di sektor pertanian adalah hasil dari sinergi seluruh tim.
Mulai dari petani, gabungan kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah setempat hingga adanya koordinasi dengan Kementerian Pertanian.
"Sinergi luar biasa, PPL-nya luar biasa, sampai bupatinya luar biasa dan tentu PPL yang punya peran untuk bisa melakukan pendampingan dan memberikan guidance kepada para petani kapan percepatan musim tanam," tambah Khofifah.
Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa khususnya Kabupaten Tuban mempunyai inovasi yang luar biasa terkait uji coba pupuk dengan komposisi pupuk organik lebih maksimal.
Petani di Tuban merupakan gambaran petani yang tangguh di Jatim. Ia mengungkapkan bahwa di beberapa titik perbandingan penggunaan pupuk organik dan kimia sudah 4 banding 1.
"Jadi 20 persen saja pupuk kimia, 80 persen sudah pupuk organik, dengan posisi seperti itu produksinya bisa mencapai 9 ton per ha bahkan sempat 12 ton per ha. Itu artinya operasional cost juga berkurang tapi produktivitasnya meningkat," papar Khofifah.
Di samping itu, Gubernur Khofifah juga menyinggung tentang lelang pascapanen yang dilakukan di lahan panen di Kabupaten Tuban. Menurutnya hal itu akan berdampak positif pada harga gabah kering panen (GKP).
"Menurut saya yang sangat advance adalah lelang pasca panen, jadi GKP itu langsung dilelang dan itu saya saksikan sendiri dua minggu lalu di Rengel, tadi saya sampaikan ke Pak Menteri Pertanian bagaimana lelang GKP di lahan area-area yang dekat dengan lahan panen keren sekali," kata dia.
Gubernur Khofifah juga menyebutkan untuk mengatasi kekeringan perlu dilakukan pemetaan terkait kebutuhan rumah pompa, sehingga bisa mengantisipasi mundurnya masa tanam akibat kekeringan.
***