JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang seolah-olah tidak pernah kehabisan bahan untuk mengomentari perilaku orang lain?
Ada orang yang selalu memperhatikan siapa yang melakukan kesalahan, siapa yang bersikap tidak sopan, siapa yang dianggap terlalu egois, siapa yang salah mengambil keputusan, bahkan siapa yang menjalani hidup dengan cara yang menurutnya "tidak benar". Awalnya mungkin hanya komentar sesekali. Namun lama-kelamaan, membicarakan dan menilai perilaku orang lain seolah menjadi kebiasaan.
Yang menarik, orang seperti ini tidak selalu memiliki niat buruk. Sebagian mungkin memang merasa sedang memberikan kritik, menunjukkan kepedulian, atau membantu orang lain melihat kesalahan mereka. Tetapi pada sebagian orang, dorongan untuk terus-menerus mengomentari perilaku bermasalah orang lain dapat menjadi pola psikologis yang cukup kuat.
Psikologi membantu kita memahami bahwa kebiasaan tersebut tidak selalu sekadar persoalan "suka ikut campur". Di baliknya bisa terdapat kebutuhan akan kontrol, mekanisme pertahanan diri, kecemasan, perbandingan sosial, kebutuhan untuk merasa unggul, atau kesulitan menghadapi kekurangan diri sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), terdapat 10 kemungkinan alasan mengapa sebagian orang sulit berhenti mengomentari perilaku bermasalah orang lain.
1. Mereka Mendapatkan Rasa Superior dari Menemukan Kesalahan Orang Lain
Salah satu alasan yang paling sederhana adalah munculnya perasaan lebih baik ketika melihat kekurangan orang lain.
Ketika seseorang berkata, "Kalau saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu," secara psikologis ia sedang melakukan perbandingan antara dirinya dan orang lain.
Perbandingan sosial merupakan bagian normal dari kehidupan manusia. Kita sering menilai diri sendiri dengan melihat orang lain. Masalah muncul ketika seseorang secara terus-menerus menggunakan kelemahan orang lain sebagai cara untuk mempertahankan gambaran positif tentang dirinya.
Misalnya, seseorang merasa tidak terlalu sukses dalam hidupnya. Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, ia mungkin merasa sedikit lebih baik karena memiliki sesuatu yang dapat dijadikan pembanding.
"Setidaknya saya tidak seperti dia."
Kalimat semacam ini dapat memberikan kepuasan psikologis sementara.
Masalahnya, kepuasan tersebut bisa memperkuat kebiasaan mengamati kesalahan orang lain. Semakin sering seseorang menemukan sesuatu untuk dikritik, semakin sering pula ia mendapatkan kesempatan untuk merasa lebih benar, lebih dewasa, lebih bermoral, atau lebih kompeten.
Dengan kata lain, kritik terhadap orang lain terkadang bukan hanya tentang orang yang dikritik. Kritik tersebut juga dapat menjadi cara seseorang mempertahankan harga dirinya sendiri.
2. Mengomentari Orang Lain Membantu Mereka Menghindari Introspeksi
Ada sebuah ironi dalam psikologi manusia: semakin sulit seseorang menghadapi dirinya sendiri, semakin mudah ia sibuk memperhatikan kehidupan orang lain.
Introspeksi membutuhkan keberanian. Seseorang harus bersedia melihat kekurangannya sendiri, mengakui kesalahan, dan menerima bahwa dirinya tidak selalu konsisten dengan nilai-nilai yang ia yakini.
Bagi sebagian orang, proses ini terasa tidak nyaman.
Daripada bertanya:
"Kenapa saya mudah marah?"
"Kenapa saya selalu ingin mengontrol orang lain?"
"Kenapa saya sulit menerima kritik?"
"Kenapa saya mengulangi kesalahan yang sama?"
mereka justru lebih nyaman bertanya:
"Kenapa dia bisa bersikap seperti itu?"
Fokus pada kesalahan orang lain dapat berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari masalah pribadi.
Ini tidak selalu dilakukan secara sadar. Seseorang mungkin benar-benar merasa bahwa dirinya sedang membahas masalah orang lain, tanpa menyadari bahwa aktivitas tersebut membuatnya tidak perlu berhadapan dengan persoalan dirinya sendiri.
Karena itu, ketika seseorang terlalu sibuk memperbaiki semua orang di sekitarnya tetapi hampir tidak pernah mengevaluasi dirinya sendiri, ada kemungkinan bahwa kritik tersebut berfungsi sebagai bentuk penghindaran psikologis.
3. Mereka Memiliki Kebutuhan Tinggi untuk Mengontrol Lingkungan
Sebagian orang merasa aman ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan harapan mereka.
Mereka memiliki gambaran tertentu tentang bagaimana orang seharusnya berbicara, bekerja, berpakaian, mengambil keputusan, membesarkan anak, menjalani hubungan, atau menghadapi masalah.
Ketika melihat seseorang bertindak di luar standar tersebut, mereka merasa terganggu.
Komentar kemudian menjadi cara untuk mengembalikan rasa keteraturan.
"Jangan begitu."
"Seharusnya kamu melakukan ini."
"Kalau saya jadi kamu, saya tidak akan memilih seperti itu."
Pada tingkat tertentu, memberikan saran tentu merupakan hal yang normal. Tetapi ketika seseorang merasa harus terus mengoreksi orang lain, hal tersebut bisa berkaitan dengan kebutuhan kontrol yang tinggi.
Masalahnya adalah manusia tidak dapat mengendalikan seluruh lingkungan.
Semakin kuat kebutuhan seseorang untuk mengontrol perilaku orang lain, semakin mudah ia mengalami frustrasi ketika orang lain membuat keputusan yang berbeda.
Dalam kondisi tertentu, komentar terus-menerus sebenarnya merupakan usaha untuk mengurangi ketidaknyamanan pribadi.
Jika orang lain berubah sesuai keinginannya, ia merasa lebih tenang.
Dengan demikian, komentar tersebut bukan semata-mata tentang "kebaikan" orang lain, melainkan juga tentang kebutuhan dirinya sendiri untuk merasa bahwa dunia berada dalam kondisi yang dapat diprediksi.
4. Mereka Mengalami Bias Negativitas
Otak manusia memiliki kecenderungan untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap hal-hal yang negatif atau mengancam dibandingkan hal-hal yang netral dan positif.
Ini dikenal sebagai negativity bias atau bias negativitas.
Dalam kehidupan sehari-hari, efeknya sederhana.
Seseorang bisa mendapatkan sepuluh pujian dan satu kritik. Namun yang terus dipikirkannya justru kritik tersebut.
Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang mengamati orang lain.
Dari sepuluh perilaku positif seseorang, ia mungkin hanya mengingat satu perilaku yang dianggap buruk.
"Dia sebenarnya baik, tapi..."
Setelah kata "tapi", seluruh perhatian diarahkan kepada kekurangannya.
Pada orang tertentu, kecenderungan ini dapat membuat lingkungan sosial terasa penuh dengan masalah.
Mereka lebih cepat menyadari kesalahan daripada kebaikan. Lebih mudah melihat perilaku tidak sopan daripada keramahan. Lebih cepat mengingat kegagalan daripada keberhasilan.
Akibatnya, mereka mempunyai banyak bahan untuk dikomentari.
Bukan selalu karena orang lain memang lebih bermasalah, tetapi karena perhatian mereka lebih sensitif terhadap hal-hal yang dianggap salah.
5. Mereka Menggunakan Kritik sebagai Mekanisme Pertahanan Diri
Kritik terhadap orang lain terkadang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan.
Seseorang mungkin merasa tidak aman terhadap dirinya sendiri. Ketika melihat kelemahan orang lain, ia kemudian menyerang kelemahan tersebut.
Misalnya, seseorang sangat takut dianggap tidak kompeten. Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan kecil, ia langsung menyorotinya.
Mengapa?
Karena dengan menegaskan bahwa orang lain tidak kompeten, secara tidak langsung ia berusaha mempertahankan perasaan bahwa dirinya kompeten.
Dalam psikologi, manusia memiliki berbagai mekanisme untuk mengurangi rasa tidak nyaman secara emosional. Tidak semuanya dilakukan dengan kesadaran penuh.
Itulah sebabnya seseorang bisa sangat keras mengkritik sifat tertentu pada orang lain, sementara tanpa disadari memiliki kecenderungan yang mirip.
Tentu saja, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang suka mengkritik sedang memproyeksikan dirinya sendiri. Namun dalam beberapa kasus, kritik berlebihan dapat menjadi cara untuk menghadapi rasa tidak aman.
6. Mereka Terjebak dalam Kebiasaan Rumination
Ada perbedaan antara memikirkan sebuah masalah dan terus-menerus mengulanginya di dalam pikiran.
Seseorang mungkin melihat perilaku buruk orang lain. Ia merasa terganggu. Setelah itu, masalah tersebut terus dipikirkan.
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Seharusnya dia tahu."
"Bagaimana mungkin seseorang bisa bersikap seperti itu?"
"Kalau saya di posisi dia, saya pasti tidak akan begitu."
Pikiran tersebut berputar berulang kali.
Dalam psikologi, pola pemikiran berulang yang sulit dihentikan sering dikaitkan dengan rumination atau perenungan berulang.
Rumination tidak selalu menghasilkan solusi.
Justru seseorang dapat terus membicarakan masalah yang sama tanpa menghasilkan tindakan yang konstruktif.
Karena itu, orang yang terlihat "tidak bisa move on" dari kesalahan orang lain mungkin bukan sekadar keras kepala. Bisa saja pikirannya memang terus kembali kepada peristiwa tersebut.
Ketika rumination menjadi kebiasaan, komentar terhadap orang lain dapat menjadi bentuk eksternal dari proses berpikir yang terus berulang di dalam kepala.
7. Mereka Memiliki Keyakinan Moral yang Sangat Kaku
Ada orang yang memiliki standar moral yang sangat kuat.
Pada dasarnya, memiliki prinsip bukan sesuatu yang buruk. Prinsip dapat membantu seseorang menentukan batas, membuat keputusan, dan mempertahankan nilai yang dianggap penting.
Namun masalah dapat muncul ketika seseorang menganggap bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk menjalani hidup.
Jika seseorang memiliki pola berpikir hitam-putih, ia mungkin lebih mudah melihat dunia sebagai:
benar atau salah,
baik atau buruk,
pantas atau tidak pantas,
cerdas atau bodoh,
bermoral atau tidak bermoral.
Dalam kondisi seperti itu, perbedaan perilaku mudah dianggap sebagai kesalahan moral.
Contohnya, seseorang memilih gaya hidup yang berbeda. Bagi orang yang fleksibel, perbedaan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai pilihan pribadi.
Tetapi bagi orang yang berpikir sangat kaku, perbedaan tersebut dapat terasa seperti sesuatu yang harus dikoreksi.
Akibatnya, komentar terhadap orang lain muncul bukan karena setiap situasi memang membutuhkan komentar, tetapi karena individu tersebut merasa bahwa membiarkan "kesalahan" tanpa dikoreksi adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.
8. Mereka Mendapatkan Validasi Sosial dari Orang-Orang di Sekitarnya
Kebiasaan mengomentari orang lain juga dapat diperkuat oleh lingkungan.
Bayangkan seseorang berkata:
"Kamu tahu tidak, dia sebenarnya orangnya begini..."
Kemudian orang lain menjawab:
"Iya, saya juga berpikir begitu."
Orang pertama mendapatkan validasi.
Ia merasa pengamatannya benar.
Jika pola ini terjadi berulang kali, membicarakan perilaku orang lain dapat menjadi aktivitas sosial yang memberikan penghargaan psikologis.
Orang tersebut merasa didengar, dianggap cerdas, dianggap peka, atau bahkan dianggap sebagai orang yang "tahu banyak".
Dalam beberapa kelompok sosial, membicarakan kesalahan orang lain bahkan dapat menjadi bentuk ikatan sosial.
Masalahnya, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi lingkaran:
melihat kesalahan → membicarakannya → mendapatkan respons → merasa tervalidasi → semakin sering mencari kesalahan berikutnya.
Dengan kata lain, perilaku tersebut dipertahankan karena memberikan semacam reward sosial.
Ini menjelaskan mengapa seseorang kadang tetap melakukannya meskipun orang lain sudah merasa tidak nyaman.
9. Mereka Kesulitan Menerima Bahwa Orang Lain Berhak Membuat Pilihan Sendiri
Salah satu bentuk kedewasaan psikologis adalah kemampuan membedakan antara:
"Ini bukan pilihan yang saya sukai"
dan
"Ini adalah pilihan yang salah."
Keduanya tidak selalu sama.
Orang lain boleh memiliki cara berpikir, prioritas, gaya hidup, dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda.
Namun bagi sebagian orang, perbedaan terasa seperti ancaman terhadap nilai yang mereka pegang.
Jika mereka percaya bahwa cara mereka adalah cara yang paling masuk akal, mereka mungkin merasa perlu meyakinkan orang lain.
Di sinilah komentar berubah menjadi usaha untuk mengubah.
Bukan lagi sekadar:
"Saya tidak setuju."
tetapi:
"Kamu harus sadar bahwa kamu salah."
Kemampuan untuk mengatakan "Saya tidak setuju, tetapi itu bukan hidup saya" membutuhkan toleransi terhadap ketidakpastian dan perbedaan.
Orang yang belum memiliki kemampuan tersebut mungkin lebih sering merasa terdorong untuk mengomentari keputusan orang lain.
10. Mengomentari Orang Lain Bisa Menjadi Bagian dari Identitas Mereka
Pada tahap tertentu, kebiasaan dapat menjadi identitas.
Seseorang mungkin mulai melihat dirinya sebagai:
"orang yang kritis",
"orang yang selalu blak-blakan",
"orang yang berani mengatakan kebenaran",
"orang yang tidak takut menegur",
atau
"orang yang bisa melihat keburukan yang tidak dilihat orang lain."
Ketika perilaku tertentu sudah menjadi bagian dari identitas, mengubahnya menjadi lebih sulit.
Sebab, berhenti mengkritik bukan lagi sekadar mengubah kebiasaan. Orang tersebut mungkin merasa seperti kehilangan bagian dari dirinya.
Ia mungkin berkata:
"Saya memang orangnya seperti ini."
Padahal "jujur" tidak harus berarti selalu mengomentari segala sesuatu. "Kritis" tidak harus berarti mencari kesalahan setiap saat. Dan "berani berkata benar" tidak berarti semua kebenaran harus disampaikan dalam setiap situasi.
Kematangan psikologis justru mencakup kemampuan memilih kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam.
Tidak Semua Kritik Itu Buruk
Penting untuk tidak menyederhanakan persoalan ini.
Mengomentari perilaku bermasalah orang lain tidak otomatis berarti seseorang memiliki masalah psikologis.
Ada situasi ketika kritik memang diperlukan.
Misalnya, ketika seseorang melakukan tindakan yang merugikan orang lain, melanggar batas, melakukan kekerasan, melakukan diskriminasi, atau menciptakan konsekuensi serius bagi lingkungan.
Dalam situasi seperti itu, diam bukan selalu tanda kedewasaan.
Yang menjadi persoalan adalah pola, intensitas, tujuan, dan dampaknya.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya ingin memberi tahu bahwa perilaku tersebut telah menyakiti orang lain."
dan:
"Saya harus terus membicarakan betapa buruknya orang itu."
Yang pertama dapat menjadi bentuk kepedulian.
Yang kedua dapat berubah menjadi obsesi terhadap kesalahan orang lain.
Bagaimana Mengetahui Apakah Kritik Sudah Menjadi Kebiasaan yang Tidak Sehat?
Seseorang mungkin perlu melakukan introspeksi ketika ia mulai menyadari beberapa hal berikut:
Ia lebih sering membicarakan kesalahan orang daripada hal positif tentang mereka.
Ia merasa terganggu ketika orang lain membuat keputusan yang berbeda.
Ia sulit berhenti membicarakan seseorang meskipun masalahnya sudah selesai.
Ia merasa puas ketika menemukan kesalahan orang lain.
Ia jarang mempertanyakan kesalahannya sendiri.
Ia sering memberikan nasihat meskipun tidak diminta.
Ia merasa perlu meyakinkan orang lain bahwa dirinya benar.
Ia mudah marah ketika kritiknya tidak diterima.
Ia menganggap diam berarti membiarkan kesalahan.
Percakapan dengan orang lain sering berubah menjadi pembahasan tentang kekurangan pihak ketiga.
Semakin banyak tanda tersebut muncul secara konsisten, semakin besar kemungkinan bahwa masalahnya bukan lagi sekadar "suka memberi pendapat", tetapi sudah menjadi pola perilaku.
Pada Akhirnya, Tidak Semua Hal Harus Dikomentari
Salah satu bentuk kedewasaan emosional adalah kemampuan untuk menentukan mana yang perlu diperhatikan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Kita tidak harus menyukai semua perilaku orang lain.
Kita juga tidak harus setuju dengan semua keputusan mereka.
Namun tidak setiap hal yang kita anggap salah harus mendapatkan komentar dari kita.
Terkadang pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Apakah dia salah?"
melainkan:
"Apakah saya perlu melakukan sesuatu tentang kesalahan itu?"
Pertanyaan berikutnya adalah:
"Apakah komentar saya akan membantu?"
Dan yang paling penting:
"Apakah saya mengatakan ini demi kebaikan situasi, atau karena saya ingin merasa lebih benar?"
Kemampuan untuk menahan dorongan mengomentari orang lain bukan berarti menjadi pasif atau tidak peduli.
Sebaliknya, kemampuan tersebut menunjukkan adanya kontrol diri.
Kita belajar bahwa hidup orang lain bukan proyek yang harus kita perbaiki. Kita boleh memberikan masukan ketika memang dibutuhkan, tetapi kita juga perlu memahami batas antara kepedulian dan kebutuhan untuk mengontrol.
Pada akhirnya, semakin matang seseorang secara psikologis, semakin ia menyadari bahwa manusia tidak harus selalu diperbaiki.
Kadang-kadang orang lain perlu belajar dari kesalahannya sendiri.
Dan kadang-kadang, hal paling sehat yang bisa kita lakukan adalah membiarkan mereka menjalani hidupnya, sementara kita kembali memperhatikan kehidupan kita sendiri.
Ada orang yang selalu memperhatikan siapa yang melakukan kesalahan, siapa yang bersikap tidak sopan, siapa yang dianggap terlalu egois, siapa yang salah mengambil keputusan, bahkan siapa yang menjalani hidup dengan cara yang menurutnya "tidak benar". Awalnya mungkin hanya komentar sesekali. Namun lama-kelamaan, membicarakan dan menilai perilaku orang lain seolah menjadi kebiasaan.
Yang menarik, orang seperti ini tidak selalu memiliki niat buruk. Sebagian mungkin memang merasa sedang memberikan kritik, menunjukkan kepedulian, atau membantu orang lain melihat kesalahan mereka. Tetapi pada sebagian orang, dorongan untuk terus-menerus mengomentari perilaku bermasalah orang lain dapat menjadi pola psikologis yang cukup kuat.
Psikologi membantu kita memahami bahwa kebiasaan tersebut tidak selalu sekadar persoalan "suka ikut campur". Di baliknya bisa terdapat kebutuhan akan kontrol, mekanisme pertahanan diri, kecemasan, perbandingan sosial, kebutuhan untuk merasa unggul, atau kesulitan menghadapi kekurangan diri sendiri.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (13/9), terdapat 10 kemungkinan alasan mengapa sebagian orang sulit berhenti mengomentari perilaku bermasalah orang lain.
1. Mereka Mendapatkan Rasa Superior dari Menemukan Kesalahan Orang Lain
Salah satu alasan yang paling sederhana adalah munculnya perasaan lebih baik ketika melihat kekurangan orang lain.
Ketika seseorang berkata, "Kalau saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu," secara psikologis ia sedang melakukan perbandingan antara dirinya dan orang lain.
Perbandingan sosial merupakan bagian normal dari kehidupan manusia. Kita sering menilai diri sendiri dengan melihat orang lain. Masalah muncul ketika seseorang secara terus-menerus menggunakan kelemahan orang lain sebagai cara untuk mempertahankan gambaran positif tentang dirinya.
Misalnya, seseorang merasa tidak terlalu sukses dalam hidupnya. Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan, ia mungkin merasa sedikit lebih baik karena memiliki sesuatu yang dapat dijadikan pembanding.
"Setidaknya saya tidak seperti dia."
Kalimat semacam ini dapat memberikan kepuasan psikologis sementara.
Masalahnya, kepuasan tersebut bisa memperkuat kebiasaan mengamati kesalahan orang lain. Semakin sering seseorang menemukan sesuatu untuk dikritik, semakin sering pula ia mendapatkan kesempatan untuk merasa lebih benar, lebih dewasa, lebih bermoral, atau lebih kompeten.
Dengan kata lain, kritik terhadap orang lain terkadang bukan hanya tentang orang yang dikritik. Kritik tersebut juga dapat menjadi cara seseorang mempertahankan harga dirinya sendiri.
2. Mengomentari Orang Lain Membantu Mereka Menghindari Introspeksi
Ada sebuah ironi dalam psikologi manusia: semakin sulit seseorang menghadapi dirinya sendiri, semakin mudah ia sibuk memperhatikan kehidupan orang lain.
Introspeksi membutuhkan keberanian. Seseorang harus bersedia melihat kekurangannya sendiri, mengakui kesalahan, dan menerima bahwa dirinya tidak selalu konsisten dengan nilai-nilai yang ia yakini.
Bagi sebagian orang, proses ini terasa tidak nyaman.
Daripada bertanya:
"Kenapa saya mudah marah?"
"Kenapa saya selalu ingin mengontrol orang lain?"
"Kenapa saya sulit menerima kritik?"
"Kenapa saya mengulangi kesalahan yang sama?"
mereka justru lebih nyaman bertanya:
"Kenapa dia bisa bersikap seperti itu?"
Fokus pada kesalahan orang lain dapat berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari masalah pribadi.
Ini tidak selalu dilakukan secara sadar. Seseorang mungkin benar-benar merasa bahwa dirinya sedang membahas masalah orang lain, tanpa menyadari bahwa aktivitas tersebut membuatnya tidak perlu berhadapan dengan persoalan dirinya sendiri.
Karena itu, ketika seseorang terlalu sibuk memperbaiki semua orang di sekitarnya tetapi hampir tidak pernah mengevaluasi dirinya sendiri, ada kemungkinan bahwa kritik tersebut berfungsi sebagai bentuk penghindaran psikologis.
3. Mereka Memiliki Kebutuhan Tinggi untuk Mengontrol Lingkungan
Sebagian orang merasa aman ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan harapan mereka.
Mereka memiliki gambaran tertentu tentang bagaimana orang seharusnya berbicara, bekerja, berpakaian, mengambil keputusan, membesarkan anak, menjalani hubungan, atau menghadapi masalah.
Ketika melihat seseorang bertindak di luar standar tersebut, mereka merasa terganggu.
Komentar kemudian menjadi cara untuk mengembalikan rasa keteraturan.
"Jangan begitu."
"Seharusnya kamu melakukan ini."
"Kalau saya jadi kamu, saya tidak akan memilih seperti itu."
Pada tingkat tertentu, memberikan saran tentu merupakan hal yang normal. Tetapi ketika seseorang merasa harus terus mengoreksi orang lain, hal tersebut bisa berkaitan dengan kebutuhan kontrol yang tinggi.
Masalahnya adalah manusia tidak dapat mengendalikan seluruh lingkungan.
Semakin kuat kebutuhan seseorang untuk mengontrol perilaku orang lain, semakin mudah ia mengalami frustrasi ketika orang lain membuat keputusan yang berbeda.
Dalam kondisi tertentu, komentar terus-menerus sebenarnya merupakan usaha untuk mengurangi ketidaknyamanan pribadi.
Jika orang lain berubah sesuai keinginannya, ia merasa lebih tenang.
Dengan demikian, komentar tersebut bukan semata-mata tentang "kebaikan" orang lain, melainkan juga tentang kebutuhan dirinya sendiri untuk merasa bahwa dunia berada dalam kondisi yang dapat diprediksi.
4. Mereka Mengalami Bias Negativitas
Otak manusia memiliki kecenderungan untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap hal-hal yang negatif atau mengancam dibandingkan hal-hal yang netral dan positif.
Ini dikenal sebagai negativity bias atau bias negativitas.
Dalam kehidupan sehari-hari, efeknya sederhana.
Seseorang bisa mendapatkan sepuluh pujian dan satu kritik. Namun yang terus dipikirkannya justru kritik tersebut.
Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang mengamati orang lain.
Dari sepuluh perilaku positif seseorang, ia mungkin hanya mengingat satu perilaku yang dianggap buruk.
"Dia sebenarnya baik, tapi..."
Setelah kata "tapi", seluruh perhatian diarahkan kepada kekurangannya.
Pada orang tertentu, kecenderungan ini dapat membuat lingkungan sosial terasa penuh dengan masalah.
Mereka lebih cepat menyadari kesalahan daripada kebaikan. Lebih mudah melihat perilaku tidak sopan daripada keramahan. Lebih cepat mengingat kegagalan daripada keberhasilan.
Akibatnya, mereka mempunyai banyak bahan untuk dikomentari.
Bukan selalu karena orang lain memang lebih bermasalah, tetapi karena perhatian mereka lebih sensitif terhadap hal-hal yang dianggap salah.
5. Mereka Menggunakan Kritik sebagai Mekanisme Pertahanan Diri
Kritik terhadap orang lain terkadang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan.
Seseorang mungkin merasa tidak aman terhadap dirinya sendiri. Ketika melihat kelemahan orang lain, ia kemudian menyerang kelemahan tersebut.
Misalnya, seseorang sangat takut dianggap tidak kompeten. Ketika melihat orang lain melakukan kesalahan kecil, ia langsung menyorotinya.
Mengapa?
Karena dengan menegaskan bahwa orang lain tidak kompeten, secara tidak langsung ia berusaha mempertahankan perasaan bahwa dirinya kompeten.
Dalam psikologi, manusia memiliki berbagai mekanisme untuk mengurangi rasa tidak nyaman secara emosional. Tidak semuanya dilakukan dengan kesadaran penuh.
Itulah sebabnya seseorang bisa sangat keras mengkritik sifat tertentu pada orang lain, sementara tanpa disadari memiliki kecenderungan yang mirip.
Tentu saja, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang suka mengkritik sedang memproyeksikan dirinya sendiri. Namun dalam beberapa kasus, kritik berlebihan dapat menjadi cara untuk menghadapi rasa tidak aman.
6. Mereka Terjebak dalam Kebiasaan Rumination
Ada perbedaan antara memikirkan sebuah masalah dan terus-menerus mengulanginya di dalam pikiran.
Seseorang mungkin melihat perilaku buruk orang lain. Ia merasa terganggu. Setelah itu, masalah tersebut terus dipikirkan.
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Seharusnya dia tahu."
"Bagaimana mungkin seseorang bisa bersikap seperti itu?"
"Kalau saya di posisi dia, saya pasti tidak akan begitu."
Pikiran tersebut berputar berulang kali.
Dalam psikologi, pola pemikiran berulang yang sulit dihentikan sering dikaitkan dengan rumination atau perenungan berulang.
Rumination tidak selalu menghasilkan solusi.
Justru seseorang dapat terus membicarakan masalah yang sama tanpa menghasilkan tindakan yang konstruktif.
Karena itu, orang yang terlihat "tidak bisa move on" dari kesalahan orang lain mungkin bukan sekadar keras kepala. Bisa saja pikirannya memang terus kembali kepada peristiwa tersebut.
Ketika rumination menjadi kebiasaan, komentar terhadap orang lain dapat menjadi bentuk eksternal dari proses berpikir yang terus berulang di dalam kepala.
7. Mereka Memiliki Keyakinan Moral yang Sangat Kaku
Ada orang yang memiliki standar moral yang sangat kuat.
Pada dasarnya, memiliki prinsip bukan sesuatu yang buruk. Prinsip dapat membantu seseorang menentukan batas, membuat keputusan, dan mempertahankan nilai yang dianggap penting.
Namun masalah dapat muncul ketika seseorang menganggap bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk menjalani hidup.
Jika seseorang memiliki pola berpikir hitam-putih, ia mungkin lebih mudah melihat dunia sebagai:
benar atau salah,
baik atau buruk,
pantas atau tidak pantas,
cerdas atau bodoh,
bermoral atau tidak bermoral.
Dalam kondisi seperti itu, perbedaan perilaku mudah dianggap sebagai kesalahan moral.
Contohnya, seseorang memilih gaya hidup yang berbeda. Bagi orang yang fleksibel, perbedaan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai pilihan pribadi.
Tetapi bagi orang yang berpikir sangat kaku, perbedaan tersebut dapat terasa seperti sesuatu yang harus dikoreksi.
Akibatnya, komentar terhadap orang lain muncul bukan karena setiap situasi memang membutuhkan komentar, tetapi karena individu tersebut merasa bahwa membiarkan "kesalahan" tanpa dikoreksi adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.
8. Mereka Mendapatkan Validasi Sosial dari Orang-Orang di Sekitarnya
Kebiasaan mengomentari orang lain juga dapat diperkuat oleh lingkungan.
Bayangkan seseorang berkata:
"Kamu tahu tidak, dia sebenarnya orangnya begini..."
Kemudian orang lain menjawab:
"Iya, saya juga berpikir begitu."
Orang pertama mendapatkan validasi.
Ia merasa pengamatannya benar.
Jika pola ini terjadi berulang kali, membicarakan perilaku orang lain dapat menjadi aktivitas sosial yang memberikan penghargaan psikologis.
Orang tersebut merasa didengar, dianggap cerdas, dianggap peka, atau bahkan dianggap sebagai orang yang "tahu banyak".
Dalam beberapa kelompok sosial, membicarakan kesalahan orang lain bahkan dapat menjadi bentuk ikatan sosial.
Masalahnya, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi lingkaran:
melihat kesalahan → membicarakannya → mendapatkan respons → merasa tervalidasi → semakin sering mencari kesalahan berikutnya.
Dengan kata lain, perilaku tersebut dipertahankan karena memberikan semacam reward sosial.
Ini menjelaskan mengapa seseorang kadang tetap melakukannya meskipun orang lain sudah merasa tidak nyaman.
9. Mereka Kesulitan Menerima Bahwa Orang Lain Berhak Membuat Pilihan Sendiri
Salah satu bentuk kedewasaan psikologis adalah kemampuan membedakan antara:
"Ini bukan pilihan yang saya sukai"
dan
"Ini adalah pilihan yang salah."
Keduanya tidak selalu sama.
Orang lain boleh memiliki cara berpikir, prioritas, gaya hidup, dan cara menyelesaikan masalah yang berbeda.
Namun bagi sebagian orang, perbedaan terasa seperti ancaman terhadap nilai yang mereka pegang.
Jika mereka percaya bahwa cara mereka adalah cara yang paling masuk akal, mereka mungkin merasa perlu meyakinkan orang lain.
Di sinilah komentar berubah menjadi usaha untuk mengubah.
Bukan lagi sekadar:
"Saya tidak setuju."
tetapi:
"Kamu harus sadar bahwa kamu salah."
Kemampuan untuk mengatakan "Saya tidak setuju, tetapi itu bukan hidup saya" membutuhkan toleransi terhadap ketidakpastian dan perbedaan.
Orang yang belum memiliki kemampuan tersebut mungkin lebih sering merasa terdorong untuk mengomentari keputusan orang lain.
10. Mengomentari Orang Lain Bisa Menjadi Bagian dari Identitas Mereka
Pada tahap tertentu, kebiasaan dapat menjadi identitas.
Seseorang mungkin mulai melihat dirinya sebagai:
"orang yang kritis",
"orang yang selalu blak-blakan",
"orang yang berani mengatakan kebenaran",
"orang yang tidak takut menegur",
atau
"orang yang bisa melihat keburukan yang tidak dilihat orang lain."
Ketika perilaku tertentu sudah menjadi bagian dari identitas, mengubahnya menjadi lebih sulit.
Sebab, berhenti mengkritik bukan lagi sekadar mengubah kebiasaan. Orang tersebut mungkin merasa seperti kehilangan bagian dari dirinya.
Ia mungkin berkata:
"Saya memang orangnya seperti ini."
Padahal "jujur" tidak harus berarti selalu mengomentari segala sesuatu. "Kritis" tidak harus berarti mencari kesalahan setiap saat. Dan "berani berkata benar" tidak berarti semua kebenaran harus disampaikan dalam setiap situasi.
Kematangan psikologis justru mencakup kemampuan memilih kapan harus berbicara dan kapan lebih baik diam.
Tidak Semua Kritik Itu Buruk
Penting untuk tidak menyederhanakan persoalan ini.
Mengomentari perilaku bermasalah orang lain tidak otomatis berarti seseorang memiliki masalah psikologis.
Ada situasi ketika kritik memang diperlukan.
Misalnya, ketika seseorang melakukan tindakan yang merugikan orang lain, melanggar batas, melakukan kekerasan, melakukan diskriminasi, atau menciptakan konsekuensi serius bagi lingkungan.
Dalam situasi seperti itu, diam bukan selalu tanda kedewasaan.
Yang menjadi persoalan adalah pola, intensitas, tujuan, dan dampaknya.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya ingin memberi tahu bahwa perilaku tersebut telah menyakiti orang lain."
dan:
"Saya harus terus membicarakan betapa buruknya orang itu."
Yang pertama dapat menjadi bentuk kepedulian.
Yang kedua dapat berubah menjadi obsesi terhadap kesalahan orang lain.
Bagaimana Mengetahui Apakah Kritik Sudah Menjadi Kebiasaan yang Tidak Sehat?
Seseorang mungkin perlu melakukan introspeksi ketika ia mulai menyadari beberapa hal berikut:
Ia lebih sering membicarakan kesalahan orang daripada hal positif tentang mereka.
Ia merasa terganggu ketika orang lain membuat keputusan yang berbeda.
Ia sulit berhenti membicarakan seseorang meskipun masalahnya sudah selesai.
Ia merasa puas ketika menemukan kesalahan orang lain.
Ia jarang mempertanyakan kesalahannya sendiri.
Ia sering memberikan nasihat meskipun tidak diminta.
Ia merasa perlu meyakinkan orang lain bahwa dirinya benar.
Ia mudah marah ketika kritiknya tidak diterima.
Ia menganggap diam berarti membiarkan kesalahan.
Percakapan dengan orang lain sering berubah menjadi pembahasan tentang kekurangan pihak ketiga.
Semakin banyak tanda tersebut muncul secara konsisten, semakin besar kemungkinan bahwa masalahnya bukan lagi sekadar "suka memberi pendapat", tetapi sudah menjadi pola perilaku.
Pada Akhirnya, Tidak Semua Hal Harus Dikomentari
Salah satu bentuk kedewasaan emosional adalah kemampuan untuk menentukan mana yang perlu diperhatikan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Kita tidak harus menyukai semua perilaku orang lain.
Kita juga tidak harus setuju dengan semua keputusan mereka.
Namun tidak setiap hal yang kita anggap salah harus mendapatkan komentar dari kita.
Terkadang pertanyaan yang lebih penting bukan:
"Apakah dia salah?"
melainkan:
"Apakah saya perlu melakukan sesuatu tentang kesalahan itu?"
Pertanyaan berikutnya adalah:
"Apakah komentar saya akan membantu?"
Dan yang paling penting:
"Apakah saya mengatakan ini demi kebaikan situasi, atau karena saya ingin merasa lebih benar?"
Kemampuan untuk menahan dorongan mengomentari orang lain bukan berarti menjadi pasif atau tidak peduli.
Sebaliknya, kemampuan tersebut menunjukkan adanya kontrol diri.
Kita belajar bahwa hidup orang lain bukan proyek yang harus kita perbaiki. Kita boleh memberikan masukan ketika memang dibutuhkan, tetapi kita juga perlu memahami batas antara kepedulian dan kebutuhan untuk mengontrol.
Pada akhirnya, semakin matang seseorang secara psikologis, semakin ia menyadari bahwa manusia tidak harus selalu diperbaiki.
Kadang-kadang orang lain perlu belajar dari kesalahannya sendiri.
Dan kadang-kadang, hal paling sehat yang bisa kita lakukan adalah membiarkan mereka menjalani hidupnya, sementara kita kembali memperhatikan kehidupan kita sendiri.
***