← Beranda
Ingin Berhenti Jadi People Pleaser? Kenali 8 Tanda dan Ubah Perilaku Ini
Shania Vivi Armylia PutriJumat, 11 September 2026 | 02.57 WIB
Ilustrasi people pleaser. (Magnific)

 

 

JawaPos.com - People pleaser merupakan kecenderungan seseorang untuk terus mengutamakan keinginan dan kebutuhan orang lain daripada dirinya sendiri.

Sebagai seorang people pleaser mereka biasanya berusaha menghindari konflik dan tidak ingin mengecewakan orang lain, ataupun melihat orang lain kesulitan meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri.

Beberapa ciri-ciri perilaku people pleaser yang sering dijumpai seperti terlalu sering minta maaf, bertahan pada hubungan toxic, menerima beban kerja tambahan, pura-pura bahagia, memberikan pujian berlebih, sampai menganggap diri sendiri kurang berhasil.

Jika anda sedang lelah menjadi seorang people pleaser, beberapa cara berikut dapat diterapkan untuk membantu menghentikan kebiasaan tersebut.

Mengutip dari laman simplypsychology pada (10/9) beberapa cara yang dapat dilakukan untuk berhenti menjadi people pleaser.

  1. Berani berkata “Tidak”

Salah satu cara untuk mulai berhenti menjadi people pleaser adalah dengan berani berkata “Tidak”. Meskipun terdengar sulit, karena berkata ya seperti suatu respon otomatis. Namun, anda bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri, apakah anda benar-benar memiliki waktu, energi, dan keinginan untuk menyanggupi permintaan tersebut. Jika anda belum merasa yakin, anda bisa memberikan respon “akan saya pikirkan sebentar”, atau “nanti akan saya kabari”. 

  1. Tetapkan batasan

Berhenti menjadi people pleaser bisa anda mulai dari memahami batasan-batasan pribadi. Mulai dari aspek fisik, emosional, mental, dan dalam hubungan. Setelah itu, komunikasikan hal tersebut pada orang lain secara tegas dan sopan. Anda tidak harus selalu mengorbankan kebutuhan pribadi demi memenuhi keinginan orang lain. 

  1. Utamakan prioritas anda

Seorang people pleaser kerap memberikan waktu dan energi untuk membantu orang lain. Untuk mengubah kebiasaan tersebut, tanyakan pada diri sendiri apa yang sebenarnya anda inginkan dalam setiap situasi. Memahami tujuan pribadi akan memudahkan anda untuk menolak permintaan yang memberatkan anda. Sisihkan waktu untuk perawatan diri seperti me time, berolahraga, meditasi, atau hanya sekedar bersantai.

  1. Komunikasi secara asertif

Seorang people pleaser cenderung tidak ingin membuat seseorang merasa kecewa. Akibatnya anda kesulitan menyampaikan pendapat, menentukan pilihan, atau menempatkan kebutuhan pribadi sebagai prioritas. Komunikasi asertif dapat anda lakukan dengan cara berkata jujur, langsung, dan jelas terutama saat anda mulai merasa kewalahan pada diri sendiri.

  1. Menunda respon

People pleaser langsung menerima tawaran karena ingin menyenangkan orang lain. Menunda respons dapat membantu menghentikan kebiasaan people pleasing. Saat memiliki waktu yang tepat untuk mempertimbangkan semuanya, anda dapat memberikan jawaban secara jujur agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

  1. Me time

Sosok people pleaser sering memberikan waktu yang banyak pada orang lain, sehingga akhirnya mereka kelelahan secara fisik dan emosional. Sisihkan waktu setiap hari untuk membaca, meditasi, menjalankan hobi, ataupun bersantai. Jangan biarkan tuntutan orang lain mengorbankan diri anda. Anda berhak berkata tidak untuk memiliki waktu bagi diri sendiri.

  1. Jangan membuat alasan

Orang-orang people pleaser sering membuat alasan untuk membenarkan tindakan dan keputusan mereka. Tanpa terus menerus mengorbankan kebutuhan pribadi demi orang lain, anda juga perlu bertanggungjawab pada diri sendiri dengan tidak harus memberikan penjelasan panjang saat menolak.

  1. Tetapkan ekspektasi yang masuk akal

Pahami bahwa anda tidak mungkin menyenangkan semua orang setiap saat. Merawat diri sendiri bukanlah tindakan yang egois. Memahami bahwa menetapkan ekspektasi yang realistis pada diri sendiri dan orang lain menjadi penting untuk menjaga kestabilan hidup. Anda perlu mengutamakan kebutuhan pribadi dan menjadikan diri sendiri sebagai prioritas yang juga berhak bahagia. 

 ***

EDITOR: Novia Tri Astuti