← Beranda
8 Tips Jitu Menghadapi Kritik Tanpa Bersikap Defensif, Bikin Diri Makin Berkembang
Mohammad Maulana IqbalRabu, 26 Agustus 2026 | 02.02 WIB
tips ampuh menangani kritik tanpa bersikap defensif. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Kritik terkadang terasa tidak nyaman, terlebih jika disampaikan secara langsung dan menyentuh bagian yang memang masih menjadi kekurangan diri.

Namun, cara seseorang menerima kritik dapat menunjukkan kematangan emosional. Alih-alih langsung membantah atau merasa diserang, kritik dapat dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.

Sikap defensif sendiri biasanya muncul ketika seseorang merasa pendapat, kemampuan, atau harga dirinya sedang terancam. Jika tidak dikendalikan, respons tersebut justru dapat membuat komunikasi menjadi semakin sulit.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat delapan cara yang dapat membantu seseorang menerima kritik dengan lebih tenang dan konstruktif.

Baca Juga: Qatar Mempertanyakan AFC terkait Kritikan Kepemimpinan Presiden FIFA

1. Dengarkan kritik dengan pikiran terbuka

Kritik yang terasa menyakitkan belum tentu sepenuhnya buruk. Terkadang, komentar dari orang lain justru membantu kita melihat kekurangan yang sebelumnya tidak disadari.

Karena itu, jangan terburu-buru menolak setiap masukan. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapatnya sampai selesai sebelum menentukan respons.

2. Pisahkan kritik dari harga diri

Salah satu cara menghindari sikap defensif adalah memahami bahwa kritik terhadap tindakan tidak sama dengan penolakan terhadap diri kita secara keseluruhan.

Misalnya, ketika seseorang mengatakan hasil pekerjaan kurang maksimal, hal tersebut tidak otomatis berarti kita adalah pribadi yang tidak kompeten.

Dengan memisahkan antara perilaku, hasil kerja, dan identitas diri, kritik akan lebih mudah diterima tanpa menimbulkan perasaan terancam.

3. Gunakan kemampuan mendengarkan aktif

Jangan mendengarkan kritik hanya untuk mencari celah membalas perkataan orang lain. Cobalah benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan.

Berikan perhatian penuh, hindari memotong pembicaraan, dan pastikan kita memahami inti persoalannya. Cara ini juga dapat membuat percakapan berlangsung lebih tenang karena pemberi kritik merasa didengarkan.

4. Beri jeda sebelum memberikan respons

Kritik yang datang secara tiba-tiba dapat memicu emosi. Dalam kondisi seperti itu, memberikan jawaban spontan sering kali justru memperburuk keadaan.

Tidak ada salahnya mengambil beberapa detik untuk menarik napas dan menata pikiran. Setelah emosi lebih terkendali, barulah berikan tanggapan yang rasional.

5. Jangan ragu meminta penjelasan

Tidak semua kritik disampaikan secara jelas. Jika seseorang mengatakan bahwa sikap atau pekerjaan kita bermasalah, tanyakan bagian mana yang dianggap perlu diperbaiki.

Pertanyaan sederhana seperti, “Bisa dijelaskan bagian mana yang menurutmu perlu diperbaiki?” dapat membantu mengubah kritik yang samar menjadi masukan yang lebih konkret.

Dengan begitu, kita tidak hanya memahami masalah, tetapi juga mengetahui langkah perbaikannya.

6. Hargai orang yang memberikan masukan

Menerima kritik dengan ucapan terima kasih bukan berarti kita harus menyetujui semua yang dikatakan.

Namun, jika kritik tersebut diberikan dengan niat membantu, menghargai keberanian orang tersebut untuk memberikan masukan dapat menjaga komunikasi tetap sehat.

Respons sederhana seperti, “Terima kasih sudah mengingatkan”, juga dapat meredakan ketegangan dalam percakapan.

7. Evaluasi kembali setelah percakapan

Setelah menerima kritik, jangan langsung melupakannya. Luangkan waktu untuk memikirkan apakah ada bagian dari masukan tersebut yang memang benar dan perlu diperbaiki.

Tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah. Pilah mana yang relevan, kemudian gunakan bagian yang bermanfaat sebagai bahan evaluasi.

Dengan cara ini, kritik tidak berhenti sebagai percakapan, tetapi bisa menghasilkan perubahan nyata.

8. Bangun pola pikir untuk terus berkembang

Kunci menghadapi kritik dengan sehat adalah memiliki growth mindset, yakni keyakinan bahwa kemampuan seseorang masih dapat berkembang melalui proses belajar dan pengalaman.

Kesalahan tidak harus dianggap sebagai bukti kegagalan. Begitu pula kritik tidak selalu berarti serangan.

Ketika dipandang sebagai informasi untuk berkembang, masukan justru dapat menjadi salah satu alat untuk meningkatkan kemampuan dan memperbaiki kualitas diri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho