JawaPos.com – Menerima kritik dengan tenang bukan perkara mudah. Tidak sedikit orang yang spontan membantah, mencari alasan, atau merasa dirinya sedang diserang ketika mendapat komentar mengenai pekerjaan maupun perilakunya.
Padahal, kritik tidak selalu dimaksudkan untuk menjatuhkan. Jika disampaikan dengan tujuan memperbaiki, sebuah masukan justru dapat menjadi bahan evaluasi yang membantu seseorang berkembang.
Kemampuan mengendalikan respons ketika menerima kritik juga berkaitan dengan kecerdasan emosional. Alih-alih langsung bereaksi berdasarkan perasaan, seseorang dapat mengambil jeda, memahami maksud lawan bicara, kemudian menentukan respons yang lebih tepat.
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Sebagian Orang Tidak Bisa Menerima Kritik Menurut Psikologi, Apa Sajakah Itu?
Sejumlah panduan mengenai cara menghadapi kritik juga menekankan pentingnya mendengarkan secara sungguh-sungguh, tidak buru-buru membela diri, menunda reaksi ketika emosi sedang tinggi, serta menggunakan kritik sebagai bahan pembelajaran.
Lantas, apa saja cara yang dapat dilakukan agar tidak mudah bersikap defensif ketika menerima kritik?
Dilansir dari geediting, berikut ulasan selengkapnya.
1. Dengarkan Kritik dengan Pikiran Terbuka
Langkah pertama adalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapatnya sampai selesai.
Ketika mendapat kritik, seseorang biasanya terdorong untuk segera menyusun pembelaan. Kebiasaan tersebut justru dapat membuat inti persoalan terlewat.
Cobalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Perhatikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan dan bagian mana dari kritik tersebut yang mungkin memang perlu diperbaiki.
Masukan yang terasa kurang menyenangkan sekalipun dapat membantu menemukan kekurangan yang sebelumnya tidak disadari.
2. Pisahkan Kritik dari Harga Diri
Kritik terhadap pekerjaan atau perilaku tidak otomatis menjadi penilaian terhadap diri Anda secara keseluruhan.
Misalnya, ketika atasan mengatakan sebuah pekerjaan belum memenuhi standar, hal tersebut tidak berarti Anda adalah orang yang tidak kompeten. Bisa jadi, yang perlu diperbaiki hanyalah metode kerja, ketelitian, atau hasil dari tugas tertentu.
Dengan memisahkan antara kesalahan dalam suatu tindakan dan nilai diri sebagai individu, seseorang akan lebih mudah menerima masukan tanpa merasa harga dirinya sedang direndahkan.
3. Gunakan Kemampuan Mendengarkan Aktif
Mendengarkan aktif berarti benar-benar berusaha memahami pesan yang disampaikan, bukan sekadar diam sambil menunggu kesempatan untuk membalas.
Saat menerima kritik, hindari memotong pembicaraan atau langsung mencari kelemahan dari argumen orang lain.
Jika diperlukan, ulangi inti pembicaraan untuk memastikan tidak terjadi kesalahpahaman. Cara sederhana seperti ini dapat membuat percakapan menjadi lebih produktif karena kedua pihak mempunyai pemahaman yang sama mengenai persoalan yang sedang dibahas.
4. Beri Jeda Sebelum Menjawab
Tidak semua kritik harus langsung dijawab saat itu juga.
Ketika emosi sedang meningkat, respons yang keluar sering kali lebih dipengaruhi rasa tersinggung daripada pertimbangan yang matang. Karena itu, mengambil jeda beberapa saat dapat membantu mengendalikan situasi.
Tarik napas, tenangkan diri, lalu pikirkan kembali apa yang baru saja disampaikan. Bahkan dalam komunikasi tertulis, menunda beberapa waktu sebelum mengirim balasan dapat mencegah munculnya respons yang nantinya disesali.
Perbedaan antara reaksi dan respons terletak pada adanya ruang untuk berpikir sebelum bertindak.
5. Jangan Ragu Meminta Penjelasan
Tidak semua kritik disampaikan secara jelas. Ada kalanya seseorang hanya mengatakan bahwa pekerjaan kita kurang baik tanpa memberikan alasan atau contoh yang spesifik.
Daripada langsung membantah, mintalah penjelasan.
Pertanyaan seperti, “Bagian mana yang menurut Anda perlu diperbaiki?” atau “Bisa diberikan contoh agar saya lebih memahami maksudnya?” dapat membantu memperjelas persoalan.
Dengan begitu, kritik yang awalnya terasa samar bisa berubah menjadi masukan yang lebih konkret dan mudah ditindaklanjuti. Meminta klarifikasi juga menjadi bagian penting dalam komunikasi yang terbuka.
6. Hargai Orang yang Memberikan Masukan
Mengucapkan terima kasih setelah menerima kritik mungkin terdengar sederhana, tetapi sikap tersebut dapat mengubah suasana percakapan.
Memberikan masukan secara jujur terkadang membutuhkan keberanian, terutama ketika pemberi kritik khawatir pendapatnya akan membuat hubungan menjadi tidak nyaman.
Jika kritik memang disampaikan untuk membantu, tunjukkan bahwa Anda menghargai niat tersebut. Tidak berarti Anda harus menyetujui seluruh pendapat yang diberikan, tetapi Anda dapat menghargai kesempatan untuk mendengar sudut pandang lain.
Sikap seperti ini juga membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka di kemudian hari.
7. Evaluasi Kritik Setelah Percakapan Selesai
Kritik sebaiknya tidak berhenti sebagai percakapan yang kemudian dilupakan.
Setelah suasana hati kembali tenang, coba pikirkan kembali poin-poin yang disampaikan. Apakah ada bagian yang memang benar? Apakah kesalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya? Dan apa yang dapat dilakukan agar hal serupa tidak terulang?
Tidak semua kritik harus diterima mentah-mentah. Namun, setiap masukan layak dipertimbangkan secara objektif sebelum diputuskan apakah memang relevan atau tidak.
Dengan melakukan evaluasi, kritik dapat berubah menjadi bahan introspeksi yang berguna.
8. Bangun Pola Pikir untuk Terus Berkembang
Salah satu cara terbaik untuk menghadapi kritik adalah melihat diri sebagai seseorang yang masih dapat belajar.
Kesalahan bukan tanda bahwa kemampuan seseorang tidak akan berkembang. Sebaliknya, kekurangan dapat menjadi titik awal untuk memperbaiki keterampilan dan cara berpikir.
Pola pikir semacam ini membuat seseorang tidak terlalu takut terhadap kritik. Masukan tidak lagi dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai informasi yang dapat digunakan untuk melakukan perbaikan.
Pada akhirnya, kemampuan menerima kritik bukan berarti harus menyetujui semua perkataan orang lain. Yang lebih penting adalah mampu mendengarkan, mempertimbangkan, dan mengambil bagian yang memang bermanfaat.
Kritik yang tepat dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kemampuan, sedangkan kritik yang tidak relevan dapat disikapi dengan tenang tanpa harus dibalas secara emosional.
Dengan demikian, belajar menerima kritik sebenarnya merupakan bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih matang. Semakin mampu mengendalikan emosi dan menilai masukan secara objektif, semakin besar pula peluang seseorang untuk berkembang.