← Beranda
Bukan Hal Normal! 8 Perilaku Ini Akan Tumbuh pada Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua yang Belum Dewasa Emosional
Vindi Rayinda AyudyaSabtu, 11 Juli 2026 | 12.56 WIB
Ilustrasi orang tua dan anak. (pexels)

 

 

JawaPos.com - Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan kesehatan emosional anak. 

Namun, tidak semua orang tua memiliki kematangan emosional yang cukup untuk membangun hubungan yang sehat dengan buah hati mereka. 

Tanpa disadari, pola asuh dari orang tua yang belum dewasa secara emosional dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang memengaruhi cara anak berpikir, merasakan, hingga menjalin hubungan dengan orang lain.

Dalam banyak kasus, anak yang tumbuh di lingkungan seperti ini tidak selalu menyadari bahwa perilaku yang mereka anggap biasa sebenarnya merupakan respons terhadap pengalaman masa kecil yang kurang sehat. 

Mereka belajar menekan emosi, mengutamakan kebutuhan orang lain, atau terus-menerus mencari validasi demi mendapatkan penerimaan.

Dampak tersebut bahkan bisa terbawa hingga usia dewasa dan memengaruhi kehidupan sosial, karier, hingga hubungan asmara. 

Karena itu, mengenali tanda-tandanya menjadi langkah penting agar seseorang dapat memahami akar dari perilaku yang dimilikinya sekaligus mulai membangun proses penyembuhan.

Dirangkum dari laman Your Tango, berikut delapan perilaku yang kerap berkembang pada anak yang dibesarkan oleh orang tua yang belum dewasa secara emosional.

1. Sulit Mempercayai Orang Lain

Anak yang tumbuh bersama orang tua yang tidak konsisten secara emosional sering kali mengalami kebingungan dalam memahami rasa aman. 

Di satu waktu mereka mendapatkan kasih sayang, tetapi di waktu lain justru menerima kritik, kemarahan, atau penolakan tanpa alasan yang jelas.

Pengalaman tersebut membuat mereka belajar bahwa kedekatan emosional bisa berubah menjadi sumber rasa sakit. 

Akibatnya, ketika dewasa mereka cenderung kesulitan membuka diri kepada orang lain.

Mereka selalu mempertanyakan niat baik seseorang, khawatir akan dikecewakan, bahkan memilih menjaga jarak meski sebenarnya membutuhkan dukungan emosional.

Dalam hubungan pertemanan maupun percintaan, rasa percaya menjadi sesuatu yang sulit dibangun. 

Mereka lebih memilih mengandalkan diri sendiri daripada mengambil risiko terluka kembali.

2. Selalu Berusaha Menyenangkan Semua Orang

Salah satu ciri paling umum adalah munculnya kebiasaan menjadi people pleaser. Anak belajar bahwa kasih sayang hanya akan diterima ketika mereka mampu memenuhi harapan orang tua.

Karena terbiasa hidup dalam tekanan tersebut, mereka tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengatakan "tidak". Mereka lebih memilih mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kebahagiaan sendiri demi membuat orang lain puas.

Di balik sikap yang tampak baik hati, sebenarnya terdapat rasa takut akan penolakan. Mereka khawatir jika menolak permintaan seseorang, hubungan tersebut akan berakhir atau mereka dianggap tidak layak dicintai.

Perilaku ini sering menyebabkan kelelahan emosional karena mereka terus mengutamakan kebutuhan orang lain dibandingkan diri sendiri.

3. Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri

Orang tua yang belum matang secara emosional sering memberikan kritik tanpa diimbangi penghargaan atau dukungan. Lama-kelamaan, suara kritik tersebut berubah menjadi dialog internal yang terus mengikuti anak hingga dewasa.

Mereka merasa tidak pernah cukup baik. Sekecil apa pun kesalahan dianggap sebagai bukti kegagalan diri.

Kesuksesan pun sering kali sulit dinikmati karena mereka lebih fokus pada kekurangan daripada pencapaian yang telah diraih.

Pola pikir seperti ini meningkatkan risiko stres, kecemasan, bahkan kehilangan rasa percaya diri dalam berbagai aspek kehidupan.

4. Sulit Mengenali dan Mengungkapkan Perasaan

Di lingkungan keluarga yang tidak sehat secara emosional, anak sering kali tidak diberi ruang untuk mengekspresikan perasaannya.

Tangisan dianggap berlebihan, kemarahan dipandang sebagai bentuk pembangkangan, sementara rasa sedih diabaikan.

Akibatnya, mereka tumbuh tanpa kemampuan memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Ketika menghadapi konflik, mereka lebih memilih memendam semuanya daripada membicarakannya.

Kesulitan mengenali emosi ini dapat menghambat komunikasi dalam hubungan dan membuat mereka rentan mengalami tekanan psikologis.

5 . Merasa Bertanggung Jawab atas Kebahagiaan Orang Lain

Tidak sedikit orang tua yang secara tidak sadar menjadikan anak sebagai tempat melampiaskan beban emosional mereka.

Anak akhirnya merasa bertugas memperbaiki suasana hati orang tua, menjadi pendengar utama, bahkan memikul masalah yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.

Saat dewasa, pola tersebut terus terbawa. Mereka merasa bersalah ketika melihat orang lain sedih dan selalu berusaha menjadi penyelamat.

Padahal, setiap individu memiliki tanggung jawab atas emosinya sendiri. Memikul beban semua orang justru membuat seseorang kehilangan batas yang sehat dalam hubungan.

6. Sulit Menetapkan Batasan

Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang mengabaikan privasi atau kebutuhan emosionalnya sering kali tidak memahami pentingnya batasan pribadi.

Mereka terbiasa mengalah agar konflik tidak terjadi. Akibatnya, ketika orang lain bersikap tidak adil, mereka cenderung diam dan menerimanya.

Ketidakmampuan menetapkan batas membuat mereka lebih mudah dimanfaatkan, baik dalam lingkungan kerja, pertemanan, maupun hubungan romantis.

Belajar mengatakan "cukup" atau "tidak" menjadi tantangan besar karena mereka merasa tindakan tersebut identik dengan sikap egois.

7. Takut Melakukan Kesalahan

Orang tua yang belum dewasa secara emosional sering memberikan hukuman atau kemarahan berlebihan terhadap kesalahan kecil.

Anak akhirnya tumbuh dengan keyakinan bahwa gagal adalah sesuatu yang memalukan.

Ketika dewasa, mereka cenderung perfeksionis dan takut mencoba hal baru karena khawatir melakukan kesalahan.

Bahkan keputusan sederhana pun sering dipenuhi keraguan. Mereka terus memikirkan kemungkinan terburuk sebelum bertindak.

Rasa takut ini dapat menghambat perkembangan diri dan membuat peluang besar terlewatkan hanya karena takut gagal.

8. Selalu Mencari Pengakuan dari Orang Lain

Kurangnya apresiasi selama masa kecil membuat anak tumbuh dengan kebutuhan besar terhadap validasi eksternal.

Mereka merasa berharga hanya ketika dipuji, diterima, atau diakui oleh orang lain.

Akibatnya, kebahagiaan menjadi sangat bergantung pada penilaian lingkungan. Kritik kecil saja dapat membuat mereka kehilangan kepercayaan diri.

Padahal, penghargaan terhadap diri sendiri seharusnya berasal dari dalam, bukan semata-mata dari penilaian orang lain.

Membangun rasa percaya diri yang sehat membutuhkan proses memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh pujian ataupun persetujuan orang lain.

Mengenali Luka Emosional adalah Langkah Awal untuk Pulih

Tumbuh bersama orang tua yang belum dewasa secara emosional bukan berarti seseorang akan selamanya terjebak dalam pola yang sama. Kesadaran terhadap pengalaman masa lalu justru menjadi langkah awal untuk membangun kehidupan yang lebih sehat.

Melalui refleksi diri, belajar memahami emosi, menetapkan batasan yang sehat, hingga mencari bantuan profesional jika diperlukan, setiap orang memiliki kesempatan untuk memutus rantai pola asuh yang tidak sehat.

Dengan demikian, luka masa kecil tidak harus menjadi warisan yang terus dibawa hingga generasi berikutnya. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran berharga untuk membangun hubungan yang lebih hangat, penuh empati, dan sehat di masa depan.

***

 
EDITOR: Novia Tri Astuti