← Beranda
Bukan Sekadar Liburan! Penelitian Ungkap Seberapa Sering Tubuh dan Pikiran Butuh Istirahat dari Tekanan Kerja, Ternyata Lebih Sering dari yang Dibayangkan
Zulfa Putri HardiyatiMinggu, 26 April 2026 | 06.11 WIB
Bukan Sekadar Liburan Biasa: Penelitian Ungkap Seberapa Sering Tubuh dan Pikiran Butuh Istirahat dari Tekanan Kerja—Ternyata Lebih Sering dari yang Dibayangkan (PEXELS)

JawaPos.com - Dalam ritme kehidupan modern yang terus bergerak tanpa henti, banyak orang terjebak dalam pola kerja yang melelahkan tanpa benar-benar memberi ruang untuk bernapas.

Hari demi hari diisi dengan tanggung jawab, target, dan tekanan yang perlahan menggerus energi, baik secara fisik maupun mental.

Dilansir dari YourTango, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tubuh dan pikiran manusia sebenarnya membutuhkan jeda yang jauh lebih sering dari yang selama ini dijalani kebanyakan orang.

Istirahat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga keseimbangan hidup.

Berikut beberapa temuan penting yang mengungkap betapa pentingnya mengambil waktu libur secara rutin:

1.  Liburan ideal dilakukan secara berkala untuk memulihkan energi
Penelitian menunjukkan bahwa seseorang sebaiknya mengambil cuti setidaknya setiap dua bulan sekali.
Ini mungkin terdengar sulit dilakukan, tetapi kenyataannya tubuh membutuhkan waktu pemulihan yang konsisten.

Liburan tidak harus selalu panjang atau mewah. Bahkan jeda singkat dari rutinitas harian sudah cukup untuk membantu tubuh kembali segar dan siap menghadapi tekanan berikutnya.

2. Istirahat rutin terbukti menurunkan stres dan meningkatkan kinerja
Menurut penelitian tersebut, liburan yang dilakukan secara teratur mampu membantu proses pemulihan dari kelelahan kerja.

Tidak hanya mengurangi stres, tetapi juga meningkatkan fokus, produktivitas, dan kesejahteraan secara keseluruhan. Ketika seseorang memberi ruang untuk dirinya sendiri, kualitas kerja justru menjadi lebih baik dibandingkan terus memaksakan diri tanpa henti.

3. Kurang liburan berisiko pada kesehatan serius
Dampak dari jarang berlibur ternyata tidak bisa dianggap sepele.
Dalam studi terhadap ratusan wanita, mereka yang jarang mengambil cuti memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami masalah kesehatan, termasuk gangguan jantung.

 Ini menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki batas, dan mengabaikannya bisa berakibat fatal dalam jangka panjang.

4. Manfaat liburan tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan emosional
Menghabiskan waktu di luar rutinitas, seperti berada di alam atau sekadar menjauh dari layar kerja, dapat membantu menenangkan pikiran.

Liburan memberi kesempatan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri—sesuatu yang sering hilang di tengah kesibukan. Perasaan lebih tenang, bahagia, dan seimbang menjadi hasil alami dari jeda yang cukup.

5. Banyak pekerja justru tidak memanfaatkan hak cuti mereka
Ironisnya, meski manfaatnya besar, banyak karyawan tidak menggunakan jatah cuti yang dimiliki.
Alasannya beragam, mulai dari merasa tidak perlu, takut pekerjaan menumpuk, hingga khawatir membebani rekan kerja. Padahal, cuti diberikan bukan tanpa alasan—melainkan sebagai bagian penting dari menjaga kesehatan dan produktivitas jangka panjang.

Pada akhirnya, liburan bukanlah bentuk kemewahan atau pelarian dari tanggung jawab. Justru, itu adalah cara untuk menjaga diri agar tetap mampu menjalani kehidupan dengan optimal.

Mengambil jeda, meski singkat, adalah investasi untuk kesehatan, kebahagiaan, dan keberlanjutan hidup itu sendiri. Dalam dunia yang menuntut kita untuk terus bergerak, mungkin justru berhenti sejenak adalah langkah paling bijak yang bisa diambil.

EDITOR: Hanny Suwindari