JawaPos.com – Ketidakpastian ternyata bukan hanya bagian dari hidup manusia, tetapi juga bahan bakar bagi otak untuk belajar. Peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) menemukan sekelompok sel otak yang justru “hidup” ketika hasil suatu keputusan tidak bisa dipastikan. Temuan ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana otak manusia beradaptasi dan belajar dari situasi yang tak terduga.
Menurut laporan dari UCLA, sel-sel ini berada di bagian depan otak yang disebut orbitofrontal cortex, area yang berperan dalam pengambilan keputusan, emosi, dan penilaian terhadap imbalan (reward). Sel-sel tersebut menunjukkan aktivitas tertinggi ketika seseorang (atau dalam penelitian ini, seekor tikus) dihadapkan pada pilihan dengan hasil yang belum tentu.
“Kalau kita tahu persis apa yang akan terjadi, kita tidak perlu belajar atau beradaptasi,” ujar Alicia Izquierdo, profesor neurosains perilaku dari Departemen Psikologi UCLA yang juga penulis senior riset tersebut, dikutip dari Nature Communications. “Namun karena dunia nyata penuh ketidakpastian, sel-sel di area orbitofrontal ini tampaknya menjadi kunci untuk belajar dan beradaptasi.”
Baca Juga: Bukan Cuma Pancaindra, Penelitian Ungkap Otak Manusia Bisa Optimal dengan Tujuh Indra
Dalam penelitian yang dilakukan pada tikus, tim ilmuwan memantau aktivitas neuron di orbitofrontal cortex saat hewan-hewan tersebut menjalani serangkaian tugas di layar sentuh untuk mendapatkan hadiah makanan. Awalnya, setiap tugas menghasilkan hadiah. Namun, lama-kelamaan peluang mendapat hadiah dibuat tidak menentu: kadang 70 persen, kadang hanya 30 persen.
Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa sebagian neuron menjadi semakin aktif justru ketika hasilnya tidak pasti. Saat neuron-neuron tersebut dinonaktifkan menggunakan metode kimiawi, kemampuan tikus untuk belajar dan menyesuaikan diri terhadap perubahan pola hadiah menurun drastis.
“Tikus-tikus itu jadi kurang mampu mengikuti strategi yang adaptif,” ujar Juan Luis Romero-Sosa, mahasiswa doktoral UCLA sekaligus penulis utama studi tersebut. “Biasanya, ketika suatu pilihan memberi hadiah, mereka akan mengulanginya. Tapi setelah sel di orbitofrontal cortex dimatikan, perilaku itu berkurang.”
Baca Juga: Otak Manusia Masih Lebih Unggul dari AI? Begini Kata Ilmuwan
Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan adanya keseimbangan halus antara dua hal penting dalam berpikir: fleksibilitas dan ketepatan. “Kalau terlalu fleksibel, kita kehilangan presisi. Tapi kalau terlalu kaku, kita sulit beradaptasi,” jelas Izquierdo.
Menariknya, penelitian juga menemukan bahwa area otak lain, yakni secondary motor cortex, justru lebih aktif saat hasil keputusan sudah pasti, kebalikan dari orbitofrontal cortex. Ini memperkuat bukti bahwa otak memiliki “pembagian tugas” dalam menghadapi kepastian dan ketidakpastian.
Penemuan ini bukan sekadar memperkaya pengetahuan tentang cara kerja otak, tetapi juga berpotensi membuka jalan bagi terapi baru untuk gangguan mental. Menurut laporan dari Neuroscience News, gangguan seperti kecemasan, PTSD, dan kecanduan sering kali ditandai dengan pola pikir yang kaku dan kesulitan menghadapi ketidakpastian.
Dengan memahami cara kerja sel otak yang “menyukai” ketidakpastian ini, ilmuwan berharap dapat mengembangkan pendekatan baru untuk melatih kembali otak agar lebih fleksibel.
“Dalam banyak hal, hidup memang tidak pasti. Tapi justru di sanalah otak kita berkembang,” kata Izquierdo.
Penelitian yang didanai oleh National Institutes of Health (NIH) ini menjadi langkah penting dalam memahami bagaimana manusia belajar dari hal-hal yang tidak bisa diprediksi, sebuah kemampuan yang mungkin menjadi kunci untuk bertahan di dunia yang serba berubah.