← Beranda
Punya Trust Issues dengan Pasangan? Kenali Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya dalam Hubungan
Aria Maulana SatriyoMinggu, 14 September 2025 | 23.04 WIB
Ilustrasi pasangan yang memiliki trust issues.

 

JawaPos.com – Trust issues adalah tantangan dalam mempercayai seseorang – seringnya pada hubungan romantis – yang diakibatkan pengalaman buruk yang dialami sebelumnya. 

Padahal yang kita ketahui, kepercayaan adalah hal yang penting dalam suatu hubungan terutama dengan pasangan kita. 

“Memangnya kenapa kalau saya tidak mempercayai pasangan saya? Bukannya waspada adalah hal yang baik?”

Baca Juga: Polres Tanjung Perak Surabaya Tangkap Pasangan Sesama Jenis Penyiksa Bocah di Sidoarjo, Ditelantarkan di Pasar Kebayoran Lama Jaksel

Tidak dapat dipungkiri memang waspada adalah hal yang baik tetapi jika dilakukan berlebihan, akan mengganggu kestabilan sebuah hubungan.  

Terbentuknya trust issues dapat muncul karena beberapa faktor yang berakar dari pengalaman buruk di masa lalu. 

Misalnya memiliki mantan pasangan yang mendua saat Anda sedang sibuk dan tidak dapat memberikan perhatian dapat menjadi luka batin yang mendalam dan membentuk trust issue.

Tetapi, artikel ini bukan bertujuan untuk menjadi curahan hati saya jadi mari lanjut ke satu fakta menarik tentang trust issue. 

Nah, Menurut survei Pew Research Center, di Amerika Serikat persentase orang dewasa yang mengatakan “sebagian besar orang bisa dipercaya” turun dari 46% pada tahun 1972 menjadi hanya 34% pada 2018, dan angka itu tetap stagnan di 34% pada survei tahun 2023–2024. 

Data ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan, baik dalam masyarakat maupun dalam hubungan personal, semakin menurun.

Dengan kata lain, trust issues bukan sekadar rasa waspada, melainkan pola yang bisa berakar dari pengalaman pribadi maupun perubahan sosial.

Ingin tahu lebih dalam lagi tentang trust issue? Simak penjelasan berikut yang dilansir dari Verywell Mind dan Psychcentral.

1. Penyebab Trust Issue

Kenapa seseorang sulit percaya pada pasangannya? Jawabannya tidak sesederhana karena “sifat bawaan.” 

Sebuah studi tahun 2017 menunjukkan bahwa kecenderungan untuk percaya memang bisa dipengaruhi faktor genetik. 

Tetapi sebaliknya, rasa tidak percaya justru lebih sering terbentuk dari faktor lingkungan, pengalaman hidup, dan pola asuh keluarga.

Psikolog Erik Erikson bahkan menegaskan bahwa tahun-tahun awal kehidupan anak adalah fondasi utama terbentuknya rasa percaya atau rasa curiga. 

Anak yang tumbuh di lingkungan aman, penuh perhatian, dan konsisten, biasanya lebih mudah menaruh kepercayaan di masa dewasa. 

Sebaliknya, pengalaman dikhianati, diabaikan, atau hidup di tengah konflik bisa meninggalkan luka batin yang membuat seseorang sulit mempercayai orang lain.

Beberapa faktor utama penyebab trust issues antara lain:

Pengkhianatan dalam hubungan – Infidelity atau perselingkuhan menjadi salah satu luka paling dalam yang bisa membuat seseorang trauma dan kesulitan percaya di hubungan berikutnya.

Konflik dalam keluarga – Anak yang tumbuh menyaksikan orang tuanya saling curiga atau berbohong akan membawa pola ketidakpercayaan itu dalam hubungan mereka sendiri kelak.

Penolakan sosial sejak kecil – Ditolak oleh teman sebaya, apalagi tanpa alasan yang jelas, bisa menanamkan rasa takut akan penolakan dan sulit percaya pada orang lain.

Pengalaman traumatis – Trauma masa lalu, terutama yang terjadi saat kecil atau remaja, sering memunculkan rasa takut dikhianati, sulit memaafkan, dan kecenderungan untuk selalu waspada berlebihan.

Gaya keterikatan (attachment style) – Mereka yang memiliki secure attachment lebih mudah memercayai dan memaafkan kesalahan. 

Sebaliknya, orang dengan insecure attachment cenderung penuh kecemasan, mudah curiga, dan sulit merasa aman dalam hubungan.

Pada akhirnya, trust issues bisa datang dari kombinasi faktor-faktor di atas. 

Memahaminya adalah langkah awal untuk menyadari bahwa sulit percaya bukan sekadar “watak,” tapi luka yang bisa diatasi bila dihadapi dengan tepat.

2. Tanda-Tanda Kamu Memiliki Trust Issue

Kalau kamu sering merasa curiga berlebihan pada pasangan, bisa jadi itu bukan sekadar “sifat waspada,” melainkan tanda adanya trust issues. 

Berikut beberapa gejala umum yang biasanya muncul:

Kecemburuan berlebihan & kecurigaan konstan – Rasa cemburu yang terus-menerus, disertai dugaan tanpa dasar (false accusations), membuat hubungan jadi penuh konflik. 

Kamu jadi sulit membedakan mana kekhawatiran realistis dan mana yang hanya ketakutan sendiri.

Rendahnya rasa percaya diri & keraguan pada diri sendiri – Self-doubt sering berjalan beriringan dengan trust issues. Kamu merasa tidak cukup baik, takut dikhianati, dan akhirnya sulit percaya bahwa pasangan benar-benar tulus.

Kecemasan dan kepekaan emosional – Gejala kecemasan seperti jantung berdebar, sulit tidur, atau overthinking bisa muncul. 

Selain itu, orang dengan trust issues cenderung lebih reaktif secara emosional, mudah tersinggung, atau cepat marah pada hal-hal kecil.

Perilaku menghindar atau justru terlalu bergantung – Beberapa orang memilih menarik diri dan bersikap dingin (avoidant behavior), sementara yang lain justru menunjukkan sikap clingy atau terlalu bergantung pada pasangan. 

Keduanya sama-sama menjadi bentuk pertahanan diri yang tidak sehat.

Takut ditinggalkan & kecenderungan codependency – Rasa takut ditinggalkan (abandonment fear) sering membuat seseorang rela bertahan di hubungan yang toxic. 

Hal ini bisa berujung pada codependency, di mana kamu merasa hidupmu hanya bergantung pada validasi pasangan.

Kesulitan untuk memaafkan – Trust issues juga ditandai dengan ketidakmampuan atau keengganan memaafkan, bahkan untuk kesalahan kecil. 

Luka lama yang belum sembuh membuatmu terus membawa beban curiga di setiap hubungan baru.

3. Dampak Trust Issue Pada Hubungan

Trust issues bukan cuma membuat hubungan terasa tidak aman, tapi juga berdampak besar pada cara kita melihat diri sendiri, pasangan, dan dunia di sekitar kita. 

Berikut beberapa dampak yang paling sering muncul:

Selalu berasumsi yang terburuk – Orang dengan trust issues cenderung langsung mengira ada niat buruk di balik sikap orang lain, meski sebelumnya orang itu sudah menunjukkan konsistensi dan ketulusan. 

Misalnya, saat ada yang menawarkan bantuan, kamu justru berpikir ia pasti mengharapkan imbalan di kemudian hari.

Tingkat kecurigaan yang tinggi – Rasa curiga berlebihan bikin kamu sulit percaya niat baik orang lain. 

Bahkan dalam hal kecil, kamu merasa ada yang disembunyikan atau ada potensi disakiti, meski sebenarnya tidak ada bukti yang jelas.

Self-sabotage dalam hubungan – Trust issues sering membuat seseorang melakukan sabotase dalam hubungan. 

Contohnya, kamu memilih bersikap dingin, menarik diri, atau bahkan memutuskan hubungan lebih cepat karena takut dikhianati di kemudian hari.

Sulit membangun hubungan sehat – Akibat sulit percaya, hubungan yang kamu jalani sering terasa dangkal atau penuh jarak. 

Trust issues membuatmu kehilangan kesempatan merasakan kedekatan emosional yang tulus dan hubungan jangka panjang yang stabil.

Ketidakmampuan memaafkan – Bila kepercayaan pernah dikhianati, rasa sakit itu dibawa terus ke depan. 

Sulitnya memberi maaf membuat kamu hidup dalam bayang-bayang luka lama, yang akhirnya menimbulkan perasaan bersalah, malu, atau pahit hati.

Fokus berlebihan pada hal negatif – Alih-alih menghargai kebaikan pasangan atau orang terdekat, kamu justru lebih fokus pada kekurangan, kesalahan kecil, atau potensi buruk yang bisa terjadi.

4. Strategi Menghadapi Trust Issues

Menghadapi trust issues memang bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti mustahil untuk dipulihkan. 

Dengan langkah-langkah yang tepat, Anda bisa membangun kembali kepercayaan baik pada diri sendiri maupun orang lain. Berikut beberapa strategi yang dapat membantu:

Bangun kepercayaan secara perlahan – Tidak ada yang instan dalam membangun kepercayaan. 

Memberi kesempatan kecil untuk orang lain membuktikan dirinya akan lebih sehat daripada membuka diri secara berlebihan sejak awal. 

Misalnya, Anda bisa mulai dengan berbagi hal sederhana tentang diri Anda, lalu perlahan meningkat ke hal yang lebih pribadi.

Komunikasi terbuka dan jujur – “Komunikasi yang efektif adalah kunci membangun kepercayaan,” ujar Dr. Kamran Eshtehardi, seorang psikolog klinis. 

Bicarakan tentang tantangan Anda dalam mempercayai orang lain tanpa menyalahkan. 

Gunakan kalimat seperti “Saya merasa kecewa ketika…” dibanding “Kamu membuat saya kecewa.” Dengan begitu, pasangan atau orang terdekat bisa lebih memahami posisi Anda.

Bedakan antara kepercayaan dan kontrol – Seringkali trust issues muncul karena keinginan berlebihan untuk mengontrol situasi. 

Padahal, kontrol yang berlebihan justru dapat merusak hubungan. Belajar melepas sedikit demi sedikit kendali dapat membuka ruang bagi kepercayaan yang lebih sehat.

Beri kesempatan orang lain untuk berubah – Jika ketidakpercayaan muncul karena kebiasaan orang lain, komunikasikan ekspektasi dengan jelas. 

Misalnya: “Saya merasa tidak dihargai ketika kamu terlambat. Sabtu nanti, aku ingin kamu datang tepat waktu.” 

Jika kebiasaan buruk itu terus berulang meskipun sudah dibicarakan, mungkin saatnya mempertimbangkan ulang hubungan tersebut.

Prioritaskan membangun kepercayaan dalam hubungan – Kepercayaan adalah pondasi hubungan sehat, baik itu romantis maupun pertemanan. 

Jadikan membangun trust sebagai prioritas, bahkan jika terasa sulit. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti konsistensi dalam perkataan dan perbuatan.

Validasi perasaan Anda – Saat rasa curiga muncul, coba periksa kembali apakah perasaan itu berakar pada bukti nyata atau hanya ketakutan lama yang terulang. 

Menulis jurnal bisa membantu Anda melihat pola distrust yang mungkin sebenarnya tidak berdasar.

Cari dan tempatkan diri di orang-orang yang layak dipercaya – Alih-alih menutup diri, coba temukan lingkaran yang benar-benar bisa Anda percaya. 

Mulailah dengan langkah kecil, misalnya berbagi cerita ringan dengan teman yang selalu konsisten mendukung Anda. Dari situ, Anda bisa perlahan memperluas lingkaran kepercayaan.

Akhir Kata

Trust issues memang bisa menjadi penghalang besar dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis. 

Namun, perlu diingat bahwa setiap orang memiliki peluang untuk memulihkan diri dan belajar mempercayai kembali. 

Konseling atau terapi dapat menjadi langkah penting, bukan hanya untuk memahami akar masalah, tetapi juga untuk menemukan cara-cara baru dalam menjalin hubungan yang lebih sehat.

Pada akhirnya, kepercayaan adalah fondasi dari setiap hubungan. Dengan usaha yang konsisten, komunikasi terbuka, dan keberanian untuk memberi kesempatan, 

Anda bisa membangun kembali rasa percaya yang sempat hilang baik kepada orang lain maupun pada diri sendiri.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho