← Beranda
Saat Pekerjaan Tak Lagi Jadi Bagian Hidup, Benarkah Identitas Diri Ikut Hilang?
Oliviea Novrimada ZahraSenin, 8 September 2025 | 19.44 WIB
Ilustrasi pekerja wanita yang sedang bimbang. (Pexels)

 

JawaPos.com – Sejak kecil kita diajarkan bahwa pekerjaan bukan sekadar penghasilan, tapi cerminan siapa diri kita sebenarnya.

Ketika pekerjaan itu menghilang entah karena pensiun, resign, atau di PHK, seringkali muncul perasaan seolah kehilangannya bukan hanya soal pekerjaan, tetapi identitas yang melekat pada diri kita.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi dalam benak dan jiwa seseorang ketika pekerjaan tak lagi menjadi bagian hidup mereka?

Ketika ‘Saya Bukan Siapa-siapa’

Banyak orang menyadari bahwa kehilangan pekerjaan bukan sekadar kehilangan rutinitas harian atau penghasilan.

Justru, pekerjaan kadang menjadi landasan sosial dan emosional utama mereka.

Artikel di Psychological Science dari Association for Psychological Science (APS) menunjukkan bahwa keamanan pekerjaan sangat terkait dengan citra diri sebagai individu produktif di masyarakat.

Saat pekerjaan hilang, mereka pun merasa seperti keluar dari kelompok sosial ‘pegawai’ dan itu memberi dampak besar pada kesejahteraan psikologis.

Bahkan mereka yang masih bekerja, tapi merasa terancam kehilangan pekerjaan, sudah mulai merasakan penurunan identitas ini.

Baca Juga: 7 Tanda Perempuan Perlahan Kehilangan Identitas Diri dalam Hubungan Menurut Psikologi

Krisis Identitas Muncul Saat Cerita Hidup Terhenti di Tengah Jalan

Emergency Fit menyebut, identitas seseorang terbentuk oleh cerita yang mereka bangun sepanjang hidup. Ini menghubungkan masa lalu, peran sekarang, dan harapan masa depan.

Ketika seseorang berhenti menjalankan profesinya, cerita itu mendadak terhenti. Otomatis, kesatuan dan makna hidup terasa pecah.

Banyak orang kehilangan arah dan merasakan kecemasan mendalam karena plot hidupnya tiba-tiba kosong tanpa pekerjaan sebagai tokoh utamanya.

Kehilangan Jati Diri Lebih Dari Sekadar Pekerjaan

Psychology Today menjelaskan, perasaan seperti ‘Aku tidak tahu siapa aku sekarang’ sering kita dengar saat teman, kolega, atau diri sendiri melewati fase pasca pekerjaan.

Seorang psikolog membagikan kisah seorang sahabat yang selama ini mendefinisikan diri melalui pekerjaannya.

Ketika pekerjaan itu hilang, semua koneksi sosial dan kegiatan hidupnya terasa buyar. Ia menangis, mengatakan, ‘aku tidak tahu siapa diriku lagi’.

Hal ini bukan dramatisasi, melainkan realitas ketika identitas terlalu bergantung pada satu peran.

Cerita di Balik Jati Diri

Era pandemi mengguncang paradigma kerja karena banyak orang berhenti dari pekerjaan lama, dan menyadari tetap utuhnya identitas tidak lagi bergantung pada jabatan.

The Atlantic menyebut mereka yang resign menemukan bahwa identitas dapat diredefinisi, misalnya melalui peran sebagai orangtua, sukarelawan, atau penikmat hidup.

Meski sempat merasa kurang dihargai, mereka mulai melihat diri lebih dari sekadar pekerja.

Pekerjaan menjadi salah satu elemen hidup, bukan satu-satunya pondasi identitas.

Cara Merajut Kembali Identitas yang Retak

Identitas yang terlalu terpaku pada pekerjaan memang rapuh. Namun, ada berbagai cara membangun kembali jati diri dari lembaran baru. Ini beberapa cara menurut Emergency Fit dan Forbes.

Pertama, ramu ‘portofolio identitas’ yang lebih kaya. Ketika terlalu bergantung pada satu peran misalnya hanya sebagai pekerja, itu membuat kesejahteraan psikologis sangat rentan bila peran itu hilang.

Penting untuk mengembangkan identitas lain seperti hobi, relasi sosial, dan peran keluarga agar kita tidak kehilangan pusat jati diri saat satu peran runtuh.

Kedua, lepaskan simbol masa lalu dengan sadar. Contoh seperti mengganti foto profil, menyimpan lencana, atau kartu nama.

Hal ini memberi ruang bagi identitas baru terbentuk. Dengan demikian, kita dapat meredefinisi keberhasilan dan tujuan hidup di luar pekerjaan.

Dari Krisis menuju Kesempatan

Menghilangnya identitas profesional memang terasa seperti kehilangan akar. Namun, krisis itu juga membuka peluang untuk koreksi arah.

Dalam banyak kasus, orang menemukan sisi lain dari dirinya yang lebih autentik dan menyeluruh daripada saat dipaksa memenuhi ekspektasi sosial sebagai pekerja.

Situasi seperti resign demi mendampingi keluarga selama pandemi. Dulu seseorang merasa sebagai ‘pekerja’ dan kini mulai menyebut diri sebagai ‘orang tua yang hadir setiap hari’, ‘relawan komunitas’, atau ‘pencipta waktu berkualitas dengan anak-anaknya’.

Perubahan ini tidak instan, tapi memberi fondasi identitas yang lebih manusiawi dan tahan banting.

Tidak, kehilangan pekerjaan tidak berarti hilangnya identitas. Namun, ketika pekerjaan selama ini menjadi satu-satunya penentu siapa kita, maka perasaan kehilangan itu sangat wajar.

Kunci bertahan adalah membangun identitas yang lebih luas dengan aktivitas, hubungan, hobi, dan nilai yang melekat.

Dengan begitu, setiap dari kita tetap utuh bahkan ketika peran profesional berubah atau hilang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho